ilustrasi sibuk (pexels.com/Pavel Danilyuk)
Hari kerja yang melelahkan bisa membuat siapa pun ingin mengundurkan diri. Konflik dengan atasan, pekerjaan yang menumpuk, atau target yang tidak masuk akal sering memicu keputusan impulsif. Karena itu, penting membedakan antara keinginan sesaat dengan keputusan yang memang sudah dipikirkan dalam waktu lama.
Salah satu cara sederhana adalah memperhatikan konsistensi keinginan tersebut. Apakah pikiran untuk keluar tetap muncul saat kondisi pekerjaan sedang baik-baik saja, atau hanya datang ketika sedang kesal. Jika keinginan itu tetap bertahan dalam berbagai situasi, biasanya ada alasan yang lebih mendalam daripada sekadar emosi sesaat.
Resign tanpa backup plan bukan keputusan yang otomatis salah maupun benar. Setiap orang memiliki kondisi hidup, kebutuhan, dan pertimbangan yang berbeda-beda. Sebelum mengambil langkah besar tersebut, sudahkah alasan yang dimiliki benar-benar berasal dari diri sendiri, bukan dari tekanan atau ekspektasi orang lain? Jika belum, kamu bisa menggunakan cara mengukur kesiapan mental sebelum keluar dari pekerjaan agar langkahmu lebih optimal.