ilustrasi cuti sakit (unsplash.com/engin akyurt)
Masih banyak orang yang merasa cuti hanya pantas digunakan untuk keperluan penting, seperti menghadiri acara keluarga, bepergian jauh, atau mengurus kebutuhan tertentu. Jika tidak memiliki agenda khusus, mereka merasa tidak cukup punya alasan untuk mengambil libur. Akibatnya, waktu istirahat sederhana sering dianggap tidak penting.
Padahal, tidak melakukan apa-apa juga bisa menjadi alasan yang sah untuk cuti. Menghabiskan waktu di rumah, membaca buku yang tertunda, atau sekadar menikmati hari tanpa jadwal sering memberi manfaat yang tidak kalah besar. Sayangnya, overwork bikin banyak orang takut ambil cuti karena kebiasaan masyarakat mengaitkan cuti dengan acara besar bikin mereka terus menunggu momen tertentu yang belum tentu datang. Saat kesempatan itu tiba, rasa lelah biasanya sudah menumpuk terlalu lama.
Overwork tidak selalu muncul karena banyaknya pekerjaan, tetapi juga karena cara sebagian orang memandang waktu istirahat. Ketika cuti dianggap sebagai sesuatu yang perlu dibenarkan, rasa bersalah akan terus mengikuti setiap rencana libur yang dibuat. Jika hak cuti sudah tersedia, mengapa masih merasa harus mencari alasan untuk menggunakannya?