Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Cara Gen Z dan Profesional Senior Bisa Menang Bersama di Era AI
Podcast Power Talks oleh Jobstreet by SEEK (Dok. Jobstreet by SEEK)
  • Perusahaan kini menilai kandidat berdasarkan skill, bukan usia atau latar belakang, agar gen Z dan profesional senior bisa bersaing adil serta menghadirkan talenta terbaik tanpa bias generasi.
  • Dudi Arisandi menekankan pentingnya berhenti menyalahkan gen Z dan mulai membantu mereka mengasah soft skill melalui mentoring agar siap menghadapi tantangan dunia kerja modern.
  • Kolaborasi lintas generasi lewat reverse mentoring dan strategi SDM 5B menjadi kunci menciptakan tim adaptif yang mampu memadukan kebijaksanaan senior dengan kreativitas gen Z di era AI.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan, banyak perusahaan mulai mengubah strategi rekrutmen mereka. Profesional senior kembali dilirik karena dianggap memiliki pengalaman dan intuisi yang kuat, sementara di sisi lain, gen Z justru merasa semakin tertinggal di tengah persaingan yang ketat.

Padahal, kenyataannya masa depan dunia kerja bukan soal memilih salah satu generasi. Justru kombinasi antara energi, kreativitas, dan adaptabilitas gen Z dengan pengalaman serta kebijaksanaan profesional senior menjadi kunci utama. Hal ini juga dibahas dalam podcast Power Talks oleh Jobstreet by SEEK bersama Dudi Arisandi, Chief People Officer tiket.com. Yuk, simak detail pembahasannya!

1. Rekrut berdasarkan skill, bukan usia atau latar belakang

Ilustrasi wawancara Kerja (pexels.com/MART PRODUCTION)

Banyak perusahaan masih terjebak pada cara lama dalam menilai kandidat, seperti usia atau asal kampus. Padahal, yang paling penting adalah apakah seseorang memiliki kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan pekerjaan.

Dudi menekankan, bahwa perusahaan progresif mulai beralih ke pendekatan berbasis skill. Pendekatan ini membuka peluang bagi gen Z untuk bersaing secara adil, sekaligus memastikan perusahaan mendapatkan talenta terbaik tanpa bias generasi.

“Masalahnya bukan jumlah pencari kerja, tapi apakah skill mereka selaras dengan kebutuhan industri,” ujarnya.

2. Berhenti menyalahkan gen Z, mulai bantu mereka berkembang

Ilustrasi kerja (freepik.com/freepik)

Label seperti “gen Z sulit diatur” atau “kurang siap kerja” justru bisa menghambat pertumbuhan tim. Alih alih menyalahkan, perusahaan perlu melihat gen Z sebagai talenta potensial yang masih dalam proses berkembang.

Dudi mengingatkan, “Stop blaming, start helping”. Ia menyoroti bahwa yang sering kurang adalah soft skill seperti komunikasi, kepercayaan diri, dan kemampuan mengambil keputusan. Hal ini tidak bisa terbentuk instan, tapi perlu dibangun lewat mentoring dan pengalaman yang tepat.

3. Jadikan reverse mentoring sebagai kebiasaan baru

Ilustrasi kerja (freepik.com/tirachardz)

Di era digital, setiap generasi punya keunggulan masing masing. Profesional senior unggul dalam pengalaman dan pengambilan keputusan, sementara gen Z lebih cepat beradaptasi dengan teknologi dan tren baru.

Dudi bahkan berbagi pengalamannya sendiri, “Saya ini generasi PowerPoint, sekarang belajar Canva dari tim, bahkan dari anak saya”. Reverse mentoring jadi cara efektif untuk saling belajar, di mana kedua generasi bisa tumbuh bersama tanpa merasa lebih unggul satu sama lain.

4. Fokus pada kemampuan yang tidak bisa digantikan AI

Ilustrasi wawancara Kerja (pexels.com/Edmond Dantès)

Banyak pekerjaan teknis dan repetitif kini mulai tergantikan oleh teknologi. Artinya, hanya mengandalkan hard skill tidak lagi cukup untuk bertahan di dunia kerja.

Menurut Dudi, yang paling penting adalah kemampuan mengambil keputusan dan memahami konteks. Ini adalah area di mana kolaborasi antara gen Z dan profesional senior menjadi sangat penting karena keduanya bisa saling melengkapi.

“Yang makin bernilai adalah authentic judgement,” tuturnya.

5. Bangun strategi SDM dengan pendekatan 5B

ilustrasi kerja (freepik.com/freepik)

Perusahaan perlu memiliki strategi jangka panjang dalam mengelola talenta, bukan sekadar reaktif terhadap tren. Dudi memperkenalkan kerangka 5B sebagai pendekatan yang lebih holistik.

Ia menjelaskan konsep Build, Buy, Borrow, Bridging, dan Bot sebagai cara untuk menciptakan workforce yang fleksibel dan kuat. “Pertanyaannya bukan memilih gen Z atau senior, tapi bagaimana mereka bisa saling melengkapi dalam satu sistem yang terstruktur”.

Pada akhirnya, dunia kerja akan terus berubah, tapi nilai manusia tetap menjadi faktor utama. “Kuncinya bukan memilih antara talenta muda atau senior, tapi bagaimana menggabungkan energi gen Z dengan kebijaksanaan generasi sebelumnya,” pungkas Dudi.

Podcast Power Talks sendiri hadir sebagai ruang diskusi yang membahas transformasi dunia kerja secara nyata dan aplikatif. Melalui insight dari para praktisi, podcast ini diharapkan bisa membantu profesional dan perusahaan untuk lebih siap menghadapi masa depan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team