Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Realita Pahit Kerja di Luar Negeri yang Jarang Diceritakan

Ilustrasi bekerja
Ilustrasi bekerja (freepik.com/pressfoto)

Bekerja di luar negeri sering kali digambarkan sebagai tiket menuju kehidupan yang lebih baik. Gaji besar, pengalaman internasional, dan status sosial yang naik menjadi bayangan indah yang menggiurkan. Namun di balik foto-foto keren di depan gedung megah atau cerita sukses yang viral, ada sisi lain yang jarang diungkap.

Banyak orang hanya melihat hasilnya, tanpa tahu betapa beratnya proses yang harus dilalui. Berikut adalah realita pahit kerja di luar negeri yang perlu kamu ketahui sebelum memutuskan untuk merantau ke negeri orang.

1. Kesepian bukan sekadar perasaan, tapi kenyataan yang harus dihadapi setiap hari

Ilustrasi cemas (freepik.com/freepik)
Ilustrasi cemas (freepik.com/freepik)

Di Indonesia, kita terbiasa dengan kehangatan tetangga, keluarga yang bisa dikunjungi kapan saja, dan teman-teman yang selalu ada. Di luar negeri, semua itu hilang. Pulang kerja ke apartemen kosong, makan malam sendirian, dan tidak punya siapa-siapa untuk diajak ngobrol menjadi rutinitas yang melelahkan secara emosional.

Kesepian ini sering kali tidak terlihat di media sosial. Yang diunggah tentu momen-momen menyenangkan, bukan malam-malam panjang yang dihabiskan dengan menatap langit-langit kamar. Banyak pekerja migran yang akhirnya mengalami masalah kesehatan mental karena tidak punya support system yang memadai. Ironisnya, mereka justru harus tampil baik-baik saja agar keluarga di rumah tidak khawatir.

2. Gaji besar tidak selalu berarti hidup mewah karena biaya hidup juga selangit

Ilustrasi uang (freepik.com/drobotdean)
Ilustrasi uang (freepik.com/drobotdean)

Angka gaji yang terlihat fantastis di mata keluarga Indonesia bisa jadi hanya cukup untuk bertahan hidup di negara tujuan. Sewa apartemen yang menghabiskan separuh gaji, biaya transportasi yang mahal, hingga harga makanan yang membuat kantong menjerit adalah kenyataan yang harus dihadapi.

Belum lagi jika harus mengirim uang ke keluarga di rumah, menabung untuk masa depan, dan menyisihkan dana darurat. Perhitungan yang awalnya terlihat menguntungkan bisa berubah menjadi tekanan finansial yang konstan. Banyak orang yang akhirnya bekerja lebih keras, mengambil lembur, atau bahkan pekerjaan sampingan hanya untuk bisa menyeimbangkan pemasukan dan pengeluaran.

3. Diskriminasi dan perlakuan berbeda masih menjadi bagian dari keseharian

ilustrasi berbincang (pexels.com/Jack Sparrow)
ilustrasi berbincang (pexels.com/Jack Sparrow)

Meski dunia sudah semakin terbuka, kenyataannya diskriminasi masih terjadi di banyak tempat. Mulai dari pandangan merendahkan, perlakuan tidak adil di tempat kerja, hingga kesulitan mendapatkan kesempatan yang sama dengan pekerja lokal. Kadang hal ini terjadi secara terang-terangan, kadang sangat halus hingga sulit dibuktikan.

Sebagai orang asing, posisi tawar sering kali lebih lemah. Komplain terlalu banyak bisa berisiko pada status pekerjaan atau visa. Akhirnya, banyak yang memilih diam dan menelan ketidakadilan demi mempertahankan pekerjaan. Situasi ini menciptakan tekanan psikologis yang menumpuk dari waktu ke waktu tanpa ada jalan keluar yang jelas.

4. Hubungan dengan keluarga dan orang terdekat perlahan merenggang tanpa disadari

Ilustrasi gawai (freepik.com/freepik)
Ilustrasi gawai (freepik.com/freepik)

Perbedaan zona waktu membuat komunikasi menjadi tantangan tersendiri. Saat kamu baru bangun, keluarga di Indonesia sudah bersiap tidur. Saat kamu libur, mereka sedang sibuk bekerja. Momen-momen penting seperti ulang tahun, lebaran, atau sekadar kumpul keluarga hanya bisa diikuti lewat layar ponsel.

Lama-kelamaan, hubungan yang tadinya dekat mulai terasa asing. Anak-anak tumbuh tanpa kehadiran langsung, orang tua menua tanpa bisa dirawat, dan persahabatan perlahan memudar karena jarak. Yang paling menyakitkan adalah ketika ada kabar duka dan kamu tidak bisa pulang tepat waktu. Pengorbanan ini sering kali tidak terlihat, tapi dampaknya sangat dalam.

5. Ketidakpastian status dan masa depan selalu membayangi setiap langkah

ilustrasi cemas (pexels.com/Pavel Danilyuk)
ilustrasi cemas (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Visa kerja punya batas waktu, kontrak bisa tidak diperpanjang, dan kebijakan imigrasi bisa berubah sewaktu-waktu. Hidup di luar negeri berarti hidup dengan ketidakpastian yang konstan. Kamu tidak pernah benar-benar tahu apakah tahun depan masih bisa tinggal di negara yang sama atau harus mencari tempat baru.

Ketidakpastian ini membuat perencanaan jangka panjang menjadi sulit. Membeli rumah, membangun karier yang stabil, atau sekadar merasa "pulang" ke suatu tempat terasa seperti kemewahan yang sulit dijangkau. Banyak pekerja migran yang akhirnya terjebak dalam limbo, tidak benar-benar merasa menjadi bagian dari negara tempat mereka bekerja, tapi juga sudah merasa asing dengan tanah kelahiran sendiri.

Pada akhirnya, bekerja di luar negeri bukan tentang benar atau salah, melainkan tentang kesiapan menghadapi konsekuensi dari pilihan itu. Kisah sukses yang beredar di media sosial hanyalah satu sisi dari koin yang sama. Di sisi lain, ada air mata, pengorbanan, dan perjuangan yang jarang diceritakan. Jadi, sebelum memutuskan untuk merantau, sudahkah kamu benar-benar siap dengan semua yang harus dikorbankan?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ananda Zaura
EditorAnanda Zaura
Follow Us

Latest in Life

See More

5 Alasan Hubungan Kerja yang Sehat Berawal dari Batas yang Jelas

22 Jan 2026, 12:15 WIBLife