Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Tipe Rekan Kerja Toxic yang Sering Ditemui di Era Hybrid Working
ilustrasi perempuan menggunakan handphone (freepik.com/jcomp)
  • Artikel membahas lima tipe rekan kerja toxic yang sering muncul di lingkungan hybrid working, mulai dari pencari muka hingga penghilang tanggung jawab menjelang deadline.
  • Setiap tipe digambarkan dengan perilaku khas yang mengganggu dinamika tim, seperti penyebar drama, pengambil kredit kerja tim, dan pemberi kritik tanpa kontribusi nyata.
  • Tulisan menekankan pentingnya komunikasi jelas dan batas sehat agar kolaborasi tetap profesional meski menghadapi berbagai karakter rekan kerja di era hybrid.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bekerja di era hybrid working memang memberi banyak fleksibilitas. Kamu bisa bekerja dari rumah sekaligus tetap terhubung dengan tim di kantor. Tapi di balik sistem kerja yang terlihat modern, dinamika kantor tetap tidak berubah. Drama kecil dengan rekan kerja kadang tetap muncul tanpa diduga.

Kadang masalahnya bukan pada pekerjaan, tapi pada orang yang ada di dalam tim. Ada rekan yang gemar cari muka; ada juga yang selalu menghindar saat tanggung jawab datang. Situasi seperti ini sering bikin kerja terasa lebih melelahkan dari seharusnya. Yuk, simak lima tipe rekan kerja toxic yang sering muncul di era kerja hybrid!

1. Si paling aktif saat atasan online

ilustrasi zoom meeting (pexels.com/Diva Plavalaguna)

Tipe ini biasanya sangat aktif saat atasan muncul di ruang meeting virtual. Dia terlihat paling semangat memberi ide dan komentar. Namun, saat diskusi tim berlangsung tanpa atasan, suaranya sering tiba-tiba hilang. Perannya mendadak tidak terlalu terlihat.

Perilaku seperti ini sering membuat rekan kerja lain merasa tidak nyaman. Kamu mungkin merasa usaha tim jadi kurang dihargai. Semua terlihat seperti panggung untuk menunjukkan diri sendiri. Lama-lama suasana kerja terasa penuh persaingan yang tidak sehat.

2. Si penghilang saat deadline mendekat

ilustrasi perempuan menggunakan handphone (freepik.com/freepik)

Di awal proyek, tipe ini biasanya terlihat santai dan setuju dengan semua rencana tim. Dia ikut rapat dan terlihat memahami tugas yang diberikan. Namun, saat deadline mulai dekat, keberadaannya mendadak sulit ditemukan. Pesan di grup kerja sering hanya dibaca tanpa respons.

Situasi seperti ini sering membuat anggota tim lain harus menutup kekosongan tugas. Kamu mungkin terpaksa mengambil pekerjaan tambahan agar proyek tetap berjalan. Rasanya cukup melelahkan ketika tanggung jawab tidak dibagi dengan adil. Apalagi jika hal ini terjadi berulang kali.

3. Si penyebar drama di grup kerja

ilustrasi mengirim pesan (pexels.com/Mikhail Nilov)

Drama kantor ternyata tidak hilang meski sistem kerja berubah menjadi hybrid. Tipe ini sering membawa gosip kecil ke dalam percakapan kerja. Topiknya bisa tentang keputusan atasan atau sikap rekan tim lainnya. Grup kerja yang seharusnya fokus pada pekerjaan malah berubah jadi ruang keluhan.

Awalnya mungkin terasa seperti obrolan santai. Namun lama-lama suasana tim jadi kurang nyaman. Kamu bisa merasa terseret dalam drama yang sebenarnya tidak perlu. Energi yang harusnya dipakai untuk kerja malah habis untuk hal lain.

4. Si ahli mengambil kredit kerja tim

ilustrasi zoom meeting (freepik.com/mego-studio)

Tipe ini sering muncul ketika hasil kerja mulai terlihat. Dia dengan cepat tampil di depan untuk menjelaskan keberhasilan proyek. Padahal banyak bagian pekerjaan dilakukan bersama oleh tim. Perannya tidak selalu sebesar yang ia ceritakan.

Situasi seperti ini sering membuat rekan kerja lain merasa kesal. Kamu mungkin merasa kontribusi tim tidak diakui dengan adil. Jika dibiarkan, hal ini bisa merusak kepercayaan dalam tim. Kolaborasi yang sehat jadi terasa sulit tercipta.

5. Si pasif tapi banyak komentar

ilustrasi melakukan zoom (freepik.com/dcstudio)

Tipe terakhir ini sering terlihat diam saat diskusi berlangsung. Dia jarang memberi ide atau membantu menyelesaikan masalah. Namun setelah keputusan dibuat, komentarnya justru mulai bermunculan. Kritik datang setelah semua pekerjaan hampir selesai.

Sikap seperti ini sering membuat proses kerja terasa lebih berat. Kamu mungkin merasa usaha tim tidak pernah cukup di mata orang tersebut. Kritik memang penting, tapi waktu penyampaiannya juga berpengaruh. Tanpa kontribusi nyata, komentar seperti ini terasa kurang membantu.

Bekerja dalam sistem hybrid working memang menuntut kerja sama yang lebih kuat. Komunikasi yang jelas jadi kunci agar tim tetap berjalan sehat. Namun realitanya, tidak semua rekan kerja punya sikap profesional yang sama. Yuk, ingatkan diri untuk tetap menjaga batas sehat saat menghadapi drama kantor seperti ini.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team