Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengapa Banyak Gen Z Punya 2 hingga 3 Pekerjaan? Ini Penyebabnya!
ilustrasi diskusi di kantor (pexels.com/canvastudio)
  • Kenaikan biaya hidup dan kebutuhan finansial membuat banyak Gen Z memilih memiliki dua hingga tiga pekerjaan demi menjaga kestabilan ekonomi pribadi.
  • Gen Z memandang memiliki beberapa sumber penghasilan sebagai strategi mengurangi risiko kehilangan pekerjaan dan tidak bergantung pada satu perusahaan.
  • Fleksibilitas waktu, peluang digital, serta keinginan membangun keamanan finansial jangka panjang mendorong Gen Z menjalani berbagai pekerjaan sekaligus.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bagi sebagian generasi sebelumnya, memiliki satu pekerjaan tetap sering dianggap sebagai simbol kestabilan finansial. Namun, kondisi tersebut mulai berubah karena semakin banyak gen Z yang memilih atau bahkan terpaksa memiliki dua hingga tiga pekerjaan sekaligus.

Fenomena ini dikenal sebagai income stacking atau poly-employment, yaitu memiliki beberapa sumber penghasilan dalam waktu yang bersamaan. Bukan hanya untuk menambah pemasukan, tren ini juga didorong oleh perubahan kondisi ekonomi, pasar kerja, serta cara pandang gen Z terhadap karier. Lantas, apa saja alasan yang membuat semakin banyak gen Z memilih memiliki lebih dari satu pekerjaan? Yuk, cari tahu lewat artikel berikut!

1. Biaya hidup terus naik, sementara satu pekerjaan sering kali tidak cukup

ilustrasi grup mahasiswa (pexels.com/ivansamkov)

Kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya sewa tempat tinggal, transportasi, hingga tagihan bulanan membuat banyak gen Z merasa satu pekerjaan saja belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan hidup mereka. Akibatnya, pekerjaan sampingan menjadi cara untuk menutup kekurangan pemasukan sekaligus menjaga kondisi keuangan tetap stabil.

Bagi sebagian orang, pekerjaan tambahan bukan lagi pilihan untuk membeli barang mewah, melainkan kebutuhan agar tetap mampu membayar sewa rumah, cicilan, atau utang pendidikan. Tidak heran, jika tren income stacking semakin berkembang, terutama di kalangan pekerja muda yang baru memulai karier.

"Gen Z bukan kurang ambisius, tetapi memiliki jalur karier yang berbeda. Mereka memprioritaskan kemandirian, keseimbangan hidup, dan kondisi keuangan yang stabil. Bagi mereka, kesuksesan berarti mampu menghidupi diri sendiri, menjaga work-life balance, serta membangun kemajuan secara bertahap," ujar Chris Powell, Head of Deposits & Customer Engagement di Citizens, dikutip dari Parents.

2. Gen Z tidak lagi menganggap satu perusahaan sebagai jaminan masa depan

ilustrasi diskusi di kantor (pexels.com/canvastudio)

Jika dulu bekerja di satu perusahaan dalam jangka panjang dianggap sebagai pilihan terbaik, kini banyak gen Z memiliki pandangan berbeda. Mereka menyadari, bahwa PHK, perlambatan ekonomi, hingga perkembangan teknologi dapat mengubah kondisi pekerjaan kapan saja.

Karena itu, memiliki beberapa sumber pendapatan dipandang sebagai cara untuk mengurangi risiko apabila salah satu pekerjaan hilang. Dengan strategi tersebut, mereka tidak sepenuhnya bergantung pada satu perusahaan sebagai satu-satunya penopang keuangan.

"Cara gen Z memandang pekerjaan juga merupakan reaksi terhadap apa yang mereka saksikan saat tumbuh besar jam kerja yang panjang, loyalitas kepada satu perusahaan, lalu guncangan krisis keuangan tahun 2008. Semua pengalaman itu membentuk pola pikir yang lebih berfokus pada mengurangi risiko, alih-alih bergantung pada satu pekerjaan sebagai sumber stabilitas," ujar Silvija Martincevic, CEO Deputy, dikutip dari Fortune.

3. Fleksibilitas menjadi prioritas dibanding mengejar jabatan

ilustrasi kerja sama team (pexels.com/hillaryfox)

Banyak gen Z tidak lagi menjadikan promosi jabatan sebagai tujuan utama dalam bekerja. Mereka lebih menghargai pekerjaan yang memberi kebebasan mengatur waktu, memiliki ruang untuk kehidupan pribadi, sekaligus memungkinkan mereka mencoba berbagai bidang pekerjaan.

Karena itulah, sebagian gen Z lebih memilih menggabungkan beberapa pekerjaan paruh waktu atau proyek freelance dibanding memiliki satu pekerjaan penuh waktu dengan jam kerja yang kaku. Model kerja seperti ini dianggap memberi mereka kontrol yang lebih besar terhadap karier dan kehidupan sehari-hari.

"Bagi mereka, kesuksesan finansial dimulai dari stabilitas dan kemampuan mengendalikan kondisi keuangan sendiri," ujar Chris Powell.

4. Sulit mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidang karier

ilustrasi kelompok diskusi di kantor (pexels.com/fauxels)

Persaingan kerja yang semakin ketat juga membuat banyak gen Z harus menyesuaikan ekspektasi mereka. Tidak sedikit lulusan baru yang belum memperoleh pekerjaan sesuai jurusan atau bidang yang diinginkan sehingga memilih mengambil pekerjaan lain sambil terus mencari peluang yang lebih baik.

Di sisi lain, memiliki beberapa pekerjaan sekaligus membantu mereka tetap memperoleh penghasilan tanpa harus menunggu kesempatan ideal datang. Cara ini juga memungkinkan mereka menambah pengalaman kerja dan memperluas keterampilan yang nantinya bisa menjadi nilai tambah saat melamar pekerjaan lain.

5. Ingin membangun kondisi keuangan yang lebih aman

ilustrasi perempuan sedang memimpin rapat (pexels.com/rdne)

Selain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, banyak gen Z memanfaatkan penghasilan tambahan untuk tujuan finansial jangka panjang. Misalnya, melunasi utang pendidikan, membangun dana darurat, mulai berinvestasi, atau menabung agar dapat hidup mandiri.

Bagi generasi ini, kesuksesan finansial tidak selalu diukur dari menjadi jutawan atau memiliki jabatan tinggi. Mereka justru lebih fokus pada kondisi keuangan yang stabil, bebas dari utang, dan tidak terus-menerus merasa cemas terhadap masa depan.

6. Media sosial membuka lebih banyak peluang menghasilkan uang

ilustrasi perempuan sedang bekerja (pexels.com/olia-danilevich)

Perkembangan media sosial membuat peluang memperoleh penghasilan tidak lagi terbatas pada pekerjaan kantoran. Kini, banyak gen Z menggabungkan pekerjaan utama dengan menjadi kreator konten, freelancer, penjual daring, hingga membuka jasa sesuai keahlian yang dimiliki.

Akses ke berbagai platform digital juga memudahkan gen Z membangun lebih dari satu sumber penghasilan. Ditambah lagi, maraknya contoh kreator konten, freelancer, dan pelaku usaha digital yang sukses membuat memiliki beberapa pekerjaan kini dianggap sebagai hal yang wajar sekaligus strategi untuk menjaga stabilitas finansial.

Bagi banyak gen Z, memiliki dua hingga tiga pekerjaan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan cara untuk bertahan sekaligus membangun masa depan yang lebih stabil. Namun di balik mengejar penghasilan, menjaga kesehatan fisik dan mental tetap menjadi hal yang gak boleh diabaikan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article