Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Soft Life dan Hustle Culture, Simak Pengertian hingga Efeknya!

ilustrasi malas bekerja
ilustrasi malas bekerja (pexels.com/RDNE Stock project)
Intinya sih...
  • Pengertian soft life: Menekankan kenyamanan, ketenangan, dan kesejahteraan mental serta emosional sebagai bentuk perawatan diri.
  • Pengertian hustle culture: Budaya yang mendorong workaholism dan mengabaikan kesehatan fisik serta mental dalam mencapai kesuksesan.
  • Efek soft life: Mendorong produktivitas cerdas, pendapatan pasif, dan kehidupan seimbang untuk definisi kesuksesan baru.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Di tengah arus budaya kerja yang semakin kompetitif, muncul perbincangan menarik antara hustle culture dan konsep soft life. Hustle culture menekankan kerja keras tanpa henti, produktivitas tinggi, dan pengorbanan waktu serta energi demi kesuksesan, sering kali dengan mengabaikan kesehatan mental dan keseimbangan hidup. Sebaliknya, soft life hadir sebagai respons yang lebih manusiawi, mengajak individu untuk menjalani hidup dengan lebih sadar, tenang, dan memprioritaskan kesejahteraan diri.

Perbedaan dua pandangan ini mencerminkan perubahan cara generasi masa kini memaknai arti sukses dan kebahagiaan dalam kehidupan sehari-hari. Yuk, simak selengkapnya!

1. Pengertian soft life

ilustrasi santai
ilustrasi santai (pexels.com/Samson Katt)

Dilansir laman Forbes, Mark Travers, seorang psikolog, menjelaskan bahwa istilah soft life pertama kali populer di kalangan komunitas influencer Nigeria sebagai bentuk perlawanan terhadap tekanan hidup yang berat. Dari sana, konsep ini menyebar secara global melalui media sosial, seperti Twitter, Instagram, dan TikTok. Soft life menekankan kenyamanan, ketenangan, serta upaya sadar untuk memprioritaskan kesejahteraan mental dan emosional, alih-alih terus mengejar produktivitas tanpa henti demi memenuhi ekspektasi sosial.

Brittany, seorang blogger gaya hidup, memperjelas makna tersebut. Menurutnya, soft life merupakan hidup yang menolak tuntutan sosial yang memaksa seseorang untuk selalu kuat dalam kondisi apa pun. Ini bukan tentang kelemahan, melainkan tentang keberanian untuk mengakui batas diri, memilih hidup yang lebih tenang, dan memberi ruang bagi diri sendiri untuk merasa lelah, sensitif, dan manusiawi. Dengan demikian, soft life dapat dipahami sebagai bentuk perawatan diri atau self-care sekaligus sikap kritis terhadap budaya yang terlalu mengagungkan kerja keras dan pengorbanan tanpa mempertimbangkan kebahagiaan pribadi.

2. Pengertian hustle culture

ilustrasi malas bekerja
ilustrasi malas bekerja (pexels.com/Kaboompics)

Istilah hustle culture berasal dari kata bahasa Inggris, hustle, yang bermakna tindakan penuh energi, dorongan untuk bergerak lebih cepat, agresif, dan tanpa henti, yang kemudian dipadukan dengan kata culture atau budaya. Secara konseptual, hustle culture merujuk pada budaya yang menempatkan kerja keras ekstrem sebagai nilai utama dalam kehidupan. Menurut Setyawati (2020), hustle culture merupakan budaya yang mendorong seseorang untuk menganut workaholism, yaitu kecenderungan untuk terus bekerja secara berlebihan hingga mengabaikan aspek kehidupan lainnya.

Istilah workaholism sendiri pertama kali diperkenalkan oleh Wayne Oates melalui bukunya Confessions of a Workaholic: The Facts About Work Addiction pada tahun 1971. Oates menggambarkan workaholism sebagai bentuk kecanduan terhadap pekerjaan, di mana individu merasa terdorong untuk terus bekerja tanpa mampu mengendalikan kebiasaan tersebut.

Dalam perkembangannya, hustle culture dimaknai sebagai kondisi bekerja terlalu keras dan terus memaksa diri melampaui batas kemampuan hingga akhirnya menjadi gaya hidup. Akibatnya, tidak ada lagi pemisahan yang jelas antara waktu kerja dan kehidupan pribadi, tiada hari tanpa bekerja. Budaya gila kerja ini kemudian dijadikan standar oleh sebagian masyarakat untuk menilai produktivitas, dedikasi, dan kinerja seseorang, meskipun sering kali berdampak negatif pada kesehatan fisik dan mental.

3. Efek soft life

ilustrasi bekerja
ilustrasi bekerja (pexels.com/fauxels)

Meskipun sering dipersepsikan sebagai gaya hidup yang santai dan minim tekanan, soft life atau gaya hidup nyaman tidak berarti menolak produktivitas. Sebaliknya, pendekatan ini justru mendorong produktivitas yang lebih cerdas dan berkelanjutan.

Dilansir laman Universitas Pendidikan Nasional, generasi Z cenderung menghindari pola kerja yang melelahkan dan tidak memberi kepuasan jangka panjang. Mereka memilih cara kerja yang lebih efisien dengan memanfaatkan teknologi, seperti otomatisasi dan kerja fleksibel, agar hasil yang dicapai tetap maksimal tanpa harus mengorbankan kesehatan mental.

Selain itu, generasi Z juga berupaya membangun aliran pendapatan pasif dan menjadikan hobi sebagai sumber penghasilan, sehingga pekerjaan tidak lagi semata-mata menjadi beban, melainkan bagian dari aktualisasi diri. Di saat yang sama, mereka tetap memberi ruang bagi kehidupan pribadi, relasi sosial, dan waktu istirahat.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa hidup dengan ritme yang lebih lambat bukan berarti hidup tanpa arah. Dengan menyeimbangkan pekerjaan, kestabilan finansial, dan kebahagiaan, generasi Z menciptakan definisi kesuksesan yang baru, produktif, bermakna, dan berkelanjutan dalam jangka panjang.

4. Efek hustle culture

Ilustrasi bekerja
Ilustrasi bekerja (pexels.com/Yan krukau)

Sementara itu, Dr. Jeanne Hoffman, seorang psikolog dari Fakultas Kedokteran University of Washington, menegaskan bahwa bekerja keras dalam waktu yang terlalu lama justru dapat berdampak negatif, khususnya terhadap kreativitas. Menurutnya, jam kerja yang melebihi 50 jam per minggu cenderung menurunkan kemampuan seseorang untuk berpikir kreatif dan inovatif. Hal ini terjadi karena tubuh dan pikiran tidak memiliki waktu pemulihan yang cukup.

Selain itu, pekerja dengan jam kerja berlebihan juga sering mengabaikan kehidupan pribadi, termasuk waktu bersama keluarga dan teman, padahal interaksi sosial terbukti mampu menurunkan tingkat stres akibat pekerjaan. Rasa bahagia dan keseimbangan hidup inilah yang justru dapat memicu munculnya energi positif serta meningkatkan kreativitas.

Dampak hustle culture tidak hanya dirasakan oleh individu yang menjalaninya, tetapi juga oleh lingkungan kerja di sekitarnya. Penganut budaya gila kerja cenderung menuntut orang lain untuk bekerja dengan intensitas yang sama tinggi, tanpa mempertimbangkan batasan dan kebutuhan rekan kerjanya. Tidak jarang mereka memberikan tugas di luar jam kerja, saat waktu istirahat, bahkan pada hari libur.

Perilaku ini berpotensi memicu konflik antaranggota tim, menurunkan keharmonisan kerja, dan pada akhirnya berdampak buruk pada produktivitas secara keseluruhan. Oleh karena itu, penting untuk menyadari bahwa kerja keras yang tidak seimbang justru dapat membawa lebih banyak kerugian daripada manfaat.

Perdebatan antara soft life dan hustle culture menunjukkan adanya pergeseran cara pandang dalam memaknai kesuksesan dan produktivitas. Hustle culture menekankan kerja keras tanpa henti sebagai tolok ukur keberhasilan. Namun, sering kali juga mengorbankan kesehatan mental, kreativitas, dan kehidupan pribadi.

Sebaliknya, soft life hadir sebagai alternatif yang lebih seimbang dengan mengutamakan kesejahteraan, kebahagiaan, dan produktivitas yang berkelanjutan. Pada akhirnya, pilihan gaya hidup bukan tentang bekerja keras atau hidup santai semata, melainkan tentang menemukan ritme yang sehat antara usaha dan istirahat agar kesuksesan yang diraih tidak hanya bersifat materi, tetapi juga memberikan makna dan kualitas hidup yang lebih baik.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Muhammad Tarmizi Murdianto
EditorMuhammad Tarmizi Murdianto
Follow Us

Latest in Life

See More

Cara Menata Meja Makan yang Benar dan Menarik, Tips Interior Designer!

06 Jan 2026, 22:21 WIBLife