Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
VIVERE Ciptakan Ruang Kerja Sesuai Kebutuhan lewat Desain Fleksibel
DFL Conference 2026 bertajuk "The Connected Workspace: Built on Culture. Driven by People. Powered by Technology" di Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, pada Kamis (8/10/2026) (IDN Times/Fadila N. Aziziyah)
  • VIVERE Group memperkenalkan Desain for Life melalui DFL Conference 2026 sebagai komunitas untuk mendukung masa depan ruang kerja berbasis budaya perusahaan, kebutuhan pekerja, dan teknologi.
  • Desain workspace kini diarahkan agar efisien, fleksibel, dan ekonomis, dengan perencanaan jangka panjang serta fasilitas berbasis aktivitas seperti sistem booking, sensor otomatis, phone booth, dan napping pod.
  • Keselarasan desain, budaya perusahaan, dan kebutuhan karyawan dinilai memengaruhi kenyamanan serta produktivitas; VIVERE mendorong kolaborasi klien, desainer, kontraktor, konsultan, dan manajer proyek.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Ruangan dengan ukuran cukup luas dipenuhi pekerja dengan berbagai kesibukannya. Lengan bergerak aktif mengetik, mata fokus menatap layar, hingga wajah serius yang tengah menyelesaikan pekerjaan. Berbagai aktivitas tersebut berlangsung dalam satu ruangan di sebuah perusahaan. Namun, ini bukan semata tentang kesibukan para pekerja, melainkan tempat yang menjadi ruang bagi mereka untuk menyelesaikan pekerjaan setiap harinya.

Ruangan tersebut tampak memiliki desain yang dibuat untuk memberikan pengalaman kerja yang baik. Namun, apakah desain tersebut benar-benar mampu menjawab kebutuhan para pekerjanya? Hal ini berkaitan dengan fasilitas yang dibangun berdasarkan budaya perusahaan dan kebutuhan pekerja. Ketepatan dalam merancang ruang kerja menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Hal inilah yang coba dihadirkan VIVERE Group melalui inisiasi Desain for Life (DFL) yang diperkenalkan lewat DFL Conference 2026 bertajuk "The Connected Workspace: Built on Culture. Driven by People. Powered by Technology" di Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, pada Kamis (8/10/2026). DFL hadir sebagai komunitas yang mendukung masa depan tempat kerja.

Setiap ruang kerja merupakan bagian dari representasi budaya perusahaan yang dibangun untuk para pekerja. Perkembangan teknologi juga menjadi salah satu hal yang perlu disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Melihat bagaimana ruang kerja digunakan untuk menjalankan berbagai aktivitas, menciptakan ide, hingga menyelesaikan pekerjaan, komunitas yang berfokus pada desain ruang kerja menjadi salah satu wadah penting untuk mempertemukan berbagai perspektif.

1. Ruang kerja dirancang agar efisien, fleksibel, dan ekonomis

DFL Conference 2026 bertajuk "The Connected Workspace: Built on Culture. Driven by People. Powered by Technology" di Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, pada Kamis (8/10/2026) (IDN Times/Fadila N. Aziziyah)

Melangkahkan kaki ke dalam kantor, kemudian melihat bagaimana ruangan ditata untuk menyediakan tempat bekerja, menjadi pemandangan yang ditemui setiap hari. Seiring perkembangan zaman dan kebutuhan pekerja, ruang kerja tidak lagi hanya berkaitan dengan jumlah ruangan ataupun gaya estetika. Lebih dari itu, rancangannya perlu disesuaikan dengan budaya dan arah perusahaan.

"Menciptakan ruang kerja bukan lagi tentang seberapa banyak ruang yang dimiliki atau seperti apa estetika ruangan tersebut. Namun, bagaimana perusahaan secara visioner melihat rencana yang akan dibuat untuk tahun-tahun berikutnya. Perencanaan ini sangat berpengaruh terhadap desain yang dibutuhkan agar dapat menciptakan ruangan yang efisien, fleksibel, serta ekonomis. Perancangan desain juga berkaitan dengan culture perusahaan yang berbeda-beda sehingga dibutuhkan penyesuaian agar rancangan yang dibuat dapat digunakan secara optimal," ungkap Fayruzka Juanita, Design Director Studio Yruna saat momen press conference.

Memandang kembali ruang yang menjadi tempat untuk bertumbuh dan berkembang, ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan dalam perancangannya. Apa yang dihadirkan perusahaan bukan lagi sekadar ruangan yang dipenuhi sekat, melainkan desain yang mampu memproyeksikan pertumbuhan karyawan, kebutuhan perusahaan, dan ways of working organisasi. Dengan begitu, workspace dapat tetap efisien dan fleksibel tanpa membutuhkan biaya pembenahan besar di kemudian hari.

2. Adaptasi teknologi menjadi kebutuhan masa kini di lingkup perusahaan

DFL Conference 2026 bertajuk "The Connected Workspace: Built on Culture. Driven by People. Powered by Technology" di Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, pada Kamis (8/10/2026) (IDN Times/Fadila N. Aziziyah)

Duduk di atas kursi dengan lengan yang sibuk menekan tombol keyboard, ditemani perangkat elektronik yang dapat digunakan kapan saja, membuat teknologi terasa semakin dekat dengan aktivitas sehari-hari. Tidak hanya membantu menyelesaikan pekerjaan, teknologi kini turut memengaruhi bagaimana sebuah workspace dirancang.

"Saya merasa bahwa workspace bukan hanya sekadar ruangan ataupun gedung. Workspace adalah tempat kita bekerja, mencari, membangun, dan menciptakan experience. Mungkin, saat ini kita tidak lagi menyebutnya berdasarkan berapa headcount, tetapi berdasarkan fungsi masing-masing," jelas Naila Djatmika, Managing Director DesignPartners Indonesia (DPI).

Sebuah laptop yang selalu digunakan setiap hari, perangkat genggam yang menemani berbagai aktivitas, hingga koneksi internet yang membuat pekerjaan terasa lebih cepat, menjadi bagian dari ekosistem kerja saat ini. Perkembangan tersebut kemudian turut mendorong perubahan dalam penyediaan ruang kerja.

Konsep workspace pun mulai bergeser dari meja kerja yang bersifat tetap atau dedicated desk, menuju ruang yang lebih fleksibel berdasarkan aktivitas. Berbagai dukungan teknologi, seperti sistem booking ruangan dan sensor pencahayaan otomatis, juga dapat diterapkan untuk menunjang kebutuhan pekerja. Fasilitas seperti phone booth hingga napping pod turut menjadi bagian dari ruang kerja yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi operasional sekaligus kenyamanan pekerja.

3. Keselarasan antara workspace, culture, dan produktivitas karyawan

DFL Conference 2026 bertajuk "The Connected Workspace: Built on Culture. Driven by People. Powered by Technology" di Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, pada Kamis (8/10/2026) (IDN Times/Fadila N. Aziziyah)

Ruang kerja bukan sekadar tempat untuk menjalankan aktivitas maupun solusi fisik bagi perusahaan. Lebih dari itu, workspace menjadi bagian dari pengalaman yang dirasakan karyawan setiap harinya. Kembali memandang seluruh ruangan, tempat tersebut menjadi space yang menemani berbagai aktivitas, mulai dari menyelesaikan pekerjaan hingga bertukar ide bersama rekan kerja.

"Jika karyawan merasa nyaman saat berada di dalam ruang kerja dan merasa bahwa ruang tersebut dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, hal ini dapat memengaruhi produktivitas mereka. Lingkungan tersebut tidak terlepas dari desain ruangan yang diciptakan untuk menjawab kebutuhan karyawan sehingga dapat menunjang kegiatan dan membuat mereka lebih produktif," kata Audya Medina, Head of People & Culture IDN.

Sebaliknya, desain yang terasa kurang sesuai dengan kebutuhan dapat membuat pekerja merasa tidak nyaman berada di dalamnya. Ruang yang seharusnya digunakan untuk menunjang aktivitas pun, berpotensi tidak dimanfaatkan secara optimal. Jika desain fisik tidak selaras dengan budaya perusahaan dan kebutuhan demografi pekerja, termasuk Milenial dan Gen Z, produktivitas karyawan dapat menurun dan pencapaian target organisasi menjadi tidak optimal.

4. Hadirkan pendekatan komunitas dan kolaborasi multidisiplin

DFL Conference 2026 bertajuk "The Connected Workspace: Built on Culture. Driven by People. Powered by Technology" di Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, pada Kamis (8/10/2026) (IDN Times/Fadila N. Aziziyah)

Perusahaan selalu dipenuhi lalu-lalang pekerja dengan aktivitas masing-masing. Di balik berbagai kegiatan tersebut, terdapat banyak pihak yang turut berperan dalam menciptakan ruang kerja, mulai dari klien, kontraktor, desainer interior, konsultan properti, hingga manajer proyek. Setiap pihak membawa perspektif yang berbeda dalam menentukan kebutuhan sebuah workspace.

"Dan kami merasa tidak ada satu disiplin yang bisa berdiri sendiri. Sendirian bukanlah pilihan untuk mengubah industri. Oleh karena itu, kami menciptakan dan mengenalkan komunitas Desain for Life sebagai jawaban atas kebutuhan akan desain ruang kerja yang fungsional. Ini tentang bagaimana kita harus bersama-sama elevate the industry dan it has to be growth within the community," kata William Simiadi, President Director VIVERE Group.

Transformasi industri tidak dapat dilakukan oleh satu pihak secara individu. Dibutuhkan wadah berupa ekosistem atau komunitas untuk mempertemukan berbagai perspektif dan meningkatkan standar industri secara menyeluruh. Melalui Desain for Life, VIVERE Group berusaha menghadirkan ruang kolaborasi bagi berbagai pihak untuk memahami kebutuhan workspace berdasarkan budaya perusahaan dan kebutuhan karyawan.

Pada akhirnya, ruang kerja bukan hanya tentang ruangan yang berisi kursi, meja, dan elemen estetika. Lebih dari itu, workspace perlu dirancang dengan mempertimbangkan arah bisnis, budaya perusahaan, kebutuhan pekerja, perkembangan teknologi, serta cara kerja yang terus berubah. Melalui pendekatan yang lebih fleksibel dan kolaboratif, desain ruang kerja dapat menjadi bagian dari pengalaman bekerja yang lebih nyaman sekaligus mendukung produktivitas karyawan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article