Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
7 Cara Mengatasi Kebiasaan Terlalu Kritis terhadap Diri Sendiri di Tempat Kerja
ilustrasi perempuan fokus depan laptop (pexels.com/yankrukov)

Mengevaluasi diri setelah bekerja memang penting untuk berkembang. Namun, jika setiap kesalahan terus dijadikan alasan untuk menyalahkan diri sendiri, kebiasaan ini justru dapat mengikis rasa percaya diri, memicu kecemasan, dan menghambat perkembangan karier. Bukannya berkembang, kamu justru jadi ragu mengambil peluang dan takut melakukan kesalahan.

Bersikap kritis terhadap diri sendiri tidak sama dengan melakukan refleksi yang sehat. Refleksi membantu kita belajar dan bertumbuh, sedangkan kritik berlebihan hanya membuat fokus tertuju pada kekurangan. Agar tidak terjebak dalam pola pikir tersebut, simak beberapa cara mengatasinya berikut ini.

1. Kenali sumber tekanan yang membuatmu terus menyalahkan diri sendiri

ilustrasi kelompok diskusi di kantor (pexels.com/fauxels)

Langkah pertama adalah mengenali sumber tekanan yang membuatmu terus menyalahkan diri sendiri. Perhatikan situasi yang paling sering memicu pikiran negatif, seperti setelah menerima evaluasi, presentasi, atau membandingkan diri dengan rekan kerja. Dengan begitu, kamu akan lebih mudah mengelola respons yang muncul.

Tak jarang, tekanan itu berasal dari pengalaman masa lalu, seperti sering dikritik atau dituntut selalu berhasil. Pengalaman tersebut dapat membentuk keyakinan bahwa kamu harus terus membuktikan diri. Memahami asalnya akan membantumu melepaskan pola pikir yang tidak lagi relevan.

"Jika kamu menyadari bahwa dirimu terlalu kritis terhadap diri sendiri, cobalah mencari sumbernya dan pahami mengapa pikiran-pikiran negatif itu muncul sejak awal. Pahami apakah hal tersebut berasal dari pengalaman masa lalu atau trauma di masa kecil, lalu cari tahu mengapa hingga sekarang kamu masih merasa perlu membuktikan sesuatu kepada orang lain," ujar Max Doshay, psikolog berlisensi dan CEO Monima Wellness, dikutip dari The Muse.

2. Belajar memperlakukan diri sendiri dengan lebih baik

ilustrasi perempuan menatap fokus ke laptop (pexels.com/lizasummer)

Kamu mungkin mudah memaklumi kesalahan orang lain, tetapi belum tentu bersikap sama kepada diri sendiri. Karena itu, cobalah memperlakukan diri dengan lebih empati saat melakukan kesalahan atau menghadapi kegagalan. Cara ini dapat mengurangi tekanan akibat kritik diri.

Berbelas kasih kepada diri sendiri bukan berarti membenarkan kesalahan. Sebaliknya, kamu tetap bertanggung jawab sambil menerima bahwa tidak ada orang yang selalu berhasil. Dengan begitu, kamu bisa belajar tanpa terus dihantui rasa bersalah.

3. Ubah dialog negatif menjadi lebih realistis

ilustrasi perempuan mengecek tablet di kantor (pexels.com/mikhailnilov)

Cara berbicara kepada diri sendiri memengaruhi kepercayaan diri. Daripada berkata, "Aku selalu gagal," cobalah menggantinya dengan kalimat yang lebih realistis, seperti, "Aku memang melakukan kesalahan, tetapi masih bisa memperbaikinya." Perubahan sederhana ini dapat mengurangi tekanan yang tidak perlu.

Dialog batin yang lebih positif membantumu fokus mencari solusi, bukan terus menyesali kesalahan. Seiring waktu, pola pikir ini akan meningkatkan rasa percaya diri dan membuatmu lebih berani menghadapi tantangan baru.

"Sebagian orang berpikir bahwa bersikap keras terhadap diri sendiri adalah cara terbaik untuk memotivasi diri. Padahal, kenyataannya justru sebaliknya. Dialog negatif yang terus-menerus terhadap diri sendiri menciptakan kecemasan yang justru merusak performa, bukan meningkatkannya," ujar Max Doshay.

4. Biasakan menghargai setiap kemajuan

ilustrasi berkomunikasi dengan rekan kerja (pexels.com/fauxels)

Jangan hanya bangga pada pencapaian besar. Kemajuan kecil, seperti menyelesaikan tugas tepat waktu atau berani menyampaikan pendapat saat rapat, juga patut diapresiasi. Kebiasaan ini membantumu lebih fokus pada perkembangan daripada kekurangan.

Cobalah membuat jurnal pencapaian setiap minggu. Tuliskan hal-hal yang berhasil kamu lakukan, sekecil apa pun. Saat membacanya kembali, kamu akan lebih mudah menyadari bahwa usahamu selama ini terus membuahkan hasil.

5. Mintalah umpan balik dari orang yang kamu percaya

ilustrasi berjabat tangan dengan rekan kerja (pexels.com/fauxels)

Saat terlalu kritis terhadap diri sendiri, penilaianmu sering kali menjadi tidak objektif. Karena itu, mintalah masukan dari atasan, mentor, atau rekan kerja yang dapat memberikan penilaian secara jujur dan seimbang. Sudut pandang mereka bisa membantumu melihat kemampuan yang selama ini terabaikan.

Jangan hanya bertanya tentang apa yang perlu diperbaiki, tetapi cari tahu pula apa yang menjadi kelebihanmu. Masukan yang lebih seimbang akan membuatmu lebih percaya diri sekaligus mengetahui area yang memang perlu dikembangkan.

"Orang yang terlalu kritis terhadap dirinya sendiri biasanya sangat takut menerima umpan balik negatif atau dipersepsikan buruk oleh orang lain," ujar Max Doshay.

6. Tetapkan standar yang realistis

ilustrasi kerja sama team (pexels.com/hillaryfox)

Memiliki target tinggi bukanlah hal yang salah, tetapi mengejar kesempurnaan terus-menerus hanya akan menguras energi. Ingat, tidak ada orang yang selalu berhasil dalam setiap kesempatan. Memberi ruang untuk melakukan kesalahan justru membantumu berkembang.

Daripada mengejar hasil yang sempurna, fokuslah pada proses dan kemajuan yang telah dicapai. Ekspektasi yang lebih realistis akan mengurangi tekanan terhadap diri sendiri. Dengan begitu, kamu bisa belajar tanpa terus dihantui rasa takut gagal.

7. Bangun lingkungan yang mendukung perkembanganmu

ilustrasi diskusi di kantor (pexels.com/canvastudio)

Mengatasi kebiasaan mengkritik diri sendiri akan terasa lebih mudah jika kamu memiliki sistem pendukung. Mentor, rekan kerja, atau teman yang dipercaya dapat membantumu melihat kemampuan secara lebih objektif sekaligus memberi semangat saat rasa percaya diri menurun.

Kamu juga bisa bergabung dengan komunitas profesional atau lingkungan yang suportif. Dukungan dari orang-orang di sekitarmu akan membuatmu lebih berani berkembang tanpa terus merasa harus sempurna.

Mengurangi kebiasaan terlalu kritis terhadap diri sendiri bukan berarti berhenti mengevaluasi kesalahan. Sebaliknya, kamu belajar melihat kekurangan secara lebih objektif tanpa mengabaikan kelebihan yang dimiliki. Dengan pola pikir yang lebih sehat, kamu pun bisa lebih percaya diri menghadapi tantangan dan terus berkembang dalam karier.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article