Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Rupiah Merosot, Anak Muda Sekarang Mulai Relevan dengan Hidup Minimalis

Rupiah Merosot, Anak Muda Sekarang Mulai Relevan dengan Hidup Minimalis
ilustrasi perempuan bermain laptop (pexels.com/olly)

Di tengah nilai tukar rupiah yang terus melemah dan harga kebutuhan yang makin naik, banyak anak muda mulai mengubah cara mereka menjalani hidup. Kalau dulu media sosial dipenuhi tren flexing dan belanja impulsif, sekarang justru makin banyak yang memilih hidup minimalis dan realistis.

Fenomena ini terlihat dari munculnya tren slow living, konsumsi seperlunya, hingga gaya hidup antipamer yang makin populer di kalangan generasi muda. Bukan semata hanya karena kondisi ekonomi yang sulit, tetapi juga karena banyak orang mulai sadar bahwa hidup tenang terasa lebih penting daripada terlihat kaya di internet.

1. Slow living jadi cara bertahan di tengah tekanan ekonomi

ilustrasi mahasiswa memakai earphone (pexels.com/charlottemay)
ilustrasi mahasiswa memakai earphone (pexels.com/charlottemay)

Dulu hidup produktif sering diartikan harus selalu sibuk, nongkrong di tempat estetik, dan punya lifestyle mahal. Sekarang, banyak anak muda justru mulai menikmati hidup yang lebih pelan dan sederhana demi menjaga kondisi mental sekaligus keuangan tetap aman.

Konsep slow living makin diminati karena dianggap lebih realistis di tengah kondisi ekonomi yang tidak pasti. Banyak orang mulai memilih quality time sederhana di rumah, masak sendiri, atau menikmati aktivitas murah meriah dibanding memaksakan gaya hidup yang bikin dompet dan pikiran sama-sama stres.

2. Konsumsi seperlunya mulai dianggap lebih relevan

ilustrasi grocery shopping (pexels.com/shvetsa)
ilustrasi grocery shopping (pexels.com/shvetsa)

Kalau beberapa tahun lalu tren belanja impulsif sering dipamerkan di media sosial, sekarang justru makin banyak yang bangga bisa menahan diri untuk gak checkout barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Kesadaran soal kondisi finansial membuat anak muda lebih berhati-hati dalam mengeluarkan uang.

Istilah seperti “underconsumption core” sampai “no buy challenge” juga ikut populer di media sosial. Banyak orang mulai sadar bahwa membeli barang seperlunya bukan berarti pelit, melainkan bentuk kontrol diri agar kondisi finansial tetap aman dalam jangka panjang.

“Fenomena seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Yang berubah hanya istilah atau nama tren yang digunakan untuk menggambarkan perubahan cara orang berbelanja akibat kondisi ekonomi, serta seberapa cepat masyarakat berpindah dari satu tren internet ke tren lainnya,” ujar Brett House, profesor ekonomi di sekolah bisnis Columbia University, dikutip dari Newyork Times.

3. Flexing culture mulai bikin orang cepat lelah

ilustrasi memeriksa handphone (pexels.com/olly)
ilustrasi memeriksa handphone (pexels.com/olly)

Budaya pamer kemewahan perlahan mulai kehilangan daya tarik, terutama karena banyak orang merasa standar hidup di media sosial semakin gak realistis. Alih-alih termotivasi, sebagian anak muda justru merasa cemas dan minder saat terus-terusan melihat konten flexing.

Karena itu, muncul tren baru yang lebih menghargai kesederhanaan dan keaslian hidup. Konten tentang masak hemat, thrift shopping, sampai cerita nabung untuk dana darurat kini justru lebih mudah mendapat respons positif dibanding sekadar pamer barang branded atau liburan mewah.

4. Anak muda sekarang lebih fokus cari hidup yang stabil

ilustrasi perempuan sedang memimpin rapat
ilustrasi perempuan sedang memimpin rapat (pexels.com/rdne)

Banyak generasi muda mulai sadar bahwa kondisi ekonomi bisa berubah kapan saja. Akibatnya, prioritas mereka pun ikut bergeser, dari yang sebelumnya mengejar gengsi menjadi lebih fokus membangun kehidupan yang stabil dan aman secara finansial.

Hal ini terlihat dari meningkatnya minat terhadap tabungan, investasi jangka panjang, side hustle, sampai gaya hidup minimalis. Bagi sebagian orang, bisa hidup tenang tanpa utang dan tanpa tekanan sosial kini terasa jauh lebih membanggakan dibanding terlihat glamor di depan orang lain.

“Seperti yang ditunjukkan data kami, Gen Z tidak menjalani side hustle hanya untuk bersenang-senang; mereka melakukannya demi tetap stabil secara finansial,” ujar Faye Lucas, Senior Director of Legal and Customer Trust di KOHO, dikutip dari Money.ca.

5. Hidup sederhana bukan lagi tanda gagal

ilustrasi perempuan berkendara menggunakan vespa
ilustrasi perempuan berkendara menggunakan vespa (pexels.com/zaidmohammed)

Selama ini hidup sederhana sering dianggap identik dengan “belum sukses”. Namun sekarang, pandangan itu mulai berubah karena makin banyak anak muda yang melihat kesederhanaan sebagai pilihan hidup yang lebih sehat dan realistis.

Banyak orang mulai sadar bahwa memaksakan gaya hidup demi validasi media sosial justru bisa membuat kondisi finansial dan mental jadi ikut tertekan. Karena itu, hidup secukupnya, belanja sesuai kemampuan, dan tidak terus-menerus mengikuti tren kini dianggap lebih menenangkan dibanding harus terlihat kaya di internet.

Di tengah kondisi ekonomi yang makin gak pasti, hidup sederhana kini bukan lagi dianggap gagal. Justru bagi banyak anak muda, bisa hidup tenang tanpa pura-pura kaya terasa jauh lebih mewah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima
Follow Us

Related Articles

See More

Rupiah Merosot, Anak Muda Sekarang Mulai Relevan dengan Hidup Minimalis

18 Mei 2026, 15:00 WIBLife