Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Minority Stress dan Self-Doubt, Apa Hubungan Keduanya?

Minority Stress dan Self-Doubt, Apa Hubungan Keduanya?
ilustrasi self-doubt (pexels.com/cottonbro studio)
Intinya Sih
  • Minority stress muncul akibat stigma dan diskriminasi terhadap kelompok minoritas, yang dapat memengaruhi cara seseorang menilai dirinya sendiri hingga menumbuhkan self-doubt.
  • Tekanan sosial berulang membuat individu merasa harus terus membuktikan diri, sehingga kepercayaan diri mudah goyah dan penilaian diri bergantung pada pengakuan orang lain.
  • Lingkungan yang suportif dan inklusif membantu mengurangi self-doubt dengan menciptakan rasa aman, penerimaan, serta kesempatan untuk melihat kemampuan diri secara lebih objektif.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Rasa ragu terhadap diri sendiri atau self-doubt bisa dialami siapa saja. Namun, pada sebagian orang, keraguan tersebut tidak hanya muncul karena pengalaman gagal atau kurang percaya diri, melainkan juga dipengaruhi oleh tekanan sosial yang terus terjadi. Salah satu bentuk tekanan tersebut dikenal sebagai minority stress, yaitu stres yang muncul akibat pengalaman menghadapi stigma, diskriminasi, atau perlakuan yang berbeda karena seseorang berasal dari kelompok minoritas.

Minority stress dan self-doubt memang bukan hal yang sama, tetapi keduanya dapat saling berkaitan. Tekanan yang dialami berulang kali bisa memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri, bahkan ketika tidak ada lagi orang yang mengkritik atau meremehkannya. Berikut beberapa alasan mengapa minority stress dapat membuat self-doubt semakin mudah muncul.

1. Komentar yang terus berulang dapat perlahan memengaruhi cara memandang diri sendiri

ilustrasi memberi komentar
ilustrasi memberi komentar (pexels.com/Felicity Tai)

Satu komentar negatif mungkin bisa diabaikan. Namun, ketika seseorang berkali-kali menerima perlakuan yang meremehkan, dianggap kurang mampu, atau diperlakukan berbeda karena identitasnya, pengalaman tersebut dapat meninggalkan kesan yang lebih dalam. Lambat laun, ucapan dari orang lain mulai terdengar seperti kebenaran yang harus dipercaya.

Di titik inilah self-doubt mulai tumbuh. Seseorang bukan lagi sekadar mengingat komentar yang diterimanya, tetapi mulai mempertanyakan kemampuan dirinya sendiri. Padahal, keraguan tersebut sering kali berawal dari penilaian lingkungan, bukan dari kemampuan yang sebenarnya dimiliki. Semakin lama tekanan itu berlangsung, semakin sulit membedakan mana pendapat orang lain dan mana penilaian yang benar terhadap diri sendiri.

2. Terlalu sering merasa harus membuktikan diri membuat kepercayaan diri mudah goyah

ilustrasi membuktikan diri
ilustrasi membuktikan diri (pexels.com/Jopwell)

Sebagian orang yang mengalami minority stress merasa harus bekerja lebih keras agar diterima. Mereka berusaha tampil sebaik mungkin, menghindari kesalahan sekecil apa pun, dan terus membuktikan bahwa mereka layak mendapat kesempatan yang sama. Upaya tersebut memang bisa menjadi penyemangat, tetapi juga dapat melelahkan jika berlangsung terus-menerus.

Ketika hasil yang diperoleh tidak sesuai harapan, self-doubt lebih mudah muncul. Seseorang mulai bertanya apakah usahanya memang cukup atau apakah dirinya memang pantas berada di posisi tersebut. Akibatnya, rasa percaya diri menjadi bergantung pada pengakuan dari orang lain, bukan pada kemampuan yang sudah dimiliki.

3. Pengalaman ditolak membuat seseorang lebih mudah meragukan situasi baru

Ilustrasi ditolak
Ilustrasi ditolak (pexels.com/Keira Burton)

Pengalaman negatif yang terjadi berulang dapat memengaruhi cara seseorang menghadapi kesempatan berikutnya. Misalnya, setelah beberapa kali merasa diperlakukan tidak adil, seseorang menjadi lebih ragu ketika ingin bergabung dalam komunitas baru, melamar pekerjaan, atau menyampaikan pendapat. Keraguan itu muncul bahkan sebelum mengetahui bagaimana respons orang lain.

Bukan berarti semua situasi baru akan memberikan pengalaman yang sama. Namun, pengalaman sebelumnya membuat otak lebih waspada terhadap kemungkinan ditolak lagi. Akibatnya, self-doubt muncul lebih cepat karena seseorang sudah lebih dulu membayangkan hasil yang buruk sebelum benar-benar mencoba.

4. Minority stress membuat keberhasilan terasa kurang berarti

ilustrasi kritik
ilustrasi kritik (pexels.com/Yan Krukau)

Orang yang mengalami minority stress terkadang lebih mudah mengingat kritik daripada menghargai pencapaiannya sendiri. Ketika berhasil, mereka menganggapnya sebagai keberuntungan atau kebetulan. Sebaliknya, satu kesalahan kecil justru dijadikan bukti bahwa dirinya memang tidak cukup baik.

Pola pikir seperti ini membuat rasa percaya diri sulit berkembang. Keberhasilan yang seharusnya menjadi sumber keyakinan tidak pernah benar-benar diakui, sedangkan pengalaman negatif terus mendapat perhatian yang lebih besar. Lama-kelamaan, self-doubt tetap bertahan meski kemampuan dan prestasi sebenarnya terus meningkat.

5. Self-doubt dapat berkurang ketika lingkungan terasa lebih aman dan suportif

ilustrasi lingkungan yang suportif
ilustrasi lingkungan yang suportif (pexels.com/Helena Lopes)

Hubungan antara minority stress dan self-doubt bukan berarti tidak bisa diputus. Ketika seseorang berada di lingkungan yang menghargai perbedaan, mendapat kesempatan yang adil, dan didukung tanpa prasangka, rasa ragu terhadap diri sendiri perlahan dapat berkurang. Pengalaman positif membantu membangun kembali keyakinan yang sebelumnya terkikis oleh tekanan sosial.

Karena itu, mengatasi self-doubt tidak selalu cukup dilakukan dengan meningkatkan rasa percaya diri dari dalam diri sendiri. Lingkungan yang sehat juga memiliki peran penting dalam membentuk cara seseorang memandang dirinya. Semakin sering seseorang merasa diterima apa adanya, semakin mudah pula ia melihat kemampuannya secara lebih objektif.

Minority stress dan self-doubt memang memiliki hubungan yang erat, tetapi keduanya bukan sesuatu yang harus diterima sebagai bagian tetap dari kehidupan. Mengenali bagaimana tekanan sosial memengaruhi cara memandang diri sendiri merupakan langkah awal yang penting. Dengan dukungan yang tepat, pengalaman yang lebih positif, dan lingkungan yang lebih inklusif, rasa ragu terhadap diri sendiri dapat perlahan digantikan oleh keyakinan yang dibangun dari pengalaman, bukan dari prasangka orang lain.

Referensi

"Minority Stress, Mental Health, and Mindfulness and Self-Compassion as Moderators among Young Sexual Minority Men: A Moderated Structural Equation Analysis." Journal of Contextual Behavioral Science. Diakses pada Juli 2026

"Social Comparison, Belongingness, Self-Doubt, and Stress: The Case of Hispanic Students at Hispanic Majority Institutions." Sage Journal. Diakses pada Juli 2026

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More