Cara Menentukan Pilihan antara Resign vs. Bertahan

- Rasa ingin resign perlu ditelusuri dulu sumbernya karena tidak selalu berarti harus pindah kerja.
- Bertahan bisa jadi pilihan tepat jika masih ada ruang belajar, berkembang, dan arah yang jelas.
- Keputusan resign atau bertahan sebaiknya menimbang perasaan sekaligus logika dan kondisi hidup secara menyeluruh.
Saat berada di dunia kerja, pasti ada fase ketika kamu mulai sering galau antara dirimu yang kurang bersyukur atau memang sudah waktunya pindah? Kerjaan masih bisa dilakukan, gaji masih masuk tiap bulan, tapi rasanya ada yang hambar. Bangun pagi jadi lebih berat, Senin terasa panjang, dan antusiasme pelan-pelan turun.
Di titik ini, banyak orang terjebak antara dua pilihan yang sama-sama membuat ragu. Bertahan bikin jalan di tempat, yang penting keuangan aman. Pindah kerja terdengar menjanjikan, tapi risikonya juga nyata. Wajar kalau akhirnya bingung, karena keputusan ini tidak sesederhana kelihatannya. Untuk membantumu keluar dari kebingungan, ini dia pertimbangan pindah kerja atau bertahan.
1. Cari tahu dari mana rasa tidak betah itu muncul

Sebelum menyimpulkan bahwa satu-satunya jalan keluar adalah resign, coba tarik napas sebentar dan cari tahu sumbernya. Apakah kamu lelah karena beban kerja yang tidak seimbang? Lingkungan yang kurang sehat? Atau justru karena tugasmu yang itu-itu saja?
Kadang, rasa ingin pindah kerja bukan karena pekerjaannya benar-benar buruk, tapi karena satu aspek yang terus menggerogoti. Misalnya, komunikasi yang kurang jelas, ekspektasi yang abu-abu, atau merasa tidak didengar. Kalau penyebabnya masih spesifik, ada kemungkinan solusinya juga belum tentu harus pindah.
2. Bertahan tidak selalu kalah

Di media sosial, pindah kerja acap kali terlihat keren. Gaji naik, jabatan naik, lingkungan kerja lebih sehat, dan cerita sukses bertebaran. Akhirnya, bertahan di satu tempat lama-lama terasa seperti pilihan “kurang berani”. Padahal, tidak selalu begitu.
Bertahan bisa jadi keputusan yang bijak kalau kamu masih belajar, masih berkembang, atau masih melihat arah yang jelas. Apalagi kalau kamu sedang membangun reputasi atau memperdalam skill tertentu. Dalam hal ini, bertahan di satu tempat kerja adalah pilihan yang ideal karena kamu tidak stuck atau jalan di tempat.
3. Pindah kerja bukan obat mujarab untuk segala masalah

Di sisi lain, pindah kerja kerap dibayangkan sebagai reset hidup. Lingkungan baru, semangat baru, dan meninggalkan masalah lama. Kenyataannya, setiap tempat kerja punya tantangan versi masing-masing.
Ada adaptasi, ada tekanan pembuktian diri, ada kemungkinan ekspektasi yang tidak sesuai bayangan. Kalau pindah kerja dilakukan hanya karena ingin kabur dari rasa jenuh, bukan tidak mungkin kamu akan menemui masalah serupa di tempat baru. Intinya, jangan bayangkan bahwa pindah kantor akan menyelesaikan semua masalahmu.
4. Pertimbangkan kondisi hidup di luar pekerjaan

Keputusan karier tidak berdiri sendiri. Ada faktor lain yang patut dipertimbangkan, seperti kondisi keuangan, keluarga, kesehatan mental, dan tanggung jawab personal. Di fase tertentu, stabilitas mungkin lebih dibutuhkan daripada lonjakan karier.
Kalau kamu punya tanggungan atau sedang butuh keamanan finansial, bertahan sementara bisa jadi pilihan rasional. Sebaliknya, jika kamu masih punya ruang untuk ambil risiko dan peluang pindah terasa sepadan, tidak ada salahnya mempertimbangkan langkah tersebut dengan matang. Kamu bisa diskusikan hal ini dengan orang-orang yang kehidupannya akan terdampak dengan keputusanmu, misalnya pasangan, orangtua, atau saudara yang hidupnya bergantung dari penghasilanmu.
5. Boleh pakai perasaan, tapi jangan lepas logika

Perasaan lelah dan jenuh itu sinyal, bukan kelemahan. Dengarkan, tapi jangan langsung dijadikan keputusan final. Coba tulis plus minus, bayangkan skenario terburuk, dan pikirkan apa yang paling bisa kamu terima kalau rencana tidak berjalan mulus.
Kadang jawabannya tidak mutlak, seperti pindah kerja sekarang atau bertahan selamanya. Bisa jadi untuk sementara kamu perlu bertahan sambil menyiapkan jalan keluar. Atau, membuka peluang baru tanpa buru-buru lompat. Yang penting, keputusan itu diambil dengan pertimbangan matang dan tidak membuatmu menyesal.



















