Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Quarter Life Crisis Apakah Normal? Ini Penjelasan Psikologinya!

Quarter Life Crisis Apakah Normal? Ini Penjelasan Psikologinya!
Ilustrasi merenung (pexels.com/Alexey Demidov)

Memasuki usia 20-an sering kali terasa membingungkan. Di satu sisi, kamu dituntut untuk mulai serius memikirkan karier, keuangan, dan masa depan, tapi di sisi lain, kamu masih mencari jati diri dan arah hidup. Perasaan ragu, cemas, bahkan membandingkan diri dengan orang lain bisa muncul tanpa disadari.

Kondisi ini sering disebut sebagai quarter life crisis, dan ternyata itu hal yang cukup umum terjadi. Banyak orang mengalami fase ini sebagai bagian dari proses berkembang. Lalu quarter life crisis apakah normal? Ini penjelasan psikologinya.

1. Apa itu quarter life crisis?

Ilustrasi merenung (pexels.com/FOERDER ZONE)
Ilustrasi merenung (pexels.com/FOERDER ZONE)

Quarter life crisis adalah fase ketika seseorang di usia sekitar 20–30 tahun merasa bingung, cemas, atau tidak yakin dengan arah hidupnya. Perasaan ini biasanya muncul saat kamu mulai menghadapi realita kehidupan dewasa, seperti pekerjaan, hubungan, dan tanggung jawab.

“Krisis seperempat kehidupan umumnya merujuk pada periode ketidakpastian dan kecemasan di usia dewasa muda, sekitar pertengahan dua puluhan hingga tiga puluhan,” kata pekerja sosial klinis berlisensi Madeline Weinfeld Shill dikutip dari Project Healthy Minds.

Di fase ini, banyak orang mulai mempertanyakan pilihan hidupnya. Kamu mungkin merasa tertinggal dibanding teman, ragu dengan karier yang dipilih, atau bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya kamu inginkan. Hal-hal ini bisa membuat pikiran terasa penuh dan tidak tenang.

“Biasanya orang merasa kewalahan dengan tahap kehidupan ini karena cenderung menjadi waktu yang penuh dengan keputusan tanpa akhir yang semuanya terasa sangat penting bagi perjalanan hidup seseorang,” tambah Madeline.

2. Kenapa quarter life crisis bisa terjadi?

Ilustrasi merenung (pexels.com/An Vuong)
Ilustrasi merenung (pexels.com/An Vuong)

Salah satu penyebab utama quarter life crisis adalah tekanan sosial. Kamu mungkin sering melihat pencapaian orang lain di media sosial, lalu tanpa sadar membandingkannya dengan hidupmu sendiri. Hal ini bisa membuat kamu merasa kurang atau tertinggal.

"Dalam hal ini, bisa terasa stres ketika kamu merasa mengikuti jalan yang sangat berbeda dari teman-teman sebayamu. Misalnya, jika semua temanmu menikah dan kamu masih lajang dan fokus pada karier, atau sebaliknya," jelas Madeline.

Selain itu, perubahan besar dalam hidup juga bisa memicu perasaan ini. Misalnya, lulus kuliah, mulai bekerja, atau harus mandiri secara finansial. Semua perubahan ini datang dalam waktu yang hampir bersamaan, sehingga terasa cukup membebani.

Faktor lain adalah kurangnya kejelasan tujuan hidup. Saat kamu belum benar-benar tahu apa yang ingin dicapai, wajar jika muncul rasa bingung dan tidak pasti. Ini bukan karena kamu gagal, tapi karena kamu sedang dalam proses mencari arah.

3. Apakah quarter life crisis itu normal secara psikologis?

Ilustrasi merenung (pexels.com/ArtHouse Studio)
Ilustrasi merenung (pexels.com/ArtHouse Studio)

Dari sudut pandang psikologi, quarter life crisis adalah hal yang normal. Ini merupakan bagian dari perkembangan manusia, terutama saat seseorang berpindah dari fase remaja ke dewasa. Di tahap ini, kamu mulai membangun identitas diri yang lebih jelas.

Perasaan cemas, ragu, dan takut yang muncul sebenarnya adalah tanda bahwa kamu sedang berpikir lebih dalam tentang hidupmu. Ini menunjukkan bahwa kamu peduli dengan masa depan dan ingin membuat keputusan yang tepat.

"Ketidaknyamanan ini sebenarnya merupakan tanda bahwa kamu sedang tumbuh menjadi versi dirimu yang baru dan dirimu yang versi lama tidak lagi cocok," jelas advokat kesehatan mental Jemma Sbeg dikutip dari Psychology Today.

"Namun, yang memperumit krisis ini adalah jenis keputusan atau jalan hidup yang berlawanan yang perlu dipertimbangkan," tambah Jemma.

Selama perasaan tersebut masih bisa dikendalikan dan tidak mengganggu aktivitas sehari-hari secara berlebihan, kondisi ini masih dianggap wajar. Justru, fase ini bisa membantu kamu tumbuh menjadi pribadi yang lebih matang.

4. Dampak yang bisa dirasakan

Ilustrasi merenung (pexels.com/Mert Coşkun)
Ilustrasi merenung (pexels.com/Mert Coşkun)

Quarter life crisis bisa memengaruhi berbagai aspek kehidupan. Kamu mungkin jadi lebih mudah overthinking, merasa tidak percaya diri, atau kehilangan motivasi. Bahkan hal kecil bisa terasa lebih berat dari biasanya.

"Kamu merasa depresi. Kamu mungkin merasa sangat kewalahan oleh pertanyaan eksistensial dan merasa terputus dalam kehidupan sehari-hari, ketika kamu tidak tahu siapa dirimu atau apa yang kamu hargai, menyebabkan perasaan depresi," kata pekerja sosial Abby Wilson dikutip dari Project Healthy Minds.

Dalam beberapa kasus, kondisi ini juga bisa memengaruhi hubungan dengan orang lain. Kamu mungkin jadi menarik diri, merasa tidak dimengerti, atau sulit mengambil keputusan dalam hubungan.

"Kita lebih menyukai hasil yang bisa kita prediksi atau lihat, dan karena kekacauan dekade ini dan keputusan yang perlu kita buat, secara alami bisa memicu banyak stres dan ketidaknyamanan psikologis," kata Jemma.

Namun di balik itu, ada sisi positif yang bisa muncul. Fase ini sering kali menjadi titik awal perubahan. Banyak orang justru menemukan passion, tujuan hidup, atau jalan baru setelah melewati masa ini.

“Melihat (quarter life crisis) sebagai kesempatan untuk menemukan kembali vitalitas kamu, apa yang benar-benar membuatmu merasa hidup, bisa sangat mengasyikkan, meskipun prosesnya tidak mudah atau nyaman,” saran Wilson.

5. Cara menghadapi quarter life crisis dengan lebih sehat

Ilustrasi merenung (pexels.com/ivi nnnnnn)
Ilustrasi merenung (pexels.com/ivi nnnnnn)

Langkah pertama yang bisa kamu lakukan adalah menerima perasaan yang kamu alami. Jangan menolak atau menganggapnya sebagai kelemahan. Dengan menerima, kamu bisa lebih tenang dalam memahami apa yang sebenarnya kamu butuhkan.

“Ingatlah bahwa akan terus ada kesempatan untuk membuat keputusan dan mengubah arah, jadi apa yang kamu lakukan hari ini tidak perlu merasa seperti apa yang akan kamu lakukan selamanya,” kata Weinfeld Shill.

Coba juga untuk mengurangi kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Fokus pada perjalananmu sendiri, karena setiap orang punya waktu dan proses yang berbeda. Apa yang terlihat di luar belum tentu menggambarkan kondisi sebenarnya.

Selain itu, kamu bisa mulai dengan langkah kecil. Tidak perlu langsung menemukan tujuan besar dalam hidup. Cukup lakukan hal-hal sederhana yang membuatmu berkembang, dan perlahan kamu akan menemukan arah yang lebih jelas.

“Dalam masyarakat modern, banyak dari kita hanya terburu-buru menjalani hari-hari dan kehidupan, dan kita tidak meluangkan waktu untuk memperlambat atau terhubung dengan diri sendiri,” kata Wilson.

Quarter life crisis bukan tanda kamu gagal menjalani hidup. Justru, ini bisa menjadi momen penting untuk mengenal diri sendiri lebih dalam dan mengevaluasi apa yang benar-benar kamu inginkan. Perasaan tidak nyaman ini bisa menjadi dorongan untuk berubah ke arah yang lebih baik.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima
Follow Us

Related Articles

See More

Quarter Life Crisis Apakah Normal? Ini Penjelasan Psikologinya!

28 Apr 2026, 07:00 WIBLife