“Hustle culture adalah fenomena berbahaya dengan ekspektasi yang tidak realistis, yang sering kali didukung dan diperkuat melalui media sosial," jelas Lea Lis, MD, psikiater dewasa dan anak dikutip dari Psychology Today.
Gen Z Bukan Malas, Mereka Cuma Capek Hidup Terlalu Mahal

Gen Z sering mendapat cap sebagai generasi yang malas, terlalu banyak mengeluh, atau tidak tahan tekanan kerja. Banyak yang menilai anak muda zaman sekarang kurang gigih karena mudah burnout, sering pindah kerja, atau tidak mau menjalani budaya ‘kerja keras tanpa henti’ seperti generasi sebelumnya. Padahal di balik itu semua, ada realita hidup yang jauh berbeda dibanding beberapa dekade lalu.
Harga kebutuhan pokok naik, biaya tempat tinggal semakin mahal, persaingan kerja makin ketat, sementara gaji banyak pekerja muda terasa tidak sebanding dengan biaya hidup. Mereka bukan tidak mau bekerja keras, tetapi lelah untuk memiliki keamanan finansial yang terasa semakin sulit dicapai.
1. Hustle culture membuat kerja keras terasa tidak pernah cukup

Budaya hustle culture membuat banyak anak muda merasa harus terus produktif agar dianggap sukses. Tidak cukup hanya bekerja full time, mereka juga didorong punya side hustle, membangun personal branding, hingga tetap aktif mengembangkan diri di luar jam kerja.
Masalahnya, terkadang hal ini membuat banyak orang merasa bersalah ketika tidak produktif. Akibatnya, batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi semakin kabur. Banyak Gen Z akhirnya mengalami kelelahan mental karena merasa harus terus bekerja agar bisa bertahan secara finansial sekaligus memenuhi standar sukses yang tinggi.
2. Kerja full time tapi tetap tidak merasa aman secara finansial

Banyak Gen Z sudah bekerja penuh waktu, tetapi tetap merasa hidupnya belum stabil. Gaji bulanan sering habis untuk kebutuhan dasar seperti kos, transportasi, makanan, cicilan, dan biaya kesehatan. Bahkan menabung atau membeli rumah terasa seperti tujuan yang sangat jauh.
Situasi ini membuat banyak anak muda hidup dalam kecemasan finansial berkepanjangan. Mereka bekerja keras setiap hari, tetapi tetap takut kehilangan pekerjaan atau menghadapi keadaan darurat. Tidak sedikit yang akhirnya merasa lelah secara emosional karena hidup terasa hanya untuk 'bertahan' dari bulan ke bulan.
Menurut laporan Deloitte Global Gen Z and Millennial Survey, biaya hidup menjadi salah satu sumber stres terbesar bagi Gen Z di seluruh dunia. Banyak responden mengaku khawatir tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup jangka panjang.
“Hampir separuh dari Generasi Z mengatakan mereka tidak merasa aman secara finansial,” tulis laporan tersebut.
3. Burnout kini terjadi di usia yang lebih muda

Dulu burnout sering dikaitkan dengan pekerja yang sudah lama berada di dunia kerja. Namun sekarang, banyak Gen Z mengalami kelelahan mental bahkan di awal usia 20-an. Tekanan pekerjaan, tuntutan ekonomi, dan ekspektasi sosial membuat banyak anak muda merasa cepat kehilangan energi secara emosional.
Burnout bukan sekadar rasa capek biasa. Kondisi ini bisa membuat seseorang kehilangan motivasi, sulit fokus, mudah cemas, hingga merasa kosong terhadap hidupnya sendiri. Bahkan WHO menekankan bahwa burnout berkaitan dengan stres kerja kronis yang berlangsung terus-menerus tanpa penanganan yang baik.
“Burnout adalah sindrom yang dikonseptualisasikan sebagai akibat dari stres kronis di tempat kerja yang belum berhasil dikelola," jelas World Health Organization.
"Hal ini ditandai dengan perasaan kehabisan energi atau kelelahan; peningkatan jarak mental dari pekerjaan, atau perasaan negatif atau sinisme terkait pekerjaan; dan penurunan efektivitas profesional,” lanjut dalam laporan tersebut.
4. Gen Z lebih berani memilih kesehatan mental

Berbeda dengan generasi sebelumnya yang sering diajarkan untuk bertahan apa pun kondisinya, banyak Gen Z mulai lebih terbuka membicarakan kesehatan mental. Mereka lebih berani keluar dari lingkungan kerja yang toxic atau menolak budaya kerja yang mengorbankan kehidupan pribadi sepenuhnya.
Karena itu, keputusan Gen Z resign atau mencari work-life balance sering dianggap sebagai tanda kurang tahan banting. Padahal bagi banyak anak muda, menjaga kesehatan mental adalah bentuk bertahan hidup di tengah tekanan ekonomi dan pekerjaan yang semakin berat.
"Generasi Z menghargai keseimbangan kehidupan kerja, fleksibilitas, dan makna daripada jam kerja yang panjang atau loyalitas mutlak. Hal ini terkadang disalahartikan sebagai kurangnya etos kerja oleh generasi yang lebih tua," tulis dalam jurnal berjudul "Understanding Generation Z in the Workplace: Characteristics, Challenges, and Implications" Universitas Islam Indonesia.
5. Media sosial membuat tekanan finansial terasa lebih besar

Media sosial membuat banyak orang terus membandingkan hidupnya dengan orang lain. Anak muda setiap hari melihat konten tentang liburan mewah, pencapaian karier, rumah impian, atau gaya hidup mahal. Akibatnya, tekanan untuk terlihat sukses semakin besar meski kondisi finansial sebenarnya belum stabil.
Perbandingan sosial ini dapat membuat seseorang merasa tertinggal dalam hidup. Banyak Gen Z akhirnya memaksakan diri bekerja lebih keras, mengambil banyak pekerjaan tambahan, atau bahkan berutang demi memenuhi standar hidup yang mereka lihat di internet.
Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking, penggunaan media sosial yang intens berkaitan dengan meningkatnya kecemasan dan perasaan tidak puas terhadap kondisi hidup sendiri. Paparan terhadap pencapaian orang lain secara terus-menerus dapat memperburuk tekanan psikologis terkait finansial dan kesuksesan sosial.
Banyak Gen Z bukan tidak mau bekerja keras. Mereka hanya hidup di masa ketika biaya hidup meningkat jauh lebih cepat dibanding rasa aman yang bisa didapat dari pekerjaannya. Di tengah tekanan ekonomi, budaya hustle, dan ekspektasi sosial yang tinggi, rasa lelah menjadi sesuatu yang sangat wajar dirasakan generasi muda saat ini.



















