"Mereka (Gen Z) terkadang memprioritaskan keseimbangan kerja dan kehidupan," ujar Elizabeth Faber dalam laporan Deloitte Global 2025.
“Kerja Cukup, Hidup Tetap Jalan”: Jadi Filosofi Baru Gen Z?

Di tengah budaya kerja yang selama bertahun-tahun identik dengan lembur, ambisi tanpa henti, dan mengejar jenjang karier setinggi mungkin, muncul pola pikir baru yang semakin populer di kalangan Gen Z. Filosofi ini sering diringkas dalam satu kalimat sederhana: “kerja cukup, hidup tetap jalan.”
Bukan berarti malas atau tidak memiliki cita-cita, melainkan menempatkan pekerjaan sebagai salah satu bagian dari hidup, bukan seluruh identitas hidup itu sendiri. Fenomena ini terlihat dari meningkatnya pembahasan tentang work-life balance, quiet quitting, hingga pentingnya menjaga kesehatan mental.
1. Gen Z tidak lagi mengukur kesuksesan dari jabatan

Bagi generasi sebelumnya, kesuksesan sering diukur dari posisi, gelar, atau seberapa tinggi seseorang berhasil naik dalam struktur perusahaan. Namun bagi banyak Gen Z, definisi tersebut mulai berubah. Mereka lebih tertarik pada pekerjaan yang memberikan makna, fleksibilitas, dan kesejahteraan mental.
Temuan dalam survei global Deloitte menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil Gen Z yang menjadikan posisi kepemimpinan sebagai tujuan utama karier. Sebaliknya, mereka lebih fokus pada keseimbangan hidup, kesempatan belajar, dan pekerjaan yang bermakna. Hal ini sejalan dengan pernyataan Elizabeth Faber, Deloitte Global Chief People & Purpose Officer.
2. “Kerja sesuai gaji” menjadi bentuk menjaga batas diri

Istilah seperti quiet quitting atau acting your wage sering disalahartikan sebagai kemalasan. Padahal, banyak Gen Z melihatnya sebagai cara menjaga batas yang sehat antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Menurut penjelasan dari Investopedia, quiet quitting tidak berarti berhenti bekerja. Tetapi melakukan pekerjaan sesuai tugas yang telah disepakati tanpa terus-menerus mengorbankan waktu pribadi demi pekerjaan.
"Quiet quitting mengacu pada hanya memenuhi tugas-tugas yang dibutuhkan dalam suatu pekerjaan tanpa mengejar upaya ekstra atau kemajuan dalam jalur karier seseorang," tulis dalam Investopedia yang telah ditinjau oleh profesor ekonomi Robert C. Kelly.
Kalimat ini menggambarkan bagaimana sebagian Gen Z memandang pekerjaan sebagai tanggung jawab yang perlu dijalankan dengan baik. Namun tidak harus mengorbankan seluruh hidup mereka.
3. Kesehatan mental menjadi prioritas utama

Perubahan cara pandang terhadap pekerjaan tidak bisa dilepaskan dari meningkatnya kesadaran mengenai kesehatan mental. Banyak pekerja muda menyaksikan sendiri dampak burnout yang dialami generasi sebelumnya. Burnout juga kerap dikaitan dengan pekerjaan. Kesadaran inilah yang mendorong banyak anak muda lebih berhati-hati dalam mengatur energi dan waktu kerja mereka.
Kathleen Pike, profesor psikologi dari Columbia University sekaligus CEO One Mind at Work, menjelaskan bahwa teknologi membuat batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi semakin kabur. Ia menyebut Gen Z menghadapi tekanan berbeda dibanding generasi sebelumnya karena selalu terhubung melalui ponsel dan internet.
"Generasi yang lebih tua tidak menghadapi tekanan yang sama akibat teknologi di awal karier mereka. Ketika mereka (generasi yang lebih tua) memulai karier, itu adalah dunia yang sama sekali berbeda," katanya.
4. Filosofi ini bukan berarti tidak ambisius

Salah satu kesalahpahaman terbesar adalah menganggap Gen Z tidak memiliki ambisi. Faktanya, banyak penelitian menunjukkan bahwa mereka tetap ingin berkembang, hanya saja definisi kesuksesannya berbeda. Bahkan Gen Z aktif mengembangkan keterampilan baru, baik di tempat kerja maupun di luar jam kerja. Mereka tetap ingin maju, tetapi tidak selalu melalui jalur tradisional seperti mengejar jabatan tinggi.
"Di antara Gen Z, 70 persen mengatakan mereka mengembangkan keterampilan untuk memajukan karier mereka sekali seminggu atau lebih, dibandingkan dengan 59 persen milenial yang mengatakan hal yang sama. Terlebih lagi, Gen Z semakin banyak menghabiskan waktu luang mereka untuk membangun keterampilan tersebut, dengan 67 persen mengatakan mereka mengembangkan keterampilan di luar jam kerja, baik sebelum atau sesudah kerja, atau pada hari libur mereka," bunyi laporan Deloitte.
5. Apakah filosofi ini akan menjadi tren jangka panjang?

Banyak indikator menunjukkan bahwa pola pikir ini bukan sekadar tren media sosial. Semakin banyak perusahaan mulai menyesuaikan kebijakan kerja mereka dengan kebutuhan generasi muda, mulai dari fleksibilitas kerja hingga dukungan kesehatan mental.
Penelitian berjudul "Analisis Pengaruh Work-Life Balance terhadap Quiet Quitting pada Generasi Z melalui Mediasi Psychological Safety dan Work Engagement" oleh Salsabila Lintang Nabila & Yuni Siswanti Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta, juga menemukan bahwa work-life balance memiliki hubungan erat dengan fenomena quiet quitting pada karyawan Gen Z. Faktor seperti keamanan psikologis dan keterlibatan kerja menjadi penentu penting dalam mempertahankan motivasi karyawan muda.
Alih-alih bekerja berlebihan selama beberapa tahun lalu mengalami burnout, pekerja muda berusaha menjaga ritme kerja yang stabil agar tetap produktif dalam jangka panjang. Perdebatan mengenai batas antara ambisi dan keseimbangan hidup mungkin akan terus berlangsung, tetapi arah perubahan budaya kerja tampaknya sudah mulai terlihat.
Filosofi “kerja cukup, hidup tetap jalan” menunjukkan bahwa Gen Z sedang mendefinisikan ulang hubungan manusia dengan pekerjaan. Mereka tidak menolak kerja keras, tetapi mempertanyakan gagasan bahwa nilai seseorang harus ditentukan oleh seberapa banyak waktu dan energi yang dikorbankan untuk pekerjaan. Bagi mereka, hidup seimbang, mental lebih sehat, dan bermakna sama pentingnya dengan pencapaian profesional.


















