Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kamu Malah Canggung Saat Dapat Pujian dari Bos? Ini Alasannya
ilustrasi mendapat pujian (pexels.com/Ketut Subiyanto)
  • Rasa canggung saat menerima pujian profesional sering muncul karena kebiasaan membandingkan diri dengan orang yang lebih berpengalaman atau memiliki posisi lebih tinggi.
  • Pujian profesional berbeda dari basa-basi karena didasarkan pada kinerja nyata dan pencapaian yang terukur, bukan sekadar kata-kata manis tanpa alasan jelas.
  • Menerima pujian seharusnya menjadi bentuk apresiasi atas usaha dan motivasi untuk terus berkembang, bukan alasan untuk merasa minder atau meragukan diri sendiri.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kebanyakan orang merasa senang sekali kalau dipuji. Dari siapa pun pujian datang, mereka menyambutnya dengan positif. Mereka merasa diapresiasi. Pujian juga terasa meningkatkan kepercayaan diri.

Namun, ada pula orang yang bersifat sepertimu. Kamu malah merasa malu sampai rendah diri bila dipuji oleh orang lain. Termasuk pujian profesional yang diberikan dalam konteks pekerjaanmu. Seperti kamu dipuji mampu memecahkan masalah dengan cepat serta efektif.

Atau, kamu bisa memimpin tim dengan baik dan sebagainya. Perasaan rendah diri seperti ini tidak tepat. Jangan membiarkannya menetap dalam dirimu. Kamu kudu paham dari mana rasa minder muncul ketika memperoleh pujian profesional serta cara mengatasinya.

1. Rasa rendah diri muncul karena perbandingan ke atas

ilustrasi mendapat pujian (pexels.com/RDNE Stock project)

Dalam perbandingan, ada kecenderungan membandingkan diri dengan orang yang lebih darimu atau justru di bawahmu dalam konteks tertentu. Ketika kamu membandingkan diri dengan orang yang di bawahmu akan muncul perasaan lebih baik, bersyukur, sampai bisa pula rasa jemawa. Hal sebaliknya terjadi dalam perbandingan ke atas.

Misal, dirimu dipuji atasan sebagai karyawan baru yang hebat karena baru setahun bekerja sudah memberikan dampak positif buat kemajuan kantor. Namun, kamu segera membandingkan peranmu dengan peran seorang manajer berpengalaman, misalnya. Ia sudah bekerja di kantor tersebut bertahun-tahun.

Tentu muncul perasaan kamu belum ada apa-apanya darinya. Di atas langit akan selalu ada langit. Kalau kamu ingin membandingkan diri pastikan apple to apple. Seperti antara dirimu dengan karyawan dengan masa kerja serta posisi kurang lebih sama.

2. Pujian profesional punya ukuran jelas, beda dengan basa basi

ilustrasi mendapat pujian (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Dalam kehidupan sehari-hari dan sepanjang usiamu, kamu bisa menerima pujian dari siapa saja. Seperti teman memuji penampilanmu, orang yang naksir kamu memuji kebaikanmu, dan sebagainya. Dari sekian banyak pujian yang diterima, malah pujian profesional yang paling dapat dipertanggungjawabkan.

Tidak mungkin atasan atau rekan kerja kasih pujian ke karyawan yang kemampuan kerjanya rendah. Apalagi staf pemalas yang hanya menambah beban kerja teman-temannya. Pujian dalam konteks profesional pasti memiliki alasan yang jelas.

Seperti capaian kerjamu yang di atas rata-rata atau bukti kamu tidak pernah hadir terlambat di kantor serta pulang lebih cepat dari jam yang seharusnya. Orang-orang di kantor terlalu sibuk untuk royal kasih pujian cuma buat melambungkan perasaanmu. Terlebih saat apresiasi verbal datang dari bos. Bila kamu gak berhasil menarik perhatiannya dengan kinerja memuaskan, bukan pujian yang diperoleh melainkan teguran dan ceramah.

3. Berdasarkan fakta saja

ilustrasi mendapat pujian (pexels.com/Mikhail Nilov)

Hanya mengikuti perasaan sangat rawan keliru. Utamanya rasa rendah diri yang mudah membesar seiring kamu terus memikirkannya. Dirimu seolah-olah menemukan lebih banyak pembenaran buat meragukan ketulusan sebuah pujian.

Semuanya diawali dengan kata jangan-jangan. Seperti jangan-jangan pujian teman atau bos sesungguhnya dimaksudkan sebagai sindirian. Kembalikan fokusmu ke fakta yang telah terjadi saja.

Contoh, kamu dipuji habis-habisan oleh atasan karena mampu menjual produk lebih banyak dibandingkan capaian penjualan semua sales sejak produk diluncurkan. Angka penjualannya sudah jelas. Cukup jadikan angka itu sebagai dasar untukmu tidak perlu overthinking atas pujian yang diperoleh.

Bahkan bila cara atasan memuji terasa berlebihan, kamu tetap pantas menerimanya. Cara memujinya memang agak lebai. Namun, itu tak mengurangi realitas keberhasilanmu dalam menjual produk.

4. Ingat-ingat susah dan capeknya dirimu dalam berusaha

ilustrasi mendapat pujian (pexels.com/Felicity Tai)

Kalau kamu mendadak minder saat memperoleh pujian profesional, sebenarnya ini justru tak ubahnya pengkhianatan pada diri sendiri. Seakan-akan kamu lupa betapa besar usahamu selama ini. Padahal, tentu bekerja sekeras itu juga bikin lelah dan stres.

Seharusnya pujian yang diterima menjadi angin segar yang mengeringkan peluhmu. Juga air dingin yang membasahi kerongkongan. Jangan malah ada perasaan kamu tidak pantas menerimanya.

Selalu katakan pada diri sendiri bahwa kamu layak memperolehnya. Orang lain telah mampu mengukur upayamu dan menunjukkan apresiasi. Jangan malah kamu sendiri bersikap seolah-olah hendak memblokade jalan sehingga pujian yang datang gagal sampai ke hatimu apalagi membuatmu tersanjung.

5. Jika ini pujian pertama, jadikan motivasi panen lebih banyak pujian

ilustrasi mendapat pujian (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Baru pertama kali menerima pujian profesional juga bisa membuatmu merasa aneh dan gak pantas. Bahkan bila masa kerjamu sudah lama. Dahulu kamu sangat mengharapkan pujian seperti itu.

Akan tetapi, setelah tahun demi tahun berlalu dan orang lain yang selalu mendapatkannya, dirimu pun tak lagi memikirkannya. Kamu menjalani pekerjaan seperti seharusnya saja. Namun, tiba-tiba impian lama itu datang dengan sendirinya.

Dirimu merasa kaget dan bingung. Kamu menjadi ragu. Benar atau tidak pujian itu ditujukan padamu? Kalaupun benar, apakah ini hanya semacam hadiah hiburan setelah masa kerjamu yang panjang? Berhentilah terlalu memikirkannya.

Lebih baik menjadikan pujian pertama sebagai motivasi untukmu menunjukkan kinerja yang kian baik. Sehingga pujian pertama bukanlah yang terakhir. Justru pujian pertama bakal disusul oleh pujian-pujian berikutnya. Memimpikan serta serius mengusahakannya bukan sifat ambisius yang tidak sehat atau haus akan validasi. Kamu justru punya motivasi berprestasi yang lebih tinggi daripada sebelumnya.

Pujian profesional adalah bentuk pengakuan atas kinerja dan kemampuanmu. Tidak seharusnya kamu merasa rendah diri. Rayakan pujian tersebut tanpa menjadi sombong. Namun, jangan pula dirimu malah merasa gak pantas memperolehnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article