Ilustrasi sibuk bekerja (unsplash.com/Photo by Vitaly Gariev)
Di media sosial, bekerja tanpa henti sering dianggap keren dan produktif. Orang yang punya tiga pekerjaan dipuji sebagai pekerja keras, sementara orang yang memilih hidup lebih santai sering dianggap kurang ambisius.
Padahal, di balik semua itu, banyak orang sebenarnya hanya sedang berusaha bertahan dari kondisi ekonomi yang makin berat. Bahkan gak sedikit yang memilih bertahan pada pekerjaan yang terasa toxic, karena tidak punya pilihan lain.
Tekanan ekonomi saat ini membuat banyak orang merasa situasi begitu komplek. Rupiah melemah, harga energi naik, biaya impor naik, bahkan sekarang banyak orang mikir dua kali untuk membeli sesuatu dan lebih menahan diri.
"Pelemahan rupiah dapat mendorong kenaikan harga kebutuhan sehari-hari meski masyarakat tidak menggunakan mata uang asing secara langsung," ucap Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet pada IDN Times.
“Orang mulai menunda belanja, menahan liburan, mengurangi konsumsi nonprimer, dan lebih hati-hati mengambil cicilan. Jadi pelemahan kurs bukan hanya soal dolar mahal, tetapi juga soal turunnya rasa percaya diri ekonomi masyarakat,” tambahnya.
Memiliki lebih dari satu pekerjaan kini bukan lagi sekadar simbol ambisi. Bagi banyak orang, itu adalah cara agar hidup tetap berjalan ‘normal’ di tengah ekonomi yang terus berubah. Ironisnya, standar hidup ‘normal’ sekarang justru menuntut tenaga dan waktu yang jauh lebih besar dibanding beberapa tahun lalu.