Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by Aleh Tsikhanau)
Banyak indikator menunjukkan bahwa pola pikir ini bukan sekadar tren media sosial. Semakin banyak perusahaan mulai menyesuaikan kebijakan kerja mereka dengan kebutuhan generasi muda, mulai dari fleksibilitas kerja hingga dukungan kesehatan mental.
Penelitian berjudul "Analisis Pengaruh Work-Life Balance terhadap Quiet Quitting pada Generasi Z melalui Mediasi Psychological Safety dan Work Engagement" oleh Salsabila Lintang Nabila & Yuni Siswanti Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta, juga menemukan bahwa work-life balance memiliki hubungan erat dengan fenomena quiet quitting pada karyawan Gen Z. Faktor seperti keamanan psikologis dan keterlibatan kerja menjadi penentu penting dalam mempertahankan motivasi karyawan muda.
Alih-alih bekerja berlebihan selama beberapa tahun lalu mengalami burnout, pekerja muda berusaha menjaga ritme kerja yang stabil agar tetap produktif dalam jangka panjang. Perdebatan mengenai batas antara ambisi dan keseimbangan hidup mungkin akan terus berlangsung, tetapi arah perubahan budaya kerja tampaknya sudah mulai terlihat.
Filosofi “kerja cukup, hidup tetap jalan” menunjukkan bahwa Gen Z sedang mendefinisikan ulang hubungan manusia dengan pekerjaan. Mereka tidak menolak kerja keras, tetapi mempertanyakan gagasan bahwa nilai seseorang harus ditentukan oleh seberapa banyak waktu dan energi yang dikorbankan untuk pekerjaan. Bagi mereka, hidup seimbang, mental lebih sehat, dan bermakna sama pentingnya dengan pencapaian profesional.