Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
7 Penyebab Burnout pada Freelancer, Lingkungan Gak Suportif?
ilustrasi burnout (pexels.com/MART PRODUCTION)
  • Freelancer rentan burnout karena beban kerja berlebihan, tenggat mepet, dan klien sulit yang menguras energi meski pendapatan tidak selalu sepadan.
  • Fleksibilitas waktu tanpa batas justru membuat banyak freelancer kehilangan keseimbangan hidup, bekerja tanpa libur, dan mengabaikan kebutuhan tubuh.
  • Minimnya apresiasi lingkungan serta masa sepi pekerjaan menambah tekanan mental, membuat freelancer merasa tidak berkembang dan kehilangan motivasi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Burnout atau kelelahan fisik dan mental yang luar biasa tidak hanya bisa terjadi pada karyawan kantoran. Orang sering menganggap menjadi budak korporat memang berat. Sementara itu, menjadi pekerja lepas lebih bebas.

Rasanya mustahil seorang freelancer sampai burnout segala. Mereka bebas mau bekerja atau tidak. Juga tak terikat waktu kerja yang ketat. Namun, sama seperti karyawan kantor, mereka yang bekerja lepas juga dapat mengalami kelelahan fisik serta psikis.

Malah terkadang keadaannya lebih buruk daripada pekerja kantoran. Di balik kesan pekerjaannya yang sangat fleksibel, ada banyak penyebab burnout pada freelancer. Baik orang yang baru maupun yang sudah lama bekerja lepas sama-sama dapat mengalaminya.

1. Mengambil terlalu banyak job dengan deadline mepet

ilustrasi burnout (pexels.com/Keira Burton)

Pekerja lepas punya kebebasan untuk mengambil banyak atau sedikit pekerjaan. Mereka cenderung mengambil job sebanyak mungkin selama masih bisa untuk mengantisipasi masa-masa paceklik. Di satu sisi, cara ini bikin pendapatan mereka deras mengalir.

Di sisi lain, mereka mengalami kelelahan. Apalagi semua tenggat pengerjaannya mepet. Pikiran terasa penuh sekali. Tidur pun rasanya gak bisa memasok kembali energi mereka buat hari berikutnya.

2. Menghadapi klien-klien yang sulit padahal fee sedikit

ilustrasi burnout (pexels.com/Gustavo Fring)

Sebagai pekerja lepas, mereka kerap mesti bekerja dengan klien yang berbeda-beda. Lain orang lain watak. Saat mereka harus menghadapi banyak klien yang menyebalkan, energi terkuras lebih cepat. Freelancer gak bisa menghentikan pekerjaan dari klien yang rewel.

Bisa celaka apabila tak ada pekerjaan lain untuk mengisi pemasukan. Pun sikap seperti itu dikhawatirkan malah memperburuk reputasi ke depannya. Berhadapan dengan satu klien yang sukar dipuaskan saja sudah bikin capek batin. Apalagi lebih dari itu dan upahnya tak seberapa.

3. Tidak menerapkan keteraturan waktu kerja

ilustrasi burnout (pexels.com/Vitaly Gariev)

Keistimewaan pekerja lepas yang bekerja dengan jam fleksibel juga dapat menjadi jebakan yang bikin mereka burnout. Kadang mereka mulai bekerja pagi sekali. Terkadang siang atau sore mereka baru mulai bekerja.

Tak jarang pekerja lepas bekerja dari malam hingga pagi, alias tidak tidur semalaman. Tanpa pengaturan waktu kerja dan mengabaikan kebutuhan tubuh, badan bakal terasa amat lelah. Tingkat stres juga melonjak meski dari segi pekerjaan gak ada kesulitan yang berarti.

4. Tiada hari tanpa bekerja

ilustrasi burnout (pexels.com/www.kaboompics.com)

Freelancer juga bisa terjebak kebiasaan bekerja tanpa hari libur sama sekali. Saking kehidupan profesional mereka tidak diatur oleh satu pun atasan. Dengan semangat untuk selalu produktif, pekerja lepas malah dapat merasa bersalah bahkan tak berguna apabila libur.

Beda dengan karyawan kantor yang memiliki jadwal libur yang jelas. Mereka bisa sama sekali tidak menyentuh pekerjaan pada hari libur. Bekerja setiap hari seperti yang dilakukan sebagian pekerja lepas membuat hidup mereka seolah-olah berkutat pada tugas-tugas saja. Tidak ada dunia lain.

5. Merasa hidupnya tidak berkembang

ilustrasi burnout (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Perasaan ini muncul karena tidak pernah ada kesempatan naik jabatan atau promosi untuk pekerja lepas. Bertahun-tahun mereka menjalani pekerjaan yang kurang lebih sama bisa bikin hidup berjalan di tempat. Terutama bagi freelancer yang bekerja sendirian dari awal memulai hingga sekarang.

Seperti penulis. Keadaan lebih baik terjadi pada pekerja lepas yang masih mungkin membentuk tim. Walaupun awalnya dia juga bekerja sendirian, seiring waktu dia bisa mempekerjakan orang lain untuk membantunya. Mudah untuknya merasakan bahwa hidupnya telah berkembang melalui pekerjaan lepas tersebut.

6. Minim apresiasi serta dukungan dari lingkungan

ilustrasi burnout (pexels.com/Helena Lopes)

Bukannya pekerja lepas yang mengalami burnout karena minimnya dukungan berarti manja. Namun, support lingkungan memang penting. Terutama orang-orang terdekat seperti keluarga. Apabila keluarga sendiri menunjukkan sikap sebaliknya, freelancer akan marah atau merasa tidak berharga.

Contoh perlakuan yang negatif ialah ia disamakan dengan pengangguran. Saat dia seharusnya bekerja, malah terus-menerus diganggu oleh berbagai urusan. Bahkan setelah ia memberikan penjelasan bahwa ia sedang bekerja, perlakuan yang diterima dari tahun ke tahun sama.

7. Musim sepi job padahal segala usaha telah dilakukan

ilustrasi burnout (pexels.com/Inkverse Store)

Pekerjaan yang terlalu banyak dan ketatnya tenggat bikin pekerja lepas rawan burnout. Akan tetapi, kondisi sebaliknya juga sama saja. Masa-masa sepi pekerjaan tanpa penyebab yang jelas adalah situasi terburuk bagi seorang pekerja lepas.

Pantas mereka cemas karena pendapatannya akan sangat terpengaruh. Mereka selama ini telah bekerja sebaik mungkin. Berbagai cara untuk mempromosikan jasanya pun sudah dilakukan. Namun, belum juga berhasil mendatangkan pekerjaan. Hari ini terasa terlalu berat buat dijalani. Sementara masa depan terlampau sulit dibayangkan.

Tak hanya pekerja kantoran, penyebab burnout pada freelancer pun ada. Masalah barangkali telah menumpuk sekian lama. Namun, baru akhir-akhir ini segalanya terasa terlalu berat. Atasi dengan mengecek serta mengatur kembali irama kerja. Bila keadaan mental tidak membaik, lakukan konsultasi dengan psikolog sampai beban pikiran terangkat satu per satu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team