Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Waspadai Toxic Positivity di Dunia Kerja, Bisa Bikin Depresi!

ilustrasi waspadai toxic positivity di dunia kerja
ilustrasi waspadai toxic positivity di dunia kerja (pexels.com/cottonbro studio)
Intinya sih...
  • Toxic positivity di dunia kerja menuntut untuk selalu berpikir positif, menekan emosi negatif, dan membuat karyawan merasa sendirian dalam kesulitan.
  • Tanda-tanda toxic positivity muncul dalam bahasa meremehkan perasaan orang lain, tekanan untuk tampil ceria, dan penolakan terhadap emosi negatif.
  • Dampak buruk toxic positivity termasuk tekanan mental, burnout, turnover tinggi, dan kerusakan kepercayaan antar tim serta komunikasi yang tidak jujur.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kamu mungkin pernah mendengar rekan kerja atau atasan berkata, “Tetap semangat, ya!” atau “Yuk, lihat sisi positifnya saja,” bahkan ketika kamu sedang merasa stres atau kelelahan. Walau terdengar menyemangati, ungkapan seperti ini bisa menjadi bagian dari toxic positivity di dunia kerja, yaitu sebuah fenomena ketika tuntutan untuk selalu berpikir positif justru menekan emosi dan pengalaman negatif yang valid. 

Berbeda dari optimisme yang sehat, toxic positivity justru mendorong kamu untuk menutupi emosi asli demi menjaga suasana yang "positif". Padahal, emosi negatif seperti frustrasi atau kelelahan adalah sinyal alami dari tubuh dan pikiranmu yang perlu dihargai dan dipahami, bukan diabaikan. Simak uraian berikut, ya. 

1. Apa itu toxic positivity di dunia kerja?

ilustrasi toxic posivity di lingkungan kerja
ilustrasi toxic posivity di lingkungan kerja (pexels.com/Yan Krukau)

Toxic positivity di dunia kerja adalah sikap atau budaya yang menuntut kamu untuk selalu berpikir dan bersikap positif, bahkan ketika kamu sedang menghadapi tantangan serius atau tekanan yang tinggi. Alih-alih memberikan ruang untuk ekspresi emosi yang beragam, kamu justru diminta untuk menekan rasa gak nyaman, dan terus menampilkan wajah ceria. Ini berbeda dari motivasi atau semangat kerja yang membangun, karena toxic positivity justru menolak realitas dan menganggap emosi negatif sebagai sesuatu yang salah.

Di tempat kerja, hal ini sering muncul dalam bentuk kalimat seperti “Bersyukur aja, masih ada kerjaan,” atau “Pasti ada hikmahnya, jangan dipikirin terlalu dalam.” Tanpa disadari, kalimat-kalimat seperti ini justru bisa menyudutkan kamu dan membuatmu merasa sendirian dalam kesulitan. Bukannya mendapatkan dukungan yang nyata, kamu malah merasa bahwa keluhan atau kelelahanmu jadi gak penting.

2. Bagaimana toxic positivity muncul di lingkungan kerja?

ilustrasi semangat kerja
ilustrasi semangat kerja (unsplash.com/Yan Krukov)

Salah satu tanda umum toxic positivity adalah penggunaan bahasa yang meremehkan perasaan orang lain, seperti “Setidaknya kamu gak seburuk itu” atau “Jangan baper, santai aja.” Kalimat-kalimat ini menutup pintu bagi diskusi yang jujur tentang masalah yang sebenarnya sedang dihadapi oleh tim atau individu. Akibatnya, kamu jadi enggan untuk terbuka karena takut dianggap terlalu negatif atau tidak profesional.

Selain itu, ada juga tekanan untuk selalu tampil ceria dan penuh semangat, bahkan ketika kamu sedang menghadapi beban kerja berlebih atau burnout. Jika kamu menunjukkan tanda-tanda kelelahan, sering kali itu gak ditanggapi dengan solusi nyata, tetapi hanya dengan dorongan semu seperti “Ayo semangat terus!” yang sebenarnya gak membantu. Ketika masalah nyata diabaikan demi menjaga kesan positif, organisasi pun kehilangan kesempatan untuk memperbaiki kondisi kerja secara konkret.

3. Dampak buruk toxic positivity bagi karyawan dan perusahaan

ilustrasi kurangnya motivasi saat bekerja
ilustrasi kurangnya motivasi saat bekerja (pexels.com/Kampus Production)

Ketika kamu gak diberi ruang untuk mengekspresikan emosi yang sebenarnya, lama-kelamaan kamu bisa merasa terisolasi secara emosional. Dalam jangka panjang, ini dapat menimbulkan tekanan mental yang serius, bahkan memicu masalah kesehatan seperti gangguan tidur, kelelahan kronis, dan kecemasan. Banyak karyawan akhirnya merasa jenuh dan gak lagi terlibat secara emosional dengan pekerjaannya.

Dampak lainnya adalah meningkatnya angka burnout dan turnover. Ketika keluhan kamu gak didengar dan emosi kamu terus ditekan, rasa kepemilikan dan loyalitas terhadap perusahaan bisa menurun. Studi dari SHRM menunjukkan bahwa lebih dari seperempat karyawan secara global mengalami burnout, dan banyak dari mereka meninggalkan pekerjaan karena budaya kerja yang gak sehat. Kalau dibiarkan, toxic positivity bisa merusak kepercayaan antar tim dan membuat komunikasi jadi tidak jujur.

4. Mengapa budaya toxic positivity ini bisa terjadi?

ilustrasi orang yang stres
ilustrasi orang yang stres (unsplash.com/JESHOOTS.COM)

Toxic positivity di dunia kerja sering muncul karena banyak orang, termasuk pemimpin, merasa gak nyaman menghadapi emosi negatif. Bukannya mendengarkan dan memahami, mereka lebih memilih memberi respons cepat berupa nasihat positif, agar situasi gak menjadi "terlalu berat" atau "terlalu dramatis." Padahal, justru dengan menghadapi emosi secara terbuka, kamu bisa membangun hubungan kerja yang lebih kuat dan otentik, lho.

Selain itu, ada dorongan budaya organisasi yang hanya menilai karyawan berdasarkan antusiasme dan semangat luar, tanpa benar-benar memperhatikan kondisi batin atau kesejahteraan mental mereka. Budaya seperti ini menumbuhkan rasa bersalah saat kamu merasa sedih atau lelah, seolah-olah kamu gak cukup tangguh atau tidak layak berada di tim. Hal ini tentu menciptakan lingkungan kerja yang penuh tekanan emosional dan gak aman secara psikologis.

5. Cara mengatasi dan mencegah toxic positivity

ilustrasi bicara dengan rekan kerja
ilustrasi bicara dengan rekan kerja (pexels.com/RDNE Stock project)

Membangun budaya kejujuran emosional bisa mencegah toxic postivity, lho. Jadi, kamu dan rekan kerjamu harus merasa aman untuk berbicara tentang hal-hal yang menyulitkan tanpa takut dihakimi. Pemimpin juga harus memberi contoh dengan menunjukkan kerentanannya. Mereka dapat berbagi pengalaman saat menghadapi kegagalan dan bagaimana cara bangkit dari situasi tersebut.

Penting juga untuk mulai memvalidasi perasaan, bukan sekadar memberikan semangat. Jika rekan kerja sedang kesulitan, cobalah untuk mendengarkan lebih dulu dan berkata, “Itu memang berat, kamu butuh bantuan?” ketimbang langsung berkata “Kamu pasti bisa, semangat!” Dengan menunjukkan empati, kamu membantu menciptakan suasana kerja yang lebih manusiawi dan mendalam.

6. Membangun budaya kerja yang lebih sehat dan autentik

ilustrasi lingkungan kerja yang nyaman
ilustrasi lingkungan kerja yang nyaman (pexels.com/CoWomen)

Selain membangun komunikasi yang empatik, perusahaan juga perlu menyediakan akses terhadap layanan kesehatan mental, seperti program bantuan karyawan. Dengan adanya dukungan ini, kamu gak perlu merasa malu atau takut ketika membutuhkan bantuan profesional. Pemantauan rutin dari atasan tentang kesejahteraan emosional karyawannya juga dapat mencegah munculnya tekanan yang berlebihan, lho.

Budaya kerja yang sehat gak berarti semua orang harus selalu bahagia. Justru dengan memberikan ruang bagi emosi yang otentik, kamu bisa lebih terhubung dengan tim, menciptakan solusi yang realistis, dan bekerja dengan energi yang lebih berkelanjutan. Keseimbangan antara optimisme dan empati adalah kunci untuk membangun tempat kerja yang produktif sekaligus manusiawi.

Meski semangat dan optimisme penting, menuntut kamu untuk terus positif tanpa ruang untuk merasa lelah, sedih, atau frustrasi justru bisa berdampak buruk. Toxic positivity di dunia kerja bukan hanya menekan ekspresi emosional yang sehat, tapi juga merusak kepercayaan, kreativitas, dan kesejahteraan karyawan. Jadi, jangan biarkan toxic positivity mengganggu produktivitas kamu, ya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nabila Inaya
EditorNabila Inaya
Follow Us

Latest in Life

See More

[QUIZ] Dari Petualangan di Upin Ipin, Apa Kekuatan Terbesarmu di Antara Teman Sekelas?

30 Nov 2025, 20:00 WIBLife