Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Cara Menjaga Fokus saat Rekan Kerja Sering Mengeluh
ilustrasi rekan kerja mengeluh (magnific.com/magnific)
  • Bedakan empati dari tanggung jawab pribadi; mendengarkan keluhan rekan tidak berarti harus menyelesaikan masalah mereka hingga mengabaikan tenggat pekerjaan sendiri.
  • Batasi percakapan secara sopan dengan menyampaikan kebutuhan menyelesaikan tugas, serta kenali jika keluhan membuat suasana hati memburuk, pesimis, atau sulit berkonsentrasi.
  • Kembalikan fokus melalui langkah kerja konkret dan pilih interaksi yang lebih seimbang, agar tetap peduli tanpa menjadikan keluhan sebagai pusat aktivitas kerja.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bekerja di kantor bukan cuma soal menyelesaikan tugas dan mengejar tenggat. Kamu juga perlu menghadapi beragam karakter, termasuk rekan yang hampir selalu punya bahan keluhan. Jika berlangsung setiap hari, obrolan seperti ini bisa menguras perhatian dan membuat pekerjaan terasa lebih berat, bahkan sebelum hari kerja benar-benar berjalan.

Kamu mungkin ingin menjaga hubungan baik, tetapi juga perlu menyelesaikan tanggung jawab sendiri. Apalagi, keluhan yang terus terdengar bisa memengaruhi suasana hati meski masalahnya bukan milikmu. Yuk, simak lima cara menjaga fokus saat rekan kerja sering mengeluh!

1. Bedakan empati dan tanggung jawab

ilustrasi rekan kerja mengeluh (magnific.com/KamranAydinov)

Saat rekan mengeluhkan atasan atau beban kerja, kamu mungkin spontan ikut menyimak. Kamu lalu memberi saran, menimpali cerita, bahkan ikut kesal, padahal tenggatmu sendiri semakin dekat. Tanpa sadar, waktu dan perhatianmu tersedot oleh persoalan yang belum tentu bisa kamu ubah.

Mendengarkan merupakan bentuk kepedulian, tetapi bukan berarti kamu wajib menyelesaikan masalah orang lain. Coba tanyakan pada diri sendiri apakah masukanmu memang dibutuhkan atau kamu sekadar terbawa suasana. Kamu tetap bisa berempati sambil mengingat bahwa tanggung jawab utamamu adalah pekerjaanmu sendiri.

2. Batasi obrolan dengan cara yang sopan

ilustrasi perempuan mengobrol (pexels.com/Mikhail Nilov)

Keluhan singkat saat membuat kopi bisa berubah menjadi obrolan panjang tentang kantor. Ketika kamu terus menanggapi, rekan mungkin menganggapmu selalu punya waktu untuk mendengarkan cerita serupa. Akhirnya, pekerjaan tertunda dan kamu kesulitan kembali ke ritme semula.

Kamu gak perlu memotong pembicaraan dengan ketus atau mengabaikan orang tersebut. Katakan bahwa kamu harus menuntaskan tugas sebelum tenggat, lalu lanjutkan pekerjaan tanpa memperpanjang percakapan. Batasan yang disampaikan dengan tenang membantu menjaga hubungan profesional sekaligus melindungi waktumu.

3. Sadari kapan keluhan mulai memengaruhimu

ilustrasi perempuan bekerja (pexels.com/ Karola G)

Setelah mendengar komentar negatif tentang proyek, kamu bisa ikut meragukan pekerjaan sebelum mencobanya. Kritik yang terus berulang juga dapat membuat masalah kantor terasa lebih besar daripada keadaan sebenarnya. Karena itu, penting untuk mengenali perubahan suasana hati setelah terlibat dalam percakapan semacam ini.

Perhatikan apakah kamu menjadi lebih pesimis, mudah kesal, atau sulit berkonsentrasi setelah mendengarkan keluhan. Jika pola itu muncul, ambil jeda singkat atau pindah ke tempat yang lebih tenang bila memungkinkan. Mengenali pemicu bukan berarti menyalahkan rekan, melainkan memahami kondisi yang membuat fokusmu mudah terganggu.

4. Kembalikan perhatian pada tugas yang jelas

ilustrasi perempuan fokus bekerja (magnific.com/KamranAydinov)

Percakapan yang mengganggu gak selalu berhenti ketika rekan kembali ke mejanya. Pikiranmu mungkin masih mengulang ceritanya, sementara dokumen di layar belum juga selesai dibaca. Akibatnya, pekerjaan sederhana memakan waktu lebih lama dan tugas lain ikut menumpuk.

Jangan menunggu suasana hati kembali sempurna untuk mulai bekerja lagi. Pilih satu langkah kecil, seperti menyelesaikan satu surel atau memeriksa bagian laporan yang paling mendesak. Target yang konkret membantu perhatian kembali ke hal yang bisa kamu kendalikan, bukan ke keluhan yang sudah berlalu.

5. Cari interaksi yang lebih seimbang

ilustrasi mengobrol dengan rekan kerja (pexels.com/Ivan S)

Bukan berarti setiap orang yang mengeluh membawa energi negatif di kantor. Rekan kerja juga perlu ruang untuk bercerita ketika menghadapi tekanan, dan percakapan jujur bisa membantu mencari jalan keluar. Yang melelahkan adalah ketika setiap obrolan selalu berakhir pada keluhan tanpa keinginan untuk mencari solusi, hingga suasana kerja ikut terasa berat bagi semua orang.

Cobalah tetap terbuka kepada rekan lain yang bisa membahas tantangan sekaligus kemungkinan langkah berikutnya. Kamu gak perlu menghindari seseorang sepenuhnya, tetapi boleh memilih kapan dan seberapa lama terlibat dalam percakapan. Lingkungan sosial yang seimbang membuatmu tetap peduli tanpa menjadikan keluhan sebagai pusat hari kerja.

Menjaga fokus bukan berarti kamu harus bersikap dingin kepada orang yang sedang kesulitan. Cara menjaga fokus saat rekan kerja sering mengeluh bisa dimulai dengan membedakan kapan bisa mendengarkan dan kapan harus kembali membatasi diri. Energi mentalmu juga bagian dari tanggung jawab kerja, jadi gunakan dengan sadar.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article