ilustrasi bullying (pexels.com/Yan Krukau)
Ketika bullying terus dibiarkan, anggota tim bisa mulai menganggap perilaku tersebut sebagai bagian biasa dari kehidupan kantor. Karyawan baru mungkin diberi tahu bahwa mereka harus tahan akan dimarahi oleh senior karena semua orang dulu juga mengalaminya. Sindiran, mempermalukan rekan di depan umum, atau sengaja membuat seseorang kesulitan kemudian dianggap sebagai cara untuk menguji mental.
Hal ini bisa membuat perundungan terus berulang meskipun orang-orang yang terlibat sudah berganti. Karyawan yang dulu menjadi sasaran bahkan bisa ikut melakukan hal serupa ketika posisinya lebih tinggi karena menganggap itulah cara yang lazim untuk memperlakukan anggota baru. Padahal, memberikan kritik terhadap pekerjaan berbeda dengan merendahkan orang yang mengerjakannya. Atasan tetap bisa menegur kesalahan serta meminta pertanggungjawaban tanpa menghina atau mempermalukan karyawan.
Membiarkan bullying bukan berarti tim terbebas dari konflik. Cepat atau lambat, akan muncul kerugian yang ditanggung tim kerja saat bullying dibiarkan. Oleh sebab itu, jika melihat perundungan di tempat kerja, penting untuk mencatat kejadian secara konkret, mencari dukungan dari pihak yang bisa dipercaya, dan menggunakan jalur pelaporan yang tersedia di perusahaan. Lingkungan kerja yang sehat bukan berarti semua orang harus selalu sepakat, melainkan setiap orang bisa berbeda pendapat dan menyelesaikan masalah tanpa direndahkan.