Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Cara Menerapkan Stoik untuk Hadapi Kolega Menyebalkan

5 Cara Menerapkan Stoik untuk Hadapi Kolega Menyebalkan
ilustrasi rekan kerja yang menyebalkan (pexels.com/Yan Krukau)
Intinya Sih
  • Artikel menjelaskan penerapan filosofi Stoik untuk menghadapi rekan kerja menyebalkan dengan fokus pada hal yang bisa dikendalikan dan menjaga efisiensi emosional di lingkungan kantor.
  • Ditekankan pentingnya mengubah cara pandang terhadap kolega sulit sebagai latihan ketahanan mental, serta tetap profesional tanpa membalas perilaku buruk dengan sikap serupa.
  • Stoik mendorong pengurangan ekspektasi terhadap orang lain, berpikir sebelum bereaksi, dan menjaga ketenangan agar reputasi profesional tetap positif meski situasi kerja menantang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Tidak semua orang yang duduk di kantor yang sama denganmu adalah orang yang menyenangkan untuk diajak bekerja sama. Ada yang suka mengklaim hasil kerja orang lain, ada yang doyan mengeluh tapi tidak pernah ikut berkontribusi, ada juga yang diam-diam menjatuhkanmu di depan atasan.

Wajar kalau kamu kesal, itu respons manusiawi. Tapi kalau kesesalan itu dibawa pulang setiap hari dan mulai menguras energi, ada baiknya kamu mulai berkenalan dengan cara berpikir stoik. Berikut lima cara menerapkan stoik untuk hadapi kolega menyebalkan.

1. Pisahkan mana yang bisa kamu kendalikan dan mana yang tidak

ilustrasi rekan kerja yang menyebalkan
ilustrasi rekan kerja yang menyebalkan (pexels.com/Yan Krukau)

Stoik punya konsep bernama dichotomy of control, alias ada hal yang ada dalam kendalimu dan ada yang tidak. Sikap rekan kerja yang menyebalkan jelas bukan dalam kendalimu, tapi reaksimu terhadapnya sangat bisa kamu atur. Daripada menghabiskan energi berharap dia berubah, Stoik mengajarkan untuk fokus pada apa yang bisa kamu lakukan sekarang. Ini bukan pasrah, tapi efisiensi emosional yang sangat masuk akal.

Ketika dia lagi-lagi menyela presentasimu atau mengabaikan emailmu, tanyakan dulu pada diri sendiri apakah ini sesuatu yang bisa kamu ubah secara langsung. Kalau tidak, berhenti menguras pikiran untuk itu. Energi yang tidak terbuang di sana bisa kamu alihkan ke hal yang benar-benar produktif dan hasilnya terasa nyata.

2. Lihat rekan kerja menyebalkan sebagai latihan, bukan gangguan

ilustrasi rekan kerja yang menyebalkan
ilustrasi rekan kerja yang menyebalkan (pexels.com/Yan Krukau)

Marcus Aurelius, salah satu tokoh stoik, pernah menulis bahwa orang-orang sulit di sekitar kita sebenarnya adalah guru yang tidak kita minta. Kedengarannya klise, tapi maksudnya konkret: setiap kali kamu berhasil tidak terpancing emosinya, kamu sedang melatih ketahanan mental yang tidak bisa diasah dari situasi yang nyaman. Rekan kerja yang menyebalkan tanpa sadar sedang membantumu menjadi lebih stabil secara emosional. Itu nilai yang jarang datang gratis.

Coba ubah cara pandangmu setiap kali dia mulai bertingkah. Alih-alih berpikir "kenapa dia selalu begini," ganti dengan "oke, ini ujian untuk hari ini." Bukan berarti kamu harus menyukainya, tapi kamu tidak lagi membiarkan dia punya kuasa atas kondisi emosionalmu di hari itu.

3. Jangan balas sikap buruk dengan sikap yang sama

ilustrasi rekan kerja yang menyebalkan
ilustrasi rekan kerja yang menyebalkan (pexels.com/Yan Krukau)

Epictetus, salah satu tokoh Stoik, bilang bahwa orang yang menyakiti orang lain sebenarnya sedang bertindak berdasarkan pemahamannya sendiri yang terbatas. Artinya, rekan kerja yang menyebalkan itu kemungkinan besar tidak sadar atau tidak tahu cara yang lebih baik. Membalasnya dengan sikap yang sama hanya menurunkan standarmu sendiri ke levelnya.

Stoik mengajarkan untuk tetap bertindak sesuai nilaimu sendiri, terlepas dari bagaimana orang lain bersikap. Dalam praktiknya, ini berarti kamu tetap profesional meski dia tidak; kamu tetap merespons dengan tenang meski dia menyerangmu di depan banyak orang. Bukan karena kamu lemah, tapi karena kamu tahu bahwa cara kamu bertindak adalah satu-satunya hal yang benar-benar mencerminkan siapa kamu di tempat kerja.

4. Kurangi ekspektasi terhadap orang lain di tempat kerja

ilustrasi rekan kerja yang menyebalkan
ilustrasi rekan kerja yang menyebalkan (pexels.com/Yan Krukau)

Salah satu sumber frustrasi terbesar di kantor adalah ekspektasi yang tidak realistis terhadap orang lain. Kamu berharap dia akan berubah, berharap dia akhirnya sadar, berharap atasan akan turun tangan. Stoik menyarankan untuk berhenti membangun skenario ideal tentang bagaimana orang lain seharusnya bersikap. Terima bahwa setiap orang punya karakter dan keterbatasannya masing-masing, termasuk yang paling menyebalkan sekalipun.

Menurunkan ekspektasi bukan berarti kamu menerima perlakuan buruk begitu saja. Kamu tetap bisa menetapkan batas yang jelas dan berbicara kalau memang perlu. Bedanya, kamu tidak lagi terkejut atau kecewa setiap kali dia bertingkah sesuai karakternya, karena kamu sudah tidak mengharapkan hal yang berbeda darinya.

5. Fokus pada respons jangka panjang, bukan reaksi sesaat

ilustrasi rekan kerja yang menyebalkan
ilustrasi rekan kerja yang menyebalkan (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Stoik sangat menekankan pentingnya berpikir sebelum bereaksi, terutama dalam situasi yang memancing emosi. Sebelum kamu membalas emailnya dengan nada tajam atau bergabung mengadu ke atasan, tanya dulu apakah ini keputusan yang akan kamu sesali dalam seminggu ke depan? Jeda satu menit sebelum bereaksi sering kali cukup untuk memisahkan respons yang bijak dari reaksi yang impulsif. Itu jeda kecil yang dampaknya besar.

Dalam jangka panjang, orang yang konsisten tenang di situasi sulit jauh lebih dihormati di lingkungan kerja dibandingkan dengan yang mudah tersulut. Rekan kerja yang menyebalkan itu mungkin tidak akan pergi ke mana-mana dalam waktu dekat, tapi caramu menghadapinya akan membentuk reputasi profesionalmu secara diam-diam. Orang-orang di sekitarmu memperhatikan itu, bahkan ketika kamu tidak menyadarinya.

Walau cara menerapkan stoik untuk hadapi kolega menyebalkan tak menjanjikan bahwa mereka akan berubah atau pergi, hal ini patut untuk dicoba perlahan. Menerapkan stoik berarti kamu punya cara untuk tidak membiarkan orang lain menentukan kualitas harimu di tempat kerja. Semakin sering kamu melatih, semakin kecil ruang yang bisa dia ambil dari ketenangan pikiranmu. Pada akhirnya, siapa yang lebih diuntungkan dari semua ini kalau bukan kamu sendiri?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo
Follow Us