Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kerja di Lingkungan Toksik? 5 Prinsip Stoikisme agar Mental Tetap Aman
ilustrasi cara menerapkan stoikisme di kantor yang toksik bisa menjadi penyelamat bagi kesehatan mental (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)

Baru saja menaruh tas di kursi, tiba-tiba atasan sudah menanyakan laporan dengan nada tinggi atau rekan kerja mulai menyebar gosip gak sedap. Rasanya ingin sekali resign detik itu juga, padahal cicilan dan kebutuhan hidup masih menanti untuk dibayar. Memahami cara menerapkan stoikisme di kantor yang toksik bisa menjadi penyelamat bagi kesehatan mental kamu agar gak gampang meledak di tengah tekanan, lho.

Kalau kamu terus-menerus membiarkan lingkungan kerja yang negatif menguras energi, perlahan kamu bakal kehilangan jati diri dan semangat hidup. Jangan sampai kamu terjebak dalam siklus stres berkepanjangan yang hanya akan berujung pada burnout parah. Kamu perlu mempunyai perlindungan mental yang kuat supaya tetap bisa bekerja dengan profesional tanpa harus mengorbankan kebahagiaan pribadi.

1. Fokus pada hal yang bisa kamu kontrol saja

ilustrasi fokus bekerja (pexels.com/Christina Morillo)

Sering kali kamu merasa stres karena memikirkan sikap rekan kerja yang menyebalkan atau kebijakan kantor yang gak adil. Masalahnya, kamu gak punya remote kontrol untuk mengubah perilaku orang lain atau keputusan perusahaan yang sudah mutlak. Terlalu memikirkan hal-hal di luar kuasa hanya akan membuat pikiran kamu makin ruwet dan hati jadi gak tenang.

Solusinya, mulailah memisahkan mana yang merupakan tanggung jawabmu dan mana yang bukan. Fokuslah pada kualitas kerjamu sendiri, ketepatan waktu, dan caramu merespons keadaan di sekitar. Dengan begini, kamu bakal merasa lebih berdaya karena energimu digunakan untuk hal-hal yang benar-benar bisa membawa perubahan bagi dirimu sendiri.

2. Hindari masuk ke dalam pusaran drama rekan kerja

ilustrasi fokus bekerja (pexels.com/Mikael Blomkvist)

Area istirahat kerap jadi tempat gosip di kantor yang memang banyak didatangi saat jam istirahat. Namun ingat, ikut-ikutan dalam drama antar rekan kerja hanya akan menambah beban pikiran dan membuatmu terseret dalam konflik yang gak penting, lho. Kaum stoik sangat menghargai ketenangan pikiran (ataraxia) dan biasanya menghindari hal-hal yang bisa merusak kedamaian tersebut.

Cobalah untuk tetap bersikap ramah namun tetap menjaga jarak profesional agar kamu gak terseret dalam pusaran "situasi" yang toksik. Fokus saja pada tujuan utamamu datang ke kantor, yaitu untuk bekerja dan mengembangkan potensi diri. Menjauh dari drama bukan berarti kamu sombong, tapi itu adalah bentuk self-love supaya mental kamu tetap terjaga dengan aman, kok.

3. Kelola ekspektasi agar hati gak gampang ambyar

ilustrasi tetap tenang dan profesional di kantor (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Salah satu penyebab kamu sering merasa kecewa di kantor adalah karena kamu menaruh ekspektasi terlalu tinggi pada lingkungan kerja. Kamu berharap semua rekan kerja suportif, atasan selalu mengerti, dan lingkungan kerja selalu harmonis seperti di drama Korea. Padahal, realitanya jauh dari harapan, apalagi jika kamu memang berada di lingkungan yang sudah terlanjur toksik.

Cara mengatasinya adalah dengan merendahkan ekspektasi terhadap lingkungan, namun tetap menjaga standar tinggi untuk kinerjamu sendiri. Jangan berharap pujian atau validasi dari orang-orang yang memang gak punya empati sejak awal. Ketika kamu gak berekspektasi tinggi, kamu gak bakal merasa terlalu sakit hati saat lingkungan kantor gak berjalan sesuai keinginanmu.

4. Ambil jeda sejenak sebelum memberikan reaksi

ilustrasi minta jeda saat berinteraksi (pexels.com/SHVETS production)

Pernah gak sih kamu langsung membalas chat atau email penuh amarah saat sedang emosi, lalu menyesal kemudian? Stoikisme mengajarkan kamu untuk memberikan jarak antara stimulus (kejadian) dan respons (tindakan kamu). Jangan biarkan emosi impulsif mengambil alih kendali dirimu hanya karena provokasi dari orang lain di kantor.

Coba tarik napas dalam-dalam selama sepuluh detik sebelum kamu memutuskan untuk bicara atau bertindak saat sedang dipancing emosinya. Logika harus selalu berada di depan perasaan agar kamu gak melakukan kesalahan fatal yang bisa merugikan kariermu sendiri. Dengan memberikan jeda, kamu menunjukkan bahwa kamu adalah tuan atas emosimu sendiri.

5. Bayangkan skenario terburuk supaya mental lebih siap

ilustrasi rekan kerja toksik (pexels.com/Alena Darmel)

Ada sebuah teknik bernama Premeditatio Malorum, di mana kamu membayangkan kemungkinan buruk yang bisa terjadi sebelum memulai hari. Contohnya, bayangkan jika hari ini kamu akan ditegur, ada revisi dadakan, atau rekan kerja yang kembali berulah. Ini bukan berarti kamu pesimis, melainkan untuk melatih kesiapan mental jika hal-hal tersebut benar-benar terjadi.

Ketika kamu sudah memvisualisasikan tantangan tersebut, kamu gak bakal kaget atau panik saat hal itu benar-benar mampir di depan mata. Kamu jadi punya rencana cadangan dalam pikiran tentang bagaimana cara bersikap yang paling bijak tanpa harus merasa hancur. Mental yang sudah "pemanasan" sejak pagi akan jauh lebih tangguh menghadapi gempuran toksisitas di kantor.

Menerapkan stoikisme memang butuh waktu dan latihan yang konsisten, tapi hasil kedamaian batinnya sangat layak untuk diperjuangkan. Dengan memahami cara menerapkan stoikisme di kantor toksik, kamu akan menyadari bahwa meskipun lingkungan di luar kacau, ketenangan di dalam dirimu adalah milikmu sepenuhnya yang gak boleh dicuri oleh siapa pun. Tetap semangat, kamu jauh lebih kuat dari apa yang kamu bayangkan!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorAtqo Sy