Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Masih Relevankah Kerja Kantoran 9-to-5 untuk Gen Z?
Ilustrasi bekerja (pexels.com/MART PRODUCTION)

Selama puluhan tahun, sistem kerja 9-to-5 atau bekerja di kantor dari pagi hingga sore menjadi standar di berbagai perusahaan. Model ini dianggap mampu menciptakan rutinitas yang jelas, memudahkan koordinasi antarkaryawan, serta membangun budaya kerja yang kuat. Namun, sejak pandemi COVID-19, cara orang bekerja mengalami perubahan besar dengan munculnya sistem kerja hybrid dan remote.

Perubahan tersebut turut memengaruhi ekspektasi Gen Z terhadap dunia kerja. Lantas, apakah sistem kerja kantoran 9-to-5 masih relevan bagi Gen Z?

1. Mengapa Gen Z mulai mempertanyakan sistem kerja 9-to-5?

Ilustrasi bekerja (pexels.com/Photo by Anna Shvets)

Gen Z tumbuh di era digital ketika teknologi memungkinkan pekerjaan dilakukan dari mana saja. Mereka terbiasa menggunakan aplikasi kolaborasi, konferensi video, hingga berbagai platform berbasis cloud. Karena itu, banyak anak muda mempertanyakan mengapa pekerjaan yang dapat diselesaikan secara daring tetap harus dilakukan sepenuhnya di kantor selama delapan jam.

Selain itu, Gen Z juga lebih memperhatikan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Mereka menginginkan pekerjaan yang tetap produktif tanpa harus mengorbankan waktu bersama keluarga, kesehatan mental, atau kesempatan mengembangkan diri di luar pekerjaan. Bagi sebagian besar Gen Z, produktivitas lebih diukur dari hasil kerja, daripada lamanya duduk di depan meja.

"Gen Z memiliki beberapa sikap yang sangat berbeda terhadap pekerjaan dari generasi yang lebih tua," kata Ravin Jesuthasan, pemimpin layanan transformasi di perusahaan konsultan raksasa Mercer dan seorang ahli masa depan pekerjaan dikutip dari Business Insider.

"Saya pikir mereka lebih memiliki sikap bekerja untuk hidup daripada hidup untuk bekerja seperti yang banyak dari kita alami saat tumbuh dewasa," lanjutnya.

2. Kantor tetap memiliki nilai yang tidak bisa digantikan

Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by Mushvig Niftaliyev)

Meski fleksibilitas semakin diminati, bukan berarti kantor kehilangan fungsinya. Bagi karyawan yang baru memulai karier, bekerja di kantor memberikan kesempatan belajar langsung dari rekan kerja, membangun relasi profesional, memperoleh mentoring, serta memahami budaya perusahaan dengan lebih cepat dibanding bekerja sepenuhnya dari rumah.

Interaksi tatap muka juga mempermudah diskusi spontan, penyelesaian masalah yang kompleks, hingga membangun rasa memiliki terhadap organisasi. Banyak keterampilan interpersonal, seperti komunikasi, negosiasi, dan kepemimpinan, berkembang lebih cepat ketika seseorang berinteraksi langsung dengan tim.

Riset terbaru Gallup menunjukkan bahwa mayoritas pekerja muda justru tidak menginginkan sistem yang sepenuhnya remote maupun sepenuhnya di kantor. Gallup menemukan bahwa sebagian besar pekerja-dengan pekerjaan yang memungkinkan bekerja jarak jauh-lebih memilih sistem hybrid karena menawarkan keseimbangan antara fleksibilitas dan kolaborasi.

 

3. Fleksibilitas menjadi prioritas baru Gen Z

Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by Surface)

Bagi banyak Gen Z, fleksibilitas bukan berarti bekerja sesuka hati. Yang mereka inginkan adalah kebebasan menentukan cara terbaik untuk menyelesaikan pekerjaan selama target tetap tercapai. Sistem kerja hybrid memberi kesempatan bekerja di rumah ketika membutuhkan fokus tinggi, sekaligus datang ke kantor saat diperlukan kolaborasi dengan tim.

Sejalan dengan riset Gallup, model kerja fleksibel juga terbukti membantu banyak pekerja menghemat waktu perjalanan, mengurangi kelelahan akibat kemacetan, dan memiliki lebih banyak waktu untuk keluarga maupun aktivitas pribadi. Hal ini dapat meningkatkan kepuasan kerja apabila diterapkan dengan aturan yang jelas.

4. Produktivitas tidak lagi diukur dari jam kerja

Ilustrasi lelah bekerja (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)

Salah satu kritik terhadap sistem kerja 9-to-5 adalah anggapan bahwa kehadiran fisik belum tentu mencerminkan produktivitas. Saat ini semakin banyak perusahaan yang mulai menerapkan sistem berbasis hasil (output-based performance), yaitu menilai karyawan dari kualitas pekerjaan, bukan sekadar durasi berada di kantor.

Pendekatan tersebut dinilai lebih sesuai dengan karakter pekerjaan modern, terutama di bidang teknologi, kreatif, pemasaran digital, maupun konsultasi. Pada bidang-bidang tersebut, kreativitas dan kemampuan menyelesaikan masalah sering kali lebih penting dibanding waktu kerja yang kaku.

"Manajer adalah elemen paling penting untuk keberhasilan kerja hibrida," tulis laporan Gallup.

Hal itu menegaskan bahwa kualitas kepemimpinan jauh lebih menentukan dibanding lokasi bekerja.  Keberhasilan sistem kerja hybrid sangat bergantung pada kemampuan manajer membangun komunikasi, kepercayaan, dan akuntabilitas dalam tim.

 

5. Masa depan dunia kerja bukan lagi memilih salah satu

Ilustrasi bekerja (pexels.com/MART PRODUCTION)

Perdebatan mengenai kerja kantoran 9-to-5 dan kerja fleksibel sebenarnya mulai bergeser. Banyak perusahaan kini tidak lagi melihat kedua sistem tersebut sebagai pilihan yang saling bertentangan, melainkan menggabungkan keduanya sesuai kebutuhan bisnis dan karakter pekerjaan.

Beberapa pekerjaan memang tetap membutuhkan kehadiran fisik, seperti sektor manufaktur, kesehatan, laboratorium, atau pelayanan publik. Sebaliknya, pekerjaan berbasis digital memiliki ruang yang lebih besar untuk menerapkan sistem hybrid atau remote. Jadi, semua itu kembali pada kebutuhan masing-masing sektor.

Kerja kantoran 9-to-5 masih tetap relevan, tetapi bukan lagi satu-satunya model yang dianggap ideal oleh Gen Z. Fleksibilitas, kesempatan berkembang, keseimbangan hidup, serta budaya kerja yang sehat kini menjadi faktor yang sama pentingnya dengan gaji.

Editorial Team

Related Article