Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Banyak Karyawan Resign setelah Dapat THR? Ini Alasannya

Kenapa Banyak Karyawan Resign setelah Dapat THR? Ini Alasannya
ilustrasi karyawan resign setelah dapat THR (freepik.com/freepik)
Intinya Sih
  • Banyak karyawan memilih resign setelah menerima THR karena faktor keamanan finansial, menjadikan momen tersebut waktu paling aman untuk transisi kerja tanpa kehilangan hak tunjangan.
  • Setelah Lebaran, pasar kerja biasanya lebih aktif dengan banyak lowongan baru, sehingga pekerja memanfaatkan momentum ini untuk mencari peluang karier yang lebih baik dan gaji lebih kompetitif.
  • Keputusan resign juga dipicu evaluasi terhadap kompensasi, stagnasi karier, beban kerja berlebih, serta lingkungan kerja yang tidak kondusif meski THR telah diterima.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Fenomena karyawan resign setelah Lebaran bukan hal baru di dunia kerja Indonesia. Setiap tahun, banyak perusahaan menghadapi gelombang pengunduran diri tak lama setelah tunjangan hari raya (THR) dibayarkan. Lalu sebenarnya kenapa banyak karyawan resign setelah dapat THR? Apakah ini hanya tren musiman atau justru mencerminkan kondisi tertentu di lingkungan kerja?

Dalam banyak kasus, keputusan tersebut bukanlah keputusan spontan. Biasanya, karyawan sudah lama mempertimbangkan langkah tersebut dan menjadikan momen setelah menerima THR sebagai waktu yang paling aman secara finansial untuk berpindah pekerjaan.

Berikut beberapa alasan yang sering menjadi penyebabnya.

Table of Content

1. THR membuat kondisi finansial lebih aman untuk transisi kerja

1. THR membuat kondisi finansial lebih aman untuk transisi kerja

ilustrasi memberikan uang THR
ilustrasi memberikan uang THR (pexels.com/Defrino Maasy)

Salah satu alasan utama banyak pekerja menunggu hingga THR cair sebelum resign adalah faktor keamanan finansial. THR biasanya setara dengan satu bulan gaji, sehingga bisa menjadi “bantalan” sementara ketika seseorang memutuskan keluar dari pekerjaan.

Dengan dana tambahan tersebut, karyawan memiliki waktu lebih longgar untuk mencari pekerjaan baru tanpa terlalu terburu-buru. THR juga bisa digunakan untuk menutup kebutuhan hidup selama masa transisi karier.

Selain itu, sebagian pekerja memang sengaja menunda pengunduran diri agar tidak kehilangan hak mereka atas THR. Berdasarkan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 6 Tahun 2016, pekerja yang telah memiliki masa kerja minimal satu bulan berhak menerima THR sesuai ketentuan yang berlaku. Karena itulah, banyak orang memilih untuk bertahan hingga setelah Lebaran sebelum benar-benar mengajukan resign.

2. Banyak lowongan kerja baru setelah Lebaran

ilustrasi lowongan kerja
ilustrasi lowongan kerja (freepik.com/freepik)

Periode setelah Lebaran biasanya menjadi salah satu momen paling aktif dalam perekrutan karyawan. Banyak perusahaan membuka lowongan baru karena beberapa faktor.

Pertama, aktivitas bisnis biasanya kembali meningkat setelah masa libur panjang. Kedua, perusahaan harus mengisi posisi yang kosong karena ada karyawan yang keluar.

Situasi ini menciptakan efek domino di pasar kerja. Ketika satu karyawan pindah perusahaan, posisi lama mereka akan terbuka dan menciptakan peluang bagi pekerja lain.

Bagi sebagian orang, momentum ini dimanfaatkan untuk mencari tempat kerja baru yang menawarkan gaji lebih tinggi, lingkungan kerja yang lebih sehat, atau bahkan kesempatan perkembangan karier yang lebih jelas.

3. Gaji dan tunjangan dianggap kurang kompetitif

Ilustrasi resign dari pekerjaan setelah menerima THR (freepik.com/Drazen Zigic)
Ilustrasi resign dari pekerjaan setelah menerima THR (freepik.com/Drazen Zigic)

Setelah menerima THR, banyak pekerja mulai melakukan evaluasi terhadap kompensasi yang mereka terima selama ini.

Mereka membandingkan gaji, tunjangan, hingga fasilitas yang diberikan perusahaan dengan standar industri atau tawaran dari perusahaan lain. Jika hasilnya dirasa kurang kompetitif, keinginan untuk mencari pekerjaan baru biasanya semakin kuat.

THR sendiri memang merupakan bentuk apresiasi tahunan, tetapi sifatnya hanya sementara. Jika gaji pokok dan benefit lainnya tidak mengalami peningkatan yang signifikan, sebagian karyawan merasa lebih baik mencari peluang di tempat lain.

Apalagi saat ini informasi mengenai standar gaji di industri semakin mudah diakses, sehingga pekerja bisa lebih mudah membandingkan nilai kerja mereka di pasar tenaga kerja.

4. Minimnya peluang pengembangan karier

Selain faktor finansial, stagnasi karier juga sering menjadi alasan utama seseorang memutuskan resign.

Beberapa karyawan merasa posisi mereka tidak berkembang meskipun sudah bekerja cukup lama. Hal ini bisa terjadi karena berbagai faktor, seperti:

  • Tidak adanya jalur promosi yang jelas
  • Kesempatan pelatihan yang terbatas
  • Tanggung jawab kerja yang tidak berkembang

Dalam situasi seperti ini, THR tidak cukup untuk menutupi rasa jenuh yang sudah lama dirasakan. Banyak pekerja akhirnya memilih mencari lingkungan kerja yang menawarkan peluang belajar dan berkembang lebih besar.

5. Beban kerja tidak seimbang dengan apresiasi

Ketidakseimbangan antara tanggung jawab dan penghargaan juga menjadi pemicu resign setelah Lebaran.

Beberapa karyawan merasa bahwa kontribusi mereka terhadap perusahaan tidak diimbangi dengan apresiasi yang layak, baik secara finansial maupun nonfinansial. Hal ini bisa berupa beban kerja yang berlebihan, kurangnya apresiasi atau pengakuan dari atasan, dan minimnya penghargaan terhadap kinerja karyawan.

Meskipun THR merupakan bentuk apresiasi tahunan, banyak pekerja merasa bahwa hal tersebut tidak cukup untuk mengimbangi tekanan kerja yang mereka alami setiap hari.

6. Lingkungan kerja yang tidak lagi kondusif

Budaya kerja dan hubungan interpersonal juga memainkan peran besar dalam keputusan seseorang untuk bertahan atau keluar dari perusahaan.

Lingkungan kerja yang tidak sehat, komunikasi yang buruk, atau hubungan yang kurang harmonis dengan atasan dan rekan kerja dapat membuat seseorang kehilangan motivasi.

Dalam banyak kasus, keputusan resign sebenarnya sudah direncanakan jauh sebelum Ramadan. Pencairan THR hanya menjadi waktu yang ditunggu sebelum langkah tersebut benar-benar direalisasikan.

7. Ramadan menjadi momen refleksi karier

ilustrasi resign dari pekerjaan setelah menerima THR
ilustrasi resign dari pekerjaan setelah menerima THR (pexels.com/Mikhail Nilov)

Bulan Ramadan sering dimaknai sebagai periode refleksi dan evaluasi diri. Banyak orang memanfaatkan momen ini untuk menilai kembali berbagai aspek kehidupan, termasuk karier.

Selama Ramadan, seseorang mungkin mulai mempertanyakan kembali beberapa hal seperti:

  • Apakah pekerjaan saat ini masih sesuai dengan tujuan hidup
  • Apakah karier mereka berkembang dengan baik
  • Apakah lingkungan kerja mendukung kesejahteraan mereka

Lebaran kemudian menjadi simbol awal baru, termasuk dalam perjalanan profesional. Tak heran jika setelah momen tersebut banyak orang berani mengambil keputusan besar, termasuk resign dari pekerjaan.

Resign setelah THR sebaiknya tetap dipertimbangkan matang

Fenomena resign setelah Lebaran sebenarnya bukan hanya terjadi di Indonesia. Di beberapa negara lain, pola serupa juga terjadi setelah momen bonus tahunan atau perayaan besar.

Meski begitu, keputusan keluar dari pekerjaan tetap perlu dipertimbangkan secara matang. Idealnya, seseorang sudah memiliki rencana jelas sebelum resign, seperti tawaran pekerjaan baru atau dana darurat yang cukup.

Pada akhirnya, kenapa banyak karyawan resign setelah dapat THR bukan hanya soal uang tambahan semata. Keputusan tersebut biasanya merupakan hasil evaluasi panjang mengenai karier, kondisi kerja, serta peluang masa depan yang lebih baik.

FAQ Seputar Alasan Banyak Karyawan Resign Setelah Dapat THR

Kenapa banyak karyawan resign setelah dapat THR?

Karena THR memberikan keamanan finansial sementara, sehingga karyawan lebih berani mengambil risiko pindah pekerjaan.

Apakah resign setelah THR termasuk hal yang wajar?

Ya, fenomena ini cukup umum terjadi setiap tahun dan sering berkaitan dengan evaluasi karier setelah Lebaran.

Apakah karyawan yang resign tetap berhak menerima THR?

Jika memenuhi syarat masa kerja sesuai Permenaker No. 6 Tahun 2016, karyawan tetap berhak menerima THR.

Apakah resign setelah THR bisa berdampak bagi perusahaan?

Ya, turnover tinggi dapat meningkatkan biaya rekrutmen, mengganggu produktivitas, dan memengaruhi stabilitas tim kerja.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in Business

See More