Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Bagaimana Memulai Journaling jika Gak Tahu Harus Nulis Apa?

ilustrasi menulis jurnal
ilustrasi menulis jurnal (pexels.com/Anastasia Shuraeva)
Intinya sih...
  • Menulis jurnal bisa dimulai dengan hal sepele sehari-hari yang sering terjadi
  • Aktivitas harian seperti rutinitas dan kegiatan sederhana juga layak dicatat tanpa harus diceritakan panjang
  • Menulis hal yang mengganggu pikiran atau catatan singkat lebih baik daripada menunggu tulisan "bagus"
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Menulis jurnal sering terdengar mudah, tetapi pada praktiknya, banyak orang berhenti sebelum benar-benar mulai. Aktivitas menulis jurnal alias journaling kerap dibayangkan harus berisi pikiran penting, cerita hidup, atau tulisan panjang yang rapi. Padahal, kenyataannya jauh lebih sederhana. Banyak yang merasa buntu bukan karena tidak punya bahan, melainkan terlalu sibuk menilai isi tulisan sejak awal.

Akibatnya, buku jurnal dibiarkan kosong atau hanya terisi satu halaman. Padahal, jurnal tidak punya aturan baku soal apa yang layak ditulis atau tidak. Selama berangkat dari keseharian, tulisan apa pun sah untuk dicatat. Lantas, bagaimana memulai journaling jika gak tahu harus menulis apa? Ini kiat-kiat yang bisa kamu praktikkan.

1. Hal sepele sehari-hari sering kali justru paling mudah ditulis

ilustrasi menulis jurnal
ilustrasi menulis jurnal (pexels.com/Kevin Malik)

Banyak orang mengira jurnal harus berisi peristiwa penting agar terasa bermakna. Padahal, hal sepele, seperti bangun kesiangan, lupa membawa barang, atau memilih makan apa hari ini, jauh lebih mudah dituangkan. Cerita kecil seperti itu tidak membutuhkan pemikiran panjang, karena memang sedang terjadi. Menulis kejadian sepele membantu menghilangkan tekanan untuk tampil pintar atau mendalam.

Dari kebiasaan mencatat hal kecil, tulisan biasanya mengalir dengan sendirinya. Tidak perlu dirangkai menjadi cerita utuh atau diberi kesimpulan. Cukup ditulis apa adanya sesuai urutan kejadian. Cara ini membuat jurnal terasa lebih dekat dengan kehidupan nyata. Halaman jurnal pun terisi tanpa harus memaksa diri.

2. Aktivitas harian bisa jadi bahan tanpa harus diceritakan panjang

ilustrasi menulis jurnal
ilustrasi menulis jurnal (pexels.com/Polina)

Rutinitas sering dianggap membosankan, padahal justru paling konsisten hadir setiap hari. Aktivitas seperti berangkat kerja, membersihkan rumah, atau menghabiskan waktu luang bisa dicatat tanpa harus dijelaskan detail. Cukup tuliskan apa yang dilakukan dan kapan itu terjadi. Cara ini cocok untuk hari-hari yang terasa datar.

Menulis aktivitas harian membantu menjaga kebiasaan mencatat, meski sedang tidak ingin bercerita. Jurnal tidak selalu harus berbentuk narasi. Daftar kegiatan pun tetap sah sebagai isi jurnal. Dari catatan sederhana ini, sering kali terlihat perubahan kecil yang sebelumnya luput diperhatikan. Jurnal menjadi catatan hidup yang realistis.

3. Hal yang mengganggu pikiran layak ditulis meski belum jelas ujungnya

ilustrasi menulis jurnal
ilustrasi menulis jurnal (pexels.com/Karola G)

Tidak semua tulisan harus rapi atau punya akhir yang jelas. Pikiran mengganggu, rencana yang belum matang, atau kebingungan sederhana justru sering lebih jujur saat ditulis. Tidak perlu mencari solusi atau kesimpulan. Cukup tuliskan apa yang terlintas.

Menulis hal yang mengganjal membantu kepala terasa lebih ringan. Jurnal berfungsi sebagai tempat menaruh pikiran sementara, bukan tempat mencari jawaban. Dengan pendekatan ini, menulis terasa lebih fungsional. Tidak ada tuntutan untuk menjadi bijak atau inspiratif dan yang penting, pikiran tidak dipendam sendiri.

4. Catatan singkat lebih baik daripada menunggu tulisan “bagus”

ilustrasi menulis jurnal
ilustrasi menulis jurnal (pexels.com/Roberto Hund)

Banyak orang menunda menulis karena menunggu waktu luang atau suasana yang pas. Padahal, menulis dua atau tiga kalimat jauh lebih berguna daripada menunggu satu halaman penuh. Catatan singkat menjaga kebiasaan tetap hidup. Tidak ada kewajiban menulis panjang setiap hari.

Jurnal tidak diukur dari jumlah kata, melainkan dari konsistensi. Menulis singkat membuat aktivitas ini terasa realistis di tengah kesibukan. Lama-kelamaan, tulisan bisa bertambah dengan sendirinya. Pendekatan ini mencegah jurnal berubah menjadi beban. Menulis tetap terasa ringan dan bisa dilakukan kapan saja.

5. Jurnal tidak harus rapi, konsisten, atau enak dibaca ulang

ilustrasi menulis jurnal
ilustrasi menulis jurnal (pexels.com/Roberto Hund)

Salah satu penghambat terbesar saat menulis jurnal adalah keinginan agar tulisan terlihat rapi. Padahal, jurnal bukan arsip publik atau bahan bacaan orang lain. Coretan, pengulangan kata, dan perubahan gaya tulisan adalah hal wajar. Semua itu mencerminkan kondisi saat menulis.

Ketidakteraturan justru membuat jurnal lebih jujur. Tidak setiap hari punya energi dan suasana yang sama. Dengan menerima hal tersebut, menulis menjadi lebih santai. Jurnal tidak lagi soal hasil, melainkan soal kebiasaan mencatat. Dari situlah kebiasaan menulis bisa bertahan lebih lama.

Journaling tidak menuntut kemampuan khusus atau ide besar, karena keseharian sudah menyediakan cukup banyak bahan untuk dicatat. Selama menulis jurnal dilakukan dengan cara yang realistis dan tidak memberatkan, kebiasaan ini bisa tumbuh perlahan tanpa terasa dipaksakan. Jadi, halaman pertama mau diisi dengan cerita apa hari ini?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Naufal Al Rahman
EditorNaufal Al Rahman
Follow Us

Latest in Life

See More

5 Perbedaan Cara Pandang Finansial yang Perlu Dibahas sebelum Menikah

10 Jan 2026, 22:42 WIBLife