Kenapa Kantor di Film The Intern Terasa Nyaman meski Terlihat Sibuk?

- Film The Intern menampilkan kantor startup fashion e-commerce di Brooklyn yang sibuk tetapi homey, hasil perhatian sutradara Nancy Meyers pada konsep ruang kerja modern.
- Tata ruang terbuka memungkinkan karyawan berkomunikasi dan berinteraksi secara natural sambil bekerja, menciptakan suasana dinamis serta kesan semua orang terlibat dalam aktivitas kantor.
- Palet warna netral dan energi positif dari karyawan yang aktif bergerak maupun berdiskusi menjaga kantor tetap rapi, tenang secara visual, dan terasa hidup.
Kalau kamu pernah menonton film The Intern, mungkin ada satu hal yang terasa menarik selain hubungan Jules dan Ben. Kantor tempat Jules bekerja terlihat ramai hampir sepanjang waktu. Orang-orang berlalu-lalang, mengetik, berdiskusi, dan berpindah dari satu meja ke meja lain. Meski begitu, suasananya tidak terasa sesak atau bikin pusing.
Film yang dirilis pada 2015 ini menampilkan kantor perusahaan fashion e-commerce di Brooklyn sebagai tempat kerja yang modern dan hidup. Sutradara Nancy Meyers memberi perhatian besar pada tampilan kantor dalam The Intern. Ia bahkan mengunjungi beberapa kantor perusahaan sungguhan, seperti Nasty Gal dan Moda Operandi untuk mendapatkan gambaran suasana startup yang ingin ditampilkan.
Hasilnya adalah ruang kerja dengan konsep terbuka, desain interior yang hangat, dan banyak area untuk berinteraksi. Kombinasi tersebut membuat kantor Jules yang meski terlihat sibuk tetap tidak kehilangan kesan homey. Kira-kira, elemen apa yang membuat suasana kantor di The Intern terasa lebih nyaman?
1. Ruang terbuka bikin interaksi terasa natural

cuplikan film The Intern (instagram.com/theinternmovie) Salah satu hal yang paling mudah diperhatikan adalah tata ruang kantor yang terbuka. Meja kerja para karyawan berada dalam satu area sehingga mereka bisa saling melihat dan berkomunikasi tanpa harus keluar-masuk ruangan. Kondisi ini membuat aktivitas di kantor terasa lebih dinamis karena interaksi terjadi sebagai bagian dari pekerjaan sehari-hari.
Dalam Psychology Today, Profesor psikologi eksperimental di University of Waterloo, Colin Ellard, Ph.D., menjelaskan bahwa ruang kerja bersama dapat meningkatkan interaksi antara orang-orang yang sebelumnya jarang punya kesempatan untuk berbicara. Menurutnya, interaksi semacam itu bahkan terkadang menjadi tempat lahirnya ide-ide kreatif.
Hal ini cukup terlihat di kantor dalam The Intern. Para karyawan terlihat bisa saling berkomunikasi sambil tetap menjalankan pekerjaan masing-masing, sehingga suasananya terasa hidup tanpa harus dibuat terlalu formal. Ruang terbuka akhirnya bukan cuma soal menghilangkan sekat saja, tetapi juga menciptakan kesan bahwa setiap orang menjadi bagian dari aktivitas kantor.
2. Warna netral membuat kantor terlihat lebih tenang

Ilustrasi Ruang Kantor (IDN Times/Besse Fadhilah) Kantor dalam The Intern tidak dipenuhi warna-warna mencolok. Sebagian besar ruang menggunakan warna putih, abu-abu, hitam, serta warna kayu yang membuat keseluruhan tampilannya terasa netral dan sederhana. Di tengah aktivitas karyawan yang cukup padat, pilihan warna tersebut membuat perhatian tidak terus-menerus tertarik pada elemen dekorasi. Sehingga, kantor tetap terlihat hidup tanpa memberi kesan terlalu ramai secara visualnya.
Sally Augustin, Ph.D., seorang psikolog lingkungan, menjelaskan dalam Psychology Today bahwa agar sebuah ruangan lebih memungkinkan membuat orang merasa rileks, pilih warna yang tidak terlalu jenuh dan relatif terang. Dalam The Intern, kesan nyaman tersebut bukan berarti ruangannya harus penuh dengan dekorasi atau warna-warni.
Palet warna yang cenderung netral justru memberi ruang bagi aktivitas para karyawan untuk menjadi pusat perhatian. Jadi meski orang-orang di dalamnya sibuk bergerak ke sana kemari, tampilan keseluruhan kantor tetap terasa rapi dan tidak terlalu melelahkan secara visual.
3. Energi orang-orang membuat kantor terasa lebih hidup

cuplikan film The Intern (dok. Warner Bros. Pictures/The Intern) Aktivitas kantor dalam The Intern hampir selalu terlihat bergerak. Ada karyawan yang sibuk di depan komputer, berdiskusi, berjalan membawa laptop, atau berinteraksi dengan orang di sekitarnya. Keramaian tersebut membuat kantor terasa punya energi sendiri, bukan sekadar ruangan yang dipenuhi meja dan komputer. Kesibukan para karyawan justru menjadi bagian dari suasana yang membuat tempat itu terasa hidup.
Dalam Psychology Today, Esther Sternberg, M.D., Direktur Riset di Andrew Weil Center for Integrative Medicine menjelaskan, ketika orang-orang berada di ruangan yang sama, terjadi fenomena yang disebut sebagai “affect or emotion contagion,” yang mana emosi, baik positif maupun negatif, dapat menyebar dari satu orang ke orang lain melalui kedekatan fisik. Ketika emosi yang muncul bersifat positif, hal tersebut dapat menciptakan antusiasme dan energi, yang semakin kuat ketika menyebar dari satu orang ke orang lain.
Hal tersebut tergambar dalam kantor di The Intern. Kesibukan di sana bukan hanya soal banyaknya pekerjaan, tetapi juga tentang orang-orang yang terus bergerak dan berinteraksi sepanjang hari. Jadi, kantor tetap terlihat sibuk tanpa terlihat seperti tempat yang kaku atau terlalu sepi.
Kalau kamu perhatikan lagi, mungkin itu yang bikin kantor di The Intern kelihatan seru tanpa terasa bikin sumpek. Bukan berarti kamu harus punya kantor dengan desain yang sama, tetapi suasana di sekitar kamu ikut menentukan bagaimana pengalaman bekerja, berinteraksi, dan belajar bersama orang lain.
Seperti pesan dalam filmnya, tempat kerja bukan cuma soal mengejar target, tetapi juga tentang bagaimana orang-orang di dalamnya bisa saling melengkapi dan membuat hari kerja terasa lebih berarti. Ada kalanya suasana ramai justru bikin kerja terasa lebih hidup, apalagi kalau orang-orang di sekitarnya membawa energi yang positif.




















![[QUIZ] Dari Cara Kamu Respons Chat, Ini Tipe Pasangan yang Kamu Butuhkan](https://image.idntimes.com/post/20261008/1000149658_46228ea1-fba2-4348-acf3-902f16c234ce.jpg)


