Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Apakah Resign Pasca Lebaran Layak Dilakukan? Pahami 5 Hal Ini!
ilustrasi resign (pexels.com/rdne)
  • Keinginan resign setelah Lebaran sering muncul karena transisi emosional pasca liburan, bukan selalu tanda pekerjaan sudah tidak cocok.
  • Momen Lebaran bisa jadi waktu refleksi mendalam untuk menilai apakah keinginan resign berasal dari kebutuhan karier yang belum terpenuhi.
  • Sebelum resign, penting punya rencana jelas dan kesiapan finansial agar keputusan diambil dengan matang, bukan sekadar pelarian.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Momen setelah lebaran sering terasa seperti titik jeda dalam hidup. Kamu berkumpul dengan keluarga, mendengar berbagai cerita, dan punya waktu untuk berpikir lebih jernih. Sehingga, tak sedikit orang yang mulai mempertanyakan arah kariernya.

Perasaan jenuh, lelah, atau bahkan kehilangan makna dalam pekerjaan tiba-tiba muncul lebih jelas. Fenomena resign pasca lebaran pun bukan hal baru. Banyak karyawan memilih mengundurkan diri setelah kembali dari libur panjang. Namun, apakah hal ini benar-benar keputusan yang layak?

1. Perasaan ingin resign bisa dipicu emosi sesaat

ilustrasi berpikir (pexels.com/Vanessa Garcia)

Setelah liburan panjang, kamu mungkin merasa hidup terasa lebih ringan tanpa tekanan pekerjaan. Ketika kembali ke rutinitas, kontras ini bisa memicu rasa tak nyaman yang kuat. Hal ini sering disalahartikan sebagai tanda bahwa pekerjaanmu sudah gak cocok lagi.

Padahal, perasaan ingin resign bisa jadi hanya efek dari transisi emosional. Kamu belum sepenuhnya beradaptasi kembali dengan ritme kerja. Sehingga segala hal terasa lebih berat dari biasanya. Jadi, penting untuk memberi waktu sebelum mengambil keputusan besar.

2. Momentum lebaran memang memberi ruang refleksi diri

ilustrasi wanita sedang berpikir (unsplash.com/annhwa)

Di sisi lain, tak bisa dimungkiri bahwa Lebaran sering menjadi momen refleksi yang jujur. Percakapan dengan keluarga, pertanyaan tentang karier, atau sekadar waktu tenang bisa membuat kamu melihat hidup dari perspektif berbeda. Hal-hal yang sebelumnya kamu abaikan jadi terasa lebih jelas.

Jika keinginan resign muncul dari refleksi yang mendalam, bukan sekadar emosi sesaat, ini bisa menjadi sinyal penting. Bisa jadi ada kebutuhan yang belum terpenuhi dalam pekerjaanmu. Misalnya, kurangnya perkembangan karier, lingkungan kerja yang tak sehat, atau ketidaksesuaian dengan nilai hidupmu.

3. Pastikan kamu punya rencana, bukan sekadar pelarian

ilustrasi menulis (pexels.com/karolina grabowska)

Resign tanpa rencana yang jelas sering berujung pada kebingungan baru. Banyak orang merasa lega di awal, tapi kemudian panik karena belum punya arah selanjutnya. Karena itu, penting untuk memastikan bahwa keputusan resign didasarkan pada tujuan, bukan sekadar keinginan untuk “kabur”.

Tanyakan pada dirimu setelah resign, apa langkah berikutnya? Apakah kamu sudah punya pekerjaan baru, rencana bisnis, atau setidaknya waktu yang cukup untuk mencari peluang lain? Resign yang sehat adalah yang membawa kamu mendekat ke tujuan, bukan sekadar menjauh dari masalah.

4. Pertimbangkan kondisi finansial secara realistis

ilustrasi uang (pexels.com/karolina grabowska)

Salah satu aspek yang sering diabaikan saat ingin resign adalah kondisi finansial. Setelah lebaran, pengeluaran biasanya meningkat, mulai dari kebutuhan mudik hingga berbagai keperluan lainnya. Jika kamu memutuskan resign tanpa persiapan finansial, tekanan justru bisa bertambah.

Idealnya, kamu harus memiliki dana darurat yang cukup sebelum mengambil keputusan ini. Dengan begitu, kamu punya waktu untuk beradaptasi tanpa terburu-buru menerima pekerjaan yang tidak sesuai. Keputusan karier sebaiknya tidak diambil dalam kondisi finansial yang terlalu tertekan, ya!

5. Evaluasi lingkungan kerjamu, bukan hanya perasaan pribadi

ilustrasi bekerja (pexels.com/ Edmond Dantès)

Kadang, keinginan resign muncul karena faktor internal seperti rasa bosan atau kehilangan motivasi. Namun, ada juga kondisi di mana lingkungan kerja memang menjadi masalah utama, seperti budaya kerja yang toksik, kurangnya apresiasi, atau beban kerja yang berat.

Coba evaluasi secara apakah masalahnya bisa diperbaiki atau sulit diubah? Jika lingkungan kerja benar-benar tak sehat dan memengaruhi kesehatan mentalmu, resign bisa menjadi langkah yang layak dipertimbangkan. Namun jika masalahnya masih bisa dikelola, mungkin ada solusi lain yang lebih bijak.

Jika keinginan resign datang dari emosi sesaat, beri waktu untuk beradaptasi. Namun jika setelah dipikirkan matang kamu tetap merasa perlu berubah, tak ada salahnya mengambil langkah tersebut dengan perencanaan yang baik, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team