Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

3 Tipe Jurnal untuk Asah Otak, Cocok buat Lulusan Lama

3 Tipe Jurnal untuk Asah Otak, Cocok buat Lulusan Lama
ilustrasi kegiatan menulis jurnal (Pexels.com/Mart Production)
Intinya Sih
  • Artikel membahas tren menulis jurnal sebagai cara menjaga ketajaman berpikir bagi pekerja atau lulusan lama yang merasa kemampuan belajarnya menurun.
  • Tiga tipe jurnal yang disarankan adalah brain dump untuk refleksi diri, jurnal media untuk melatih literasi kritis, dan jurnal riset untuk menyalurkan rasa ingin tahu akademis.
  • Kegiatan journaling dianggap efektif menggantikan kebiasaan pasif seperti doomscrolling, sekaligus membantu menjaga otak tetap aktif dan produktif di tengah rutinitas kerja.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Setelah menamatkan sekolah dan akhirnya bekerja, kamu mungkin merasa kemampuan belajarmu tak selancar dahulu. Apalagi dengan berbagai tuntutan pekerjaan yang bejibun. Rasanya otak sudah terotomasi melakukan kegiatan yang repetitif, tetapi lelah tenaga dan pikiran tak tertahankan. Selepas kerja, kamu pun bahkan tak lagi punya energi untuk menekuni hobi.

Namun, beberapa waktu belakangan, terutama di kalangan kelas menengah, hobi menjadi hal yang mulai digalakkan lagi. Salah satunya adalah hobi menulis jurnal. Macamnya beragam dan semuanya punya manfaat masing-masing. Ada yang memang buat meluapkan segala isi otak, ada pula yang tujuannya melepas penat dengan menghias halaman buku secantik mungkin.

Kalau kamu ingin kegiatan menulis jurnal yang bisa mengasah otak dan kemampuan berpikir kritis, coba tiga jurnal berikut, yuk!

1. Brain dump

ilustrasi kegiatan journaling
ilustrasi kegiatan journaling (Pexels.com/Pavel Danilyuk)

Brain dump adalah tipe jurnal yang hampir tanpa pakem. Bila tertarik mengadopsi sistem ini, aktivitas yang perlu kamu lakukan hanyalah menumpahkan segala isi kepalamu. Entah itu kekhawatiran, kebahagiaan, harapan, kesedihan, kemarahan, kekesalan dan lain sebagainya. Mau dihias atau tidak juga bukan masalah. Intinya, kamu berusaha meluapkan perasaanmu ke dalam tulisan.

Kegiatan ini akan sangat berbeda dampaknya dengan mengungkapkannya secara lisan kepada lawan bicara. Kamu seolah dilatih untuk memahami dirimu sendiri dan secara mandiri melakukan refleksi, kontemplasi, dan introspeksi terhadap perasaanmu. Tentu, bedakan pula kegiatan ini dengan konseling bersama profesional, ya.

Brain dump adalah kegiatan refleksi mandiri yang tujuannya mengosongkan isi kepala yang rasanya penuh, baik penuh dengan tekanan, keresahan, dan masalah yang belum terselesaikan. Harapannya, kamu bisa dapat pencerahan dan rasa lega. Cocok juga dinamai jurnal sambat.

2. Jurnal media

ilustrasi tiket bioskop
ilustrasi tiket bioskop (Pexels.com/cottonbro studio)

Jurnal media adalah tipe jurnal yang isinya adalah opini, kesan, dan pelajaran yang kamu ambil setelah mengonsumsi media. Entah itu film, buku, musik/album/konser, video esai, utas, berita, dan lain-lain. Jurnal media, harapannya bisa melatih literasi media kamu, yakni kemampuan untuk berpikir kritis atas apa yang baru saja kamu konsumsi dari internet.

Pada era banjir konten seperti sekarang, rasanya literasi media jadi sebuah kemampuan yang wajib dimiliki semua orang. Tujuan akhirnya adalah memastikan kamu bisa melihat sebuah narasi dengan lebih objektif, tidak mudah disetir, dan tentunya cerdas dalam memilah informasi.

Komponen yang bisa kamu komentari dari sebuah media antara lain representasi/identitas, agensi, dan dampak sosio-ekonominya. Kegiatan ini memang bisa dilakukan di platform media sosial, tetapi dengan menulisnya di jurnal, kamu tak perlu khawatir dengan pendapat orang lain.

3. Jurnal riset

ilustrasi buku catatan
ilustrasi buku catatan (Pexels.com/www.kaboompics.com)

Jurnal riset, sesuai namanya, adalah jurnal yang belakangan naik daun seiring dengan tren kurikulum personal dan dark academia. Ia didedikasikan untuk mewadahi rasa penasaran dan dorongan untuk belajar yang mungkin sudah lama dilupakan karena tak lagi mengenyam pendidikan formal.

Satu waktu, kita pasti pernah merasa tertarik pada satu topik spesifik. Kita akan melakukan riset soal topik itu, tetapi karena kamu tak pernah mencatatnya, informasi itu akan menguap begitu saja. Dengan jurnal riset, kamu jadi punya wadah untuk menyimpan informasi unik yang sudah kamu pelajari.

Siapa tahu satu hari nanti kamu akan membutuhkannya untuk beragam hal. Anggaplah jurnal riset sebagai database yang bisa kamu akses saat butuh. Ia juga bisa kamu pakai untuk melatih dirimu membuat pertanyaan-pertanyaan kritis dan relevan yang pada akhirnya akan kamu jawab sendiri. Database ini bisa juga kamu olah jadi bahan diskusi dengan teman atau rekan sejawat.

Kamu boleh saja meninggalkan bangku pendidikan bertahun-tahun lalu, tetapi menjaga otak tetap aktif rasanya gak salah buat dilakukan. Daripada doomscroll, apa salahnya mengambil buku catatan dan mulai journaling?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Naufal Al Rahman
EditorNaufal Al Rahman

Related Articles

See More