Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Alasan Orang Betah Kerja padahal Gak Suka, Bukan Soal Uang

ilustrasi kerja
ilustrasi kerja (vecteezy.com/IVAN SVIATKOVSKYI)

Kerja sering diposisikan sebagai aktivitas yang harus selalu sejalan dengan passion, padahal dalam hidup nyata, banyak orang tetap menjalani kerja yang tidak disukai tanpa merasa sedang terjebak. Situasi ini bukan anomali, melainkan potret keseharian yang jarang dibahas secara jujur. Kerja juga tidak selalu menjadi pusat kebahagiaan, tetapi bisa berfungsi sebagai penyangga hidup yang praktis.

Banyak keputusan bertahan muncul dari pertimbangan sederhana yang tidak terlihat keren di media sosial. Pilihan ini sering kali lahir dari pengalaman hidup, bukan dari teori atau motivasi kosong. Kerja dijalani karena terasa paling masuk akal untuk kondisi saat ini. Tanpa banyak drama, keputusan itu diambil secara sadar. Berikut sejumlah alasan yang kerap luput dari pembicaraan.

1. Rutinitas kerja membuat hidup terasa lebih teratur

ilustrasi kerja
ilustrasi kerja (vecteezy.com/Viorel Kurnosov)

Rutinitas kerja memberi penanda waktu yang jelas dalam sehari, mulai dari kapan harus bangun hingga kapan hari dianggap selesai. Pola ini membantu banyak orang menjalani hari tanpa perlu membuat keputusan kecil secara berulang. Hidup terasa berjalan lebih rapi karena ada urutan yang bisa diikuti. Kondisi ini sering terasa menenangkan, terutama bagi orang yang tidak nyaman dengan hari yang terlalu longgar.

Keteraturan tersebut juga membuat waktu luang lebih terasa nilainya. Setelah menyelesaikan kewajiban, sisa waktu bisa digunakan tanpa rasa bersalah. Banyak orang bertahan bukan karena pekerjaannya menarik, tetapi karena hidupnya menjadi lebih terkelola. Dalam praktiknya, keteraturan sering lebih dicari daripada kesenangan sesaat.

2. Lingkungan kerja memberi rasa akrab yang jarang disadari

ilustrasi kerja
ilustrasi kerja (vecteezy.com/Paul Friesen)

Tempat kerja perlahan berubah menjadi ruang yang terasa dikenal, meskipun awalnya terasa biasa saja. Kebiasaan kecil seperti menyapa rekan, memahami karakter atasan, atau mengetahui jam sibuk kantor menciptakan rasa akrab. Tanpa disadari, hal-hal ini membuat hari terasa lebih ringan. Rasa nyaman tersebut tumbuh seiring waktu, bukan muncul tiba-tiba.

Ketika sudah terbiasa, berpindah ke tempat baru justru terasa melelahkan. Harus mengenal ulang orang, kebiasaan, dan ritme kerja dianggap sebagai beban tambahan. Banyak orang memilih bertahan karena tidak ingin mengulang proses adaptasi. Kenyamanan ini sering lebih berpengaruh daripada rasa suka pada pekerjaannya.

3. Bekerja memberi rasa berguna

ilustrasi kerja
ilustrasi kerja (vecteezy.com/NONTANUN CHAIPRAKON)

Bagi sebagian orang, menyelesaikan tugas memberi kepuasan sederhana yang tidak selalu bisa dijelaskan. Ada rasa puas ketika pekerjaan selesai dan berdampak langsung pada orang lain. Perasaan ini muncul dari hal-hal kecil, seperti membantu tim atau menyelesaikan tanggung jawab tepat waktu. Meski tidak spektakuler, rasa berguna tersebut cukup berarti.

Kebermanfaatan ini membuat hari terasa tidak berlalu begitu saja. Aktivitas yang dilakukan memiliki hasil yang bisa dilihat atau dirasakan. Banyak orang bertahan karena ingin tetap merasa dibutuhkan. Dalam hidup sehari-hari, perasaan berguna sering kali lebih penting daripada rasa suka.

4. Kesibukan kerja membantu menjaga keseharian tetap berjalan

ilustrasi kerja
ilustrasi kerja (vecteezy.com/NONTANUN CHAIPRAKON)

Kesibukan membuat hari tidak terasa kosong atau terlalu panjang. Fokus pada aktivitas membantu mengisi waktu dengan cara yang terukur. Bagi banyak orang, kondisi ini membantu menjalani hari tanpa harus memikirkan terlalu banyak hal lain. Hidup terasa bergerak, meski perlahan.

Aktivitas rutin juga memberi jarak dari urusan pribadi yang belum selesai. Waktu diisi dengan hal yang konkret dan bisa dikendalikan. Banyak orang bertahan karena kesibukan memberi rasa aman dalam keseharian. Bukan karena lari dari masalah, tetapi karena hidup terasa lebih bisa diatur.

5. Kenyamanan sering dianggap lebih realistis daripada perubahan

ilustrasi kerja
ilustrasi kerja (vecteezy.com/Paul Friesen)

Perubahan menuntut energi, waktu, dan keberanian yang tidak selalu tersedia. Bertahan sering dipilih karena kondisi saat ini sudah bisa diprediksi. Risiko di tempat baru terasa lebih besar dibanding ketidakpuasan yang ada. Pilihan ini lahir dari perhitungan hidup, bukan dari kemalasan.

Kenyamanan tidak selalu berarti puas, tetapi cukup untuk dijalani. Banyak orang memilih stabilitas yang dikenal daripada kemungkinan yang belum tentu lebih baik. Keputusan ini sering diambil tanpa banyak bicara. Dalam hidup nyata, pilihan paling aman sering terasa paling masuk akal.

Kerja yang tidak disukai tidak selalu berarti seseorang salah arah dalam hidup. Banyak orang bertahan karena pertimbangan praktis yang jarang terlihat dari luar. Kalau melihat lebih dekat, bukankah banyak keputusan hidup memang diambil bukan karena ideal, tetapi karena paling memungkinkan saat ini?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Atqo Sy
EditorAtqo Sy
Follow Us

Latest in Life

See More

5 Tips Belajar Hidup Lebih Mindful Setelah Mengalami Bencana

05 Jan 2026, 19:03 WIBLife