Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Banyak Orang Pilih Resign Terlebih Dahulu, Baru Cari Kerja?
ilustrasi resign (freepik.com/pressfoto)

Belakangan ini, semakin banyak orang memilih resign sebelum mendapatkan pekerjaan baru. Jika dulu keputusan tersebut dianggap terlalu nekat, kini banyak pekerja justru merasa berhenti kerja lebih dulu dapat membantu menjaga kesehatan mental dan kualitas hidup mereka. Tekanan pekerjaan, lingkungan kerja yang tidak sehat, hingga rasa lelah berkepanjangan menjadi beberapa alasan yang paling sering dirasakan.

Selain itu, cara pandang terhadap karier juga mulai berubah. Banyak orang kini tidak hanya mengejar stabilitas finansial, tetapi juga kenyamanan hidup dan keseimbangan diri. Tidak sedikit pula yang merasa sulit mencari pekerjaan baru sambil tetap menjalani rutinitas kerja yang melelahkan. Lantas, kenapa banyak orang memilih resign terlebih dahulu, baru cari kerja belakangan?

1. Sudah terlalu lelah secara mental

ilustrasi burnout saat bekerja (pexels.com/Karola G)

Tekanan pekerjaan yang terus-menerus dapat membuat seseorang merasa kehabisan energi, baik secara fisik maupun emosional. Setelah bekerja seharian, banyak orang bahkan tidak memiliki tenaga lagi untuk mencari lowongan atau mengikuti proses rekrutmen. Kondisi tersebut membuat resign terasa seperti satu-satunya cara untuk berhenti sejenak dari rutinitas yang melelahkan.

Selain itu, kelelahan mental sering memengaruhi kualitas hidup sehari-hari. Seseorang bisa menjadi mudah marah, sulit tidur, hingga kehilangan motivasi. Karena itulah, sebagian orang memilih resign terlebih dahulu agar dapat memulihkan kondisi dirinya sebelum kembali mencari pekerjaan baru yang lebih sehat.

2. Lingkungan kerja yang toxic

ilustrasi berdebat dengan rekan kerja (pexels.com/Yan Krukau)

Lingkungan kerja yang tidak sehat sering menjadi alasan utama seseorang memilih resign lebih dulu. Tekanan dari atasan, budaya kerja yang melelahkan, hingga hubungan antarkaryawan yang buruk dapat membuat seseorang merasa stres setiap hari. Tidak sedikit pekerja yang akhirnya kehilangan semangat karena terus berada dalam situasi yang membuat mentalnya terkuras.

Jika kondisi tersebut berlangsung terlalu lama, dampaknya bisa memengaruhi kehidupan pribadi dan kesehatan mental. Karena itulah, sebagian orang memilih resign demi keluar dari lingkungan toxic dan mencari suasana kerja yang lebih sehat. Meski belum memiliki pekerjaan baru, keputusan tersebut dianggap lebih baik dibanding terus bertahan dalam tekanan.

3. Burnout membuat produktivitas menurun

ilustrasi burnout saat bekerja (pexels.com/Karola G)

Burnout sering membuat seseorang kehilangan motivasi untuk bekerja seperti biasanya. Pekerjaan yang dahulu terasa ringan perlahan menjadi melelahkan, bahkan untuk tugas-tugas sederhana. Tidak sedikit orang yang akhirnya sulit fokus, mudah emosional, dan merasa kosong saat menjalani rutinitas kerja setiap hari.

Dalam kondisi seperti itu, mencari pekerjaan baru sambil tetap bekerja terasa semakin berat dilakukan. Karena itulah, sebagian orang memilih resign terlebih dahulu agar dapat beristirahat dan memulihkan diri. Dengan kondisi mental yang lebih stabil, mereka berharap dapat kembali bekerja dengan energi dan semangat yang lebih baik.

4. Ingin memiliki waktu untuk bernapas

ilustrasi seorang pria duduk sendiri (freepik.com/freepik)

Rutinitas kerja yang padat sering membuat seseorang merasa hidupnya hanya berputar antara pekerjaan dan kelelahan. Banyak orang akhirnya merasa tidak memiliki waktu untuk diri sendiri, keluarga, maupun hal-hal yang sebenarnya ingin dilakukan sejak lama. Kondisi tersebut memunculkan keinginan untuk berhenti sejenak dari ritme kerja yang melelahkan.

Setelah resign, sebagian orang memanfaatkan waktunya untuk beristirahat, mencoba hobi baru, atau sekadar menikmati hidup dengan lebih tenang. Ada pula yang menggunakan masa jeda tersebut untuk memikirkan kembali tujuan karier dan prioritas hidupnya. Karena itu, resign tidak selalu berarti menyerah, tetapi juga bentuk usaha untuk menjaga diri sendiri.

5. Merasa tidak cocok dengan pekerjaan saat ini

ilustrasi seorang perempuan stres (freepik.com/diana.grytsku)

Tidak semua orang merasa cocok dengan pekerjaan atau bidang yang sedang dijalaninya. Ada yang bertahan demi kebutuhan finansial, tetapi lama-kelamaan mulai merasa jenuh karena pekerjaannya tidak sesuai minat maupun tujuan hidup. Akibatnya, pekerjaan hanya dijalani sebagai rutinitas tanpa rasa antusias atau kepuasan pribadi.

Dalam kondisi tersebut, resign sering dianggap sebagai langkah untuk memulai ulang perjalanan karier. Sebagian orang ingin mencari bidang baru yang lebih sesuai dengan passion atau kemampuan mereka. Meski keputusan tersebut cukup berisiko, banyak orang merasa perubahan sulit dilakukan jika mereka terus bertahan di pekerjaan yang sudah tidak membuatnya berkembang.

6. Jadwal kerja terlalu padat

ilustrasi bekerja (pexels.com/Karola G)

Jam kerja yang panjang membuat banyak orang kesulitan mencari pekerjaan baru secara maksimal. Proses rekrutmen sering berbenturan dengan jadwal kantor, sementara cuti untuk wawancara juga tidak selalu mudah diambil. Akibatnya, banyak pekerja merasa tidak memiliki waktu maupun tenaga untuk fokus mencari peluang kerja lain.

Karena itu, sebagian orang memilih resign terlebih dahulu agar dapat lebih leluasa menjalani proses pencarian kerja. Dengan waktu yang lebih fleksibel, mereka bisa memperbaiki CV, mengikuti pelatihan, hingga menghadiri wawancara tanpa tekanan pekerjaan lama. Langkah tersebut dianggap lebih efektif dibanding memaksakan diri menjalani dua hal sekaligus dalam kondisi lelah.

7. Memiliki tabungan atau support system yang cukup

ilustrasi pasangan mengobrol (pexels.com/Ron Lach)

Sebagian orang berani resign tanpa pekerjaan baru karena merasa memiliki kondisi finansial yang cukup aman. Tabungan darurat, dukungan pasangan, atau bantuan keluarga menjadi faktor yang membuat mereka lebih tenang saat memutuskan berhenti bekerja sementara waktu. Adanya rasa aman tersebut membantu seseorang lebih berani mengambil keputusan besar terkait kariernya.

Meski begitu, resign tanpa penghasilan tetap bukan berarti bebas dari rasa cemas. Banyak orang tetap khawatir memikirkan masa depan dan proses mencari pekerjaan berikutnya. Namun, keberadaan support system membuat mereka memiliki ruang untuk beristirahat, memulihkan diri, dan menyusun rencana karier dengan lebih matang tanpa tekanan berlebihan.

8. Memilih mengutamakan keseimbangan hidup

ilustrasi seorang perempuan istirahat (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

Kini semakin banyak orang yang mulai menyadari pentingnya menjaga kesehatan mental dan kualitas hidup. Pekerjaan tidak lagi dianggap sebagai satu-satunya hal yang harus diprioritaskan di atas segalanya. Banyak pekerja mulai ingin memiliki waktu istirahat yang cukup, hubungan sosial yang sehat, dan kehidupan pribadi yang lebih seimbang.

Kesadaran tersebut membuat sebagian orang lebih berani resign dari pekerjaan yang terasa terlalu melelahkan. Mereka ingin mencari pekerjaan yang tetap memungkinkan hidup berjalan dengan nyaman tanpa harus mengorbankan kondisi fisik maupun mental. Karena itu, resign tanpa backup plan kini sering dipandang sebagai bentuk usaha untuk menjaga kualitas hidup secara keseluruhan.

Itulah beberapa alasan kenapa banyak orang memilih resign dulu baru cari kerja yang baru. Keputusan resign sebelum mendapatkan pekerjaan baru merupakan pilihan pribadi yang dipengaruhi banyak faktor. Meski penuh risiko, langkah tersebut sering kali diambil setelah seseorang merasa terlalu lelah untuk terus bertahan dalam situasi kerja yang tidak sehat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article