Iluatrasi uang dollar (pexels.com/jonathan borba)
Kenaikan Dollar sangat berdampak pada dompet anak muda. Mengapa? Berikut adalah 5 poin penjelasannya.
1. Inflasi barang impor
Pada kenyataannya, Indonesia masih bergantung pada bahan baku impor, mulai dari gandum untuk mi instan hingga komponen elektronik. Saat Dollar naik, harga produksi meningkat, yang ujung-ujungnya dibebankan kepada konsumen.
Harga gadget, skincare, hingga makanan favorit pun ikut merangkak naik. Tentunya uang yang harus dikeluarkan untuk kebutuhan juga ikut meningkat.
2. Kenaikan biaya gaya hidup era digital
Banyak layanan yang digunakan anak muda berbasis di luar negeri. Biaya langganan platform streaming film dan musik, iklan media sosial (ads), hingga software pendukung kerja kreatif dibayar menggunakan kurs Dollar. Kenaikan kurs berarti biaya langganan bulanan terasa lebih mencekik.
3. Penurunan daya beli
Dengan gaji yang cenderung stagnan namun harga barang terus naik (akibat pelemahan Rupiah), daya beli anak muda menurun. Uang Rp50 ribu yang tahun lalu bisa membeli makan siang lengkap dan kopi, kini mungkin hanya cukup untuk makan siangnya saja.
4. Suku bunga dan cicilan yang memberat
Untuk meredam kenaikan Dollar, Bank Sentral biasanya menaikkan suku bunga. Hal ini berdampak langsung pada kenaikan bunga cicilan kendaraan atau KPR (Kredit Pemilikan Rumah). Impian memiliki hunian pun terasa semakin jauh bagi anak muda.
5. Ketidakpastian lapangan kerja
Perusahaan yang memiliki utang dalam Dollar atau bergantung pada bahan baku luar negeri akan melakukan efisiensi besar-besaran. Risiko layoff (PHK) meningkat, membuat anak muda tidak bisa lagi merasa aman hanya dengan satu sumber penghasilan.