5 Dilema Pegawai Lajang saat Rekan Kerja Utang di Akhir Bulan

- Pegawai lajang punya tanggungan dan kebutuhan masa depan yang menguras gaji bulanan
- Menolak memberi pinjaman bisa membuat pegawai lajang dicap sebagai orang pelit
- Pegawai lajang sering jadi korban "teror" utang dari rekan kerja yang sudah berumah tangga
Pegawai yang masih lajang, biasanya sering dijadikan incaran pinjaman berjalan oleh lingkungan kerja dan sekitarnya. Mengapa bisa begitu? Biasanya para kaum lajang atau jomlo ini dianggap masih belum punya tanggungan, sehingga gaji bulanan disangka utuh tanpa potongan. Ibarat gula dikerubungi semut, pegawai lajang saat tanggal tua bakalan diserbu banyak orang untuk dimintai jatah utang bulanan.
Hal ini tentu bikin gak nyaman beberapa orang yang statusnya masih jomlo. Selain itu, mereka juga merasakan dilema pegawai lajang saat rekan kerja utang di akhir bulan. Gak meminjamkan dikira pelit, namun meminjamkan juga bikin alur keuangan pribadi terganggu.
1. Dipikir gajinya utuh, padahal bisa jadi lajang punya cicilan bahkan kebutuhan buat masa depan

Dianggap belum punya tanggungan, pegawai lajang sering dikira banyak uang karena gajinya utuh tiap bulan. Padahal, kalau dipikir-pikir, selama manusia hidup, setiap orang punya pos pengeluaran dan keperluannya sendiri-sendiri. Secara umum memang yang berumah tangga punya kebutuhan yang kompleks, tapi bukan berarti yang masih lajang bebas dari biaya-biaya utama yang menguras gaji bulanan.
Ketika yang sudah berkeluarga ngotot ngerasa paling punya beban pengeluaran, lajang juga bisa jadi punya kebutuhan yang besarnya lumayan. Belum lagi dia harus melunasi cicilan, tanggungan, atau bahkan menyisihkan tabungan buat kebutuhan di masa depan. Bukankah lajang harus punya rencana jangka panjang biaya pernikahan yang harus dipersiapkan secara matang mulai dari sekarang? Jadi, yang sudah berumah tangga jangan egois dikit-dikit pinjam kepada lajang karena mereka juga punya prioritas keuangan.
2. Sekali saja menolak beri pinjaman, maka selamanya dica orang pelit sedunia

Dilema kedua pegawai lajang saat lingkungan sekitarnya pinjam uang, rentan dicap sebagai orang pelit kalau menolak ngasih utang. Meski sebelumnya sudah sering utang berkali-kali, namun sekali gak ngasih, orang bakalan langsung fokus ke hal negatif di ujungnya. Beberapa dari mereka juga biasanya ngambek dan baper seolah yang dipinjami uang merupakan orang paling tega sedunia.
Beberapa orang yang utang lebih dari sekali biasanya bakalan memuji habis-habisan saat berhasil dapat utang. Namun, kalau gagal ngutang, dia bakalan bereaksi berlebihan dengan koar-koar menyebut orang yang diminta utang sebagai kaum kikir. Meminjamkan uang bertahun-tahun, dikalahkan dengan saat gak ngasih pinjaman dalam satu hari.
3. Tanggal tua bakalan "diteror" oleh banyak orang, biasanya mereka yang sudah berumah tangga

Pegawai lajang biasanya sering jadi korban "teror" rekan kerjanya yang sudah berumah tangga saat akhir bulan. Terutama bagi yang pendapatannya habis buat tutup lobang di awal bulan, dia bakalan cari jalan pintas dengan utang kepada rekan kerja yang belum berumah tangga. Apalagi kalau sudah kenal dekat, mereka gak segan-segan pinjam dengan berbagai alasan sambil adu nasib dengan menyebutkan lis pengeluaran pribadinya.
Meski sudah berusaha menghindar, dia tidak akan bisa lepas dari teror utang karena masih berada dalam lingkup kerja yang sama. Naasnya, bukan hanya rekan kerja ruang kantor yang sama, teror juga biasanya berasal dari pegawai dari divisi lain yang entah kenapa tiba- tiba langsung merasa sudah kenal dekat. Alih-alih hidup tenang dan bisa menyisihkan gaji buat simpanan, dia malah terjebak dalam teror utang tak berkesudahan di lingkungan kerja setiap bulan.
4. Dia bakalan terjepit antara kondisi keuangan pribadi, pertemanan, dan kekeluargaan

Sudah pasti, pegawai yang belum menikah bakalan langsung dilema saat rekan-rekan kerjanya mulai berutang tepat pada akhir bulan. Tak hanya dari sesama pegawai, dia juga bakalan jadi "incaran" keluarga besar, rekan sejawat, dan kenalan lain perihal masalah pinjam uang. Padahal, dia juga sebenarnya punya kebutuhan pribadi lain yang harus ditutupi saat gajian.
Maka dari itu, pegawai yang masih lajang biasanya akan merasa bingung terkait pendapatan yang dimilikinya. Saat menerima gaji, dia bakalan terjepit antara kebutuhan pribadi, kebutuhan keluarga besar dan kawan, atau utang rekan kerjanya sendiri. Kalau dihitung-hitung, banyaknya jumlah utang orang-orang di lingkungan sekitar nilanya hampir sama dengan jumlah gaji yang diterimanya saban akhir bulan.
5. Awal merasa gak tega, akhirnya menyesal saat utang belum dibayar

Kebanyakan orang yang meminjamkan uang kepada kawan, biasanya didasari atas rasa iba dan perasaan gak tega. Terlebih jika yang meminjam menceritakan drama-drama kebutuhan rumah tangganya yang mendesak dan tak bisa ditunda. Ditambah dengan iming-iming bayar tepat waktu, pegawai lajang terpaksa meminjamkan uangnya meski harus mengorbankan kebutuhannya sendiri.
Ketika tenggat tiba dan dia belum bayar dengan berbagai alasan klise, pegawai lajang mulai menyesal sudah meminjamkan uang. Mau nagih sungkan, tapi gak ditagih dia malah keenakan. Yang tersisa biasanya cuma penyesalan bahwa terlalu baik jadi orang juga bukan pilihan bijak dan sama sekali tidak dianjurkan.
Ketika kamu tahu ada dilema pegawai lajang saat rekan kerja utang di akhir bulan, pahami bahwa mereka juga punya kebutuhan tersendiri yang gak kalah pentingnya. Jadi, jangan mentang-mentang pegawai lajang belum punya tanggungan, jangan seenaknya utang karena mereka juga punya kebutuhan. Pahami mereka juga, ya!

















