Kenapa Generasi Muda Bekerja Lebih Keras, tapi Lebih Sulit Kaya?

Harga aset naik lebih cepat dari gaji sehingga sulit membangun kekayaan.
Biaya hidup tinggi membuat sisa pendapatan untuk menabung semakin kecil.
Pekerjaan tidak stabil dan beban pendidikan menghambat akumulasi aset.
Banyak orang merasa hidup terasa lebih berat dibanding generasi orangtua dahulu. Kerja keras dilakukan sejak usia muda, bahkan sering ditambah pekerjaan sampingan, tetapi hasilnya terasa lambat terkumpul. Fenomena ini membuat pembahasan tentang susah kaya semakin sering muncul dalam percakapan sehari-hari.
Bukan sekadar keluhan pribadi, melainkan perubahan besar dalam cara ekonomi bekerja dari satu generasi ke generasi berikutnya. Berikut beberapa hal yang membantu menjelaskan situasi tersebut. Simak sampai akhir, ya!
1. Perbedaan nilai aset membuat titik awal setiap generasi tidak sama

Pada masa orangtua atau kakek nenek dahulu, harga tanah dan rumah masih relatif terjangkau dibanding pendapatan rata-rata. Seseorang dengan pekerjaan tetap, meski tidak bergaji tinggi, masih memiliki peluang membeli rumah atau lahan setelah menabung beberapa tahun. Aset semacam ini kemudian naik nilainya seiring waktu sehingga menjadi sumber kekayaan jangka panjang bagi keluarga.
Kondisi tersebut berbeda dengan situasi sekarang ketika harga properti melonjak jauh lebih cepat dibanding kenaikan gaji. Banyak pekerja muda harus mengalokasikan sebagian besar pendapatan hanya untuk biaya sewa atau cicilan tempat tinggal. Akibatnya, kesempatan mengumpulkan aset produktif semakin kecil. Inilah yang sering disebut sebagai intergenerational inequality, ketimpangan peluang ekonomi antargenerasi.
2. Kenaikan biaya hidup menggerus daya simpan pendapatan

Gaji memang meningkat dari waktu ke waktu, tetapi biaya hidup di kota juga naik dengan cepat. Pengeluaran dasar, seperti transportasi, tempat tinggal, pendidikan, hingga layanan kesehatan, menghabiskan porsi besar dari pendapatan bulanan. Setelah kebutuhan pokok terpenuhi, sisa uang yang bisa ditabung sering kali tidak terlalu besar.
Situasi ini berbeda dengan beberapa dekade lalu ketika banyak keluarga masih bisa menabung dari satu sumber penghasilan utama. Sekarang, banyak pekerja memiliki pekerjaan tambahan hanya agar kondisi keuangan tetap aman. Energi yang tercurah lebih besar, tetapi kemampuan mengumpulkan kekayaan tetap berjalan lambat karena biaya hidup terus menekan.
3. Struktur pekerjaan modern tidak selalu memberi keamanan finansial

Perubahan dunia kerja juga berpengaruh besar. Banyak pekerjaan saat ini berbentuk kontrak jangka pendek, proyek, atau sistem kerja lepas yang penghasilannya tidak selalu stabil setiap bulan. Model kerja ini memberi fleksibilitas, tetapi pada saat yang sama membuat perencanaan keuangan jangka panjang menjadi lebih sulit.
Bandingkan dengan masa lalu ketika pekerjaan tetap di perusahaan atau instansi sering bertahan puluhan tahun. Stabilitas tersebut memudahkan seseorang mengambil cicilan rumah, merencanakan tabungan, hingga membangun aset secara perlahan. Dalam sistem kerja yang lebih cair seperti sekarang, pendapatan bisa naik turun sehingga langkah menuju kekayaan menjadi lebih panjang.
4. Pendidikan semakin mahal sebelum karier benar-benar dimulai

Banyak generasi muda memulai kehidupan kerja dengan beban biaya pendidikan yang besar. Kuliah memang membuka peluang karier lebih luas, tetapi proses menuju ke sana membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sebagian orang bahkan memulai karier dengan kewajiban melunasi pinjaman pendidikan.
Akibatnya, beberapa tahun pertama setelah bekerja sering digunakan untuk menutup biaya yang muncul sebelum karier dimulai. Tabungan baru bisa dikumpulkan setelah kewajiban tersebut berkurang. Waktu yang seharusnya dapat digunakan membangun aset akhirnya bergeser lebih jauh ke belakang.
5. Akses kekayaan keluarga berperan besar dalam mobilitas ekonomi

Banyak kekayaan pada generasi sebelumnya berasal dari aset yang diwariskan atau dibangun secara bertahap dalam keluarga. Tanah, rumah, atau usaha kecil sering menjadi modal awal yang membantu generasi berikutnya memulai kehidupan dengan posisi lebih kuat. Ketika seseorang memiliki akses terhadap aset keluarga, langkah menuju stabilitas ekonomi menjadi lebih mudah.
Namun, tidak semua orang memiliki kesempatan tersebut. Tanpa modal awal, generasi muda harus memulai dari nol di tengah harga aset yang sudah jauh lebih tinggi. Situasi ini memperlebar jarak antara mereka yang memiliki dukungan ekonomi keluarga dan mereka yang tidak.
Kesulitan membangun kekayaan pada generasi muda sering kali bukan soal malas bekerja atau terlalu banyak pengeluaran kecil. Perubahan harga aset, biaya hidup, struktur pekerjaan, hingga akses modal keluarga membentuk kondisi ekonomi yang berbeda dari masa lalu. Jika realitasnya seperti ini, pertanyaan yang muncul bukan lagi siapa yang bekerja paling keras, melainkan bagaimana sistem ekonomi memberi peluang yang lebih adil bagi generasi berikutnya. Lalu, seperti apa jalan keluar yang masuk akal untuk menghadapi situasi tersebut?