5 Alasan Lingkungan Kerja Bisa Membiarkan Perundungan Terus Terjadi

- Rekan kerja kerap memilih diam demi menghindari konflik atau risiko pekerjaan, terutama ketika pelaku punya pengaruh sosial, dekat dengan pimpinan, atau dianggap berprestasi.
- Candaan kasar, pengucilan, dan mempermalukan rekan yang dianggap kebiasaan membuat perundungan dinormalisasi; korban bahkan berisiko dicap terlalu sensitif atau tidak mampu beradaptasi.
- Fokus atasan pada target serta ketiadaan konsekuensi jelas membuat laporan tak tertangani efektif, sementara korban tetap tanpa perlindungan dan pelaku tidak terdorong mengubah perilaku.
Perundungan di tempat kerja tidak selalu terjadi secara terang-terangan. Ada yang dilakukan melalui sindiran, candaan yang merendahkan, pengucilan, hingga perlakuan tidak adil terhadap rekan kerja tertentu. Menariknya, tindakan seperti ini kadang berlangsung cukup lama tanpa ada orang yang benar-benar berusaha menghentikannya. Padahal, bukan berarti orang-orang di sekitarnya tidak mengetahui apa yang sedang terjadi.
Dalam beberapa kasus, lingkungan kerja justru ikut berperan dalam membuat perundungan terus terjadi. Bukan hanya karena keberadaan pelaku, tetapi juga karena sikap rekan kerja, atasan, dan budaya perusahaan yang cenderung membiarkan perilaku tersebut. Lantas, kenapa lingkungan kerja bisa membiarkan perundungan terus terjadi?
1. Banyak orang memilih diam karena tidak ingin terlibat masalah

ilustrasi beberapa orang sedang tertawa (pexels.com/Yan Krukau) Salah satu alasan perundungan di tempat kerja sulit dihentikan adalah karena orang-orang di sekitarnya memilih untuk tidak terlibat. Mereka mungkin mengetahui bahwa seorang rekan kerja diperlakukan tidak adil, tetapi merasa lebih aman jika tidak ikut campur. Sikap seperti ini sebenarnya cukup mudah dipahami. Di lingkungan profesional, seseorang tentu ingin mempertahankan pekerjaannya, menjaga hubungan baik dengan rekan kerja, dan menghindari konflik yang tidak perlu. Membela korban perundungan terkadang dianggap berisiko, terutama jika pelakunya memiliki pengaruh cukup besar.
2. Pelaku perundungan terkadang memiliki posisi yang cukup kuat

ilustrasi korban bullying (pexels.com/Yan Krukau) Tidak semua pelaku perundungan merupakan atasan atau orang yang memiliki jabatan tinggi. Ada juga karyawan biasa yang cukup populer, dekat dengan pimpinan, atau memiliki pengaruh besar dalam kelompok pertemanan di kantor. Posisi sosial semacam ini bisa membuat orang lain enggan menentang perilakunya. Apalagi jika pelaku dikenal sebagai karyawan berprestasi atau seseorang yang dianggap penting bagi perusahaan. Kesalahan yang dilakukan mungkin lebih mudah dimaklumi dibandingkan kesalahan orang lain.
Akibatnya, muncul perlakuan yang tidak seimbang. Korban diminta lebih sabar, tidak terlalu sensitif, atau belajar menyesuaikan diri. Sebaliknya, pelaku justru jarang diminta mempertanggungjawabkan tindakannya. Jika kondisi ini terus berlangsung, bukan tidak mungkin pelaku semakin merasa bebas memperlakukan orang lain sesuka hati.
3. Perundungan sudah dianggap sebagai bagian dari budaya kerja

ilustrasi beberapa orang sedang tertawa (pexels.com/Mikhail Nilov) Ada lingkungan kerja yang terbiasa dengan candaan kasar, saling menjatuhkan, atau mempermalukan rekan kerja di depan banyak orang. Karena sudah berlangsung lama, perilaku tersebut akhirnya dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Karyawan baru yang merasa tidak nyaman mungkin justru dianggap terlalu sensitif. Bahkan, ada anggapan bahwa seseorang harus mampu menghadapi perlakuan semacam itu jika ingin bertahan di dunia kerja.
Padahal, budaya kerja yang sudah terbentuk sejak lama belum tentu merupakan budaya yang sehat. Sesuatu yang dilakukan berulang kali juga tidak otomatis menjadi benar. Masalahnya, ketika perundungan sudah dianggap sebagai kebiasaan, orang-orang cenderung sulit membedakan antara bercanda dan merendahkan orang lain. Korban pun bisa merasa ragu untuk menyampaikan keberatan karena khawatir dianggap tidak mampu beradaptasi.
4. Atasan lebih fokus pada hasil pekerjaan daripada hubungan antarkaryawan

ilustrasi berbicara dengan atasan (unsplash.com/Vitaly Gariev) Dalam dunia kerja, pencapaian target dan produktivitas memang menjadi hal penting. Namun, masalah bisa muncul ketika pimpinan terlalu berfokus pada hasil pekerjaan hingga mengabaikan cara karyawan memperlakukan satu sama lain. Selama pekerjaan selesai tepat waktu dan target perusahaan tercapai, konflik antarkaryawan mungkin dianggap sebagai urusan pribadi. Bahkan, ada atasan yang baru memberikan perhatian ketika masalah tersebut sudah memengaruhi produktivitas tim.
Padahal, perundungan tidak selalu langsung terlihat dampaknya terhadap pekerjaan. Seorang karyawan mungkin masih mampu menyelesaikan tugas dengan baik meskipun setiap hari merasa tidak nyaman berada di kantor. Jika pimpinan hanya menilai kondisi tim berdasarkan hasil pekerjaan, masalah seperti ini bisa berlangsung tanpa penanganan. Lama-kelamaan, karyawan juga belajar bahwa perusahaan tidak terlalu peduli terhadap perlakuan yang mereka terima selama pekerjaan tetap berjalan.
5. Tidak ada konsekuensi yang jelas bagi pelaku perundungan

ilustrasi membahas perundungan antarkaryawan (pexels.com/fauxels) Perundungan juga bisa terus berlangsung karena pelaku tidak pernah mendapatkan konsekuensi yang berarti. Kalaupun ada laporan, penyelesaiannya terkadang hanya berupa teguran atau permintaan agar kedua pihak saling memaafkan. Memang tidak semua konflik di tempat kerja harus berakhir dengan hukuman berat. Namun, perusahaan tetap perlu membedakan antara perselisihan biasa dan perilaku merendahkan yang dilakukan secara berulang.
Ketika pelaku tidak diminta mengubah perilakunya, permintaan maaf saja mungkin tidak cukup untuk menyelesaikan masalah. Apalagi jika setelah kejadian tersebut korban masih harus bekerja bersama orang yang sama tanpa adanya perlindungan. Di sisi lain, karyawan yang menyaksikan situasi tersebut bisa kehilangan kepercayaan terhadap perusahaan. Mereka mungkin berpikir bahwa melaporkan perundungan hanya akan membuang waktu karena tidak ada perubahan nyata.
Pada akhirnya, perundungan di tempat kerja bukan semata-mata persoalan antara pelaku dan korban. Lingkungan yang memilih diam, membenarkan perilaku pelaku, atau mengabaikan laporan juga bisa membuat masalah semakin sulit dihentikan.





![[QUIZ] Susun Buket Bunga Favoritmu, Lalu Temukan Makna di Balik Hatimu](https://image.idntimes.com/post/20260506/14935_badf07cd-f0d9-4298-915b-33e29343a20f.jpg)


![[QUIZ] Lifestyle SpongeBob dkk Ungkap Caramu Memandang Masa Depan](https://image.idntimes.com/post/20260920/1000020680_210133e6-fea1-4f78-b5f3-6f67bf997cb1.jpg)
![[QUIZ] Dari Genre Musik Favorit, Kami Tahu Bagaimana Kecerdasaan Emosionalmu](https://image.idntimes.com/post/20250526/mikhail-seleznev-rmvyzwmpytq-unsplash-120d99068824bc16e20fee794f36b728-dff1d8cf54b3ef4fd200b27f499a35bf.jpg)





![[QUIZ] Pilih Satu Gambar Nailoong, Ini Pesan yang Kamu Butuhkan](https://image.idntimes.com/post/20261018/vs-youtube-engdubfullvertheswapdaynailoongonearth2-youtube-310_99a64b63-8d27-4d62-8bb0-78531bad42ba.jpg)
![[QUIZ] Stiker WA Favoritmu Bisa Menebak Kepribadian Aslimu](https://image.idntimes.com/post/20230713/cara-menghapus-stiker-whatsapp-1-a51c7cd9bb3b8c13490bfb55829a40db.jpg)


![[QUIZ] Tes Bahasa Korea untuk Daftar Beasiswa, Sudah Siap?](https://image.idntimes.com/post/20250113/pexels-karolina-grabowska-6632580-8c042c2cd5a5efdccddb45311f973381.jpg)



![[QUIZ] Desain Nail Art Pilihanmu Tunjukkan Pesonamu yang Terpancar](https://image.idntimes.com/post/20260421/merged-image-2026-04-21t06-21-53_595acdf1-a039-4adb-bcde-e27e0076dd62.png)