Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

6 Cara Menjelaskan Pilihan Jurusan Kuliah pada Keluarga

6 Cara Menjelaskan Pilihan Jurusan Kuliah pada Keluarga
ilustrasi anak berdiskusi dengan orangtua (magnific.com/teksomolika)
Intinya Sih
  • Pahami alasan memilih jurusan dan siapkan informasi yang kuat sebelum berdiskusi.

  • Jelaskan peluang karier secara realistis dan tunjukkan keseriusanmu.

  • Dengarkan kekhawatiran keluarga dan pilih waktu yang tepat untuk berbicara.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Memilih jurusan kuliah sering kali bukan hanya perihal minat dan kemampuan diri sendiri. Banyak calon mahasiswa juga harus menghadapi tantangan lain: meyakinkan keluarga tentang pilihan yang sudah mereka tentukan. Situasi ini cukup umum terjadi. Ada orangtua yang ingin anak mereka masuk jurusan kedokteran, sementara sang anak lebih tertarik pada desain komunikasi visual. Ada juga yang ingin mengambil jurusan sastra, tetapi keluarga menganggap jurusan tersebut kurang menjanjikan dari segi karier.

Perbedaan pandangan seperti ini bisa menimbulkan perdebatan yang melelahkan. Padahal, jika disampaikan dengan cara yang tepat, keluarga biasanya lebih mudah memahami alasan di balik pilihan jurusan yang kamu ambil. Kalau saat ini sedang berada dalam situasi tersebut, berikut beberapa cara yang bisa kamu coba.

1. Pahami alasan memilih jurusan tersebut terlebih dahulu

ilustrasi belajar
ilustrasi belajar (unsplash.com/Annie Spratt)

Sebelum menjelaskan kepada keluarga, pastikan kamu sendiri benar-benar memahami alasan memilih jurusan tersebut. Jangan sampai jawabanmu sebatas karena suka atau karena terlihat menarik. Keluarga biasanya membutuhkan penjelasan yang lebih konkret, misalnya apa yang membuatmu tertarik pada bidang tersebut, keterampilan apa yang ingin kamu pelajari, dan bagaimana jurusan itu bisa mendukung rencana masa depanmu. Ketika kamu bisa menjelaskan pilihan dengan jelas dan terstruktur, keluarga akan melihat bahwa keputusan tersebut bukan keputusan impulsif.

2. Cari informasi sebanyak mungkin tentang jurusan pilihanmu

ilustrasi melakukan pencarian informasi di internet
ilustrasi melakukan pencarian informasi di internet (unsplash.com/SumUp)

Salah satu alasan keluarga meragukan pilihan jurusan tertentu ialah kurangnya informasi. Mereka mungkin hanya mengenal jurusan-jurusan yang populer sejak dulu, seperti kedokteran, hukum, atau teknik. Karena itu, cobalah mengumpulkan informasi sebanyak mungkin mengenai jurusan yang ingin kamu ambil. Pelajari mata kuliahnya, peluang kerja setelah lulus, perkembangan industri terkait, hingga kisaran profesi yang bisa ditekuni. Semakin lengkap informasi yang kamu miliki, semakin mudah pula menjawab pertanyaan dan kekhawatiran dari keluarga.

3. Jelaskan peluang karier secara realistis

ilustrasi bekerja sebagai staf dapur
ilustrasi bekerja sebagai kitchen crew (pexels.com/Rene Terp)

Banyak orangtua sebenarnya tidak mempermasalahkan jurusan yang dipilih anak mereka. Yang mereka khawatirkan ialah masa depan setelah lulus kuliah. Oleh karena itu, saat berdiskusi dengan keluarga, cobalah menjelaskan peluang karier yang bisa kamu tempuh setelah menyelesaikan pendidikan dari jurusan tersebut. Hindari memberikan gambaran yang terlalu muluk-muluk. Sebaliknya, tunjukkan berbagai pilihan karier yang memang realistis dan sesuai dengan kondisi pasar kerja saat ini. Pendekatan seperti ini biasanya membuat keluarga merasa lebih tenang karena melihat bahwa kamu sudah memikirkan masa depan secara matang.

4. Dengarkan kekhawatiran keluarga

ilustrasi berbicara dengan orangtua
ilustrasi berbicara dengan orangtua (freepik.com/freepik)

Kesalahan yang sering terjadi ialah menganggap keluarga selalu menjadi pihak yang menghalangi impian. Padahal, dalam banyak kasus, kekhawatiran mereka muncul karena rasa sayang dan keinginan agar anak memiliki kehidupan yang baik pada masa mendatang. Mereka mungkin takut kamu kesulitan mencari pekerjaan atau menyesal kemudian.

Daripada langsung membantah, coba dengarkan terlebih dahulu apa yang menjadi kekhawatiran mereka. Beri kesempatan pada keluarga untuk menyampaikan pendapat dan alasan mereka secara terbuka. Dengan memahami sudut pandang masing-masing, diskusi akan terasa lebih nyaman dan tidak mudah berubah menjadi adu argumen.

5. Tunjukkan keseriusanmu

ilustrasi mengikuti webinar
ilustrasi mengikuti webinar (pexels.com/SHVETS production)

Keluarga akan lebih percaya jika melihat bahwa pilihan jurusanmu bukan sekadar tren atau keputusan sesaat. Kamu bisa menunjukkan keseriusan dengan mengikuti webinar, membaca buku terkait bidang tersebut, mengikuti kursus daring, atau bahkan mulai membuat portofolio jika diperlukan. Tindakan nyata sering kali jauh lebih meyakinkan daripada sekadar kata-kata. Saat keluarga melihat bahwa kamu benar-benar berusaha mendalami bidang yang kamu pilih, mereka biasanya akan lebih terbuka untuk memberikan dukungan.

6. Pilih waktu yang tepat untuk berdiskusi

ilustrasi anak berdiskusi dengan orangtua
ilustrasi anak berdiskusi dengan orangtua (magnific.com/teksomolika)

Cara penyampaian sering kali sama pentingnya dengan isi pembicaraan. Hindari membahas pilihan jurusan ketika suasana sedang tegang, orangtua sedang lelah, atau saat terjadi konflik lain di rumah. Pilih waktu yang lebih santai agar semua pihak bisa berdiskusi dengan kepala dingin. Ketika suasana lebih tenang, peluang untuk saling memahami biasanya jauh lebih besar.

Pada akhirnya, memilih jurusan bukan hanya soal mengikuti keinginan keluarga atau memaksakan kehendak pribadi. Yang paling penting ialah menemukan jalan tengah yang membuatmu bisa belajar dengan semangat sekaligus membuat keluarga merasa yakin bahwa masa depanmu berada di jalur yang tepat. Dukungan keluarga memang bukan satu-satunya faktor penentu kesuksesan, tetapi memiliki dukungan tersebut tentu akan membuat perjalanan kuliah terasa jauh lebih ringan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎

Related Articles

See More