Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bercocok Tanam Bikin Overthinking? Ini 5 Sisi Gelap Plant Parenthood
ilustrasi menanam tanaman (pexels.com/Gustavo Fring)
  • Perubahan kecil seperti daun menguning dapat memicu overthinking, padahal kondisi tersebut tidak selalu menandakan masalah dan tanaman membutuhkan waktu merespons perawatan.
  • Kebiasaan mengecek tanaman berulang serta membandingkannya dengan unggahan media sosial berpotensi menambah kecemasan; jadwal perawatan reguler dapat membantu menjaga fokus.
  • Kematian tanaman dan dorongan memberi perawatan serba sempurna bisa memicu rasa bersalah atau obsesi, meski kebutuhan tiap tanaman dan kondisi pemiliknya berbeda.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Merawat tanaman adalah hobi yang menenangkan. Ada kepuasan tersendiri saat melihat tunas baru muncul, daun yang semula kecil perlahan membesar, atau tanaman yang akhirnya berbunga setelah dirawat selama berbulan-bulan. Tak sedikit pula yang kemudian menganggap tanaman di rumah seperti "anak" sendiri.

Fenomena inilah yang sering dikenal dengan plant parenthood atau plant parenting. Namun, menjadi plant parent ternyata gak selalu menyenangkan. Sebab jika gak berhati-hati, hobi yang awalnya untuk melepas penat ini justru bisa berubah menjadi sumber kecemasan. Berikut ini lima sisi gelap plant parenthood yang mungkin gak kamu sadari.

1. Daun menguning sedikit, pikiranmu langsung ke mana-mana

ilustrasi tanaman cabai (pexels.com/Yan Krukau)

Salah satu pemicu overthinking bagi plant parent adalah perubahan kecil pada tanaman. Daun menguning satu saja bisa langsung bikin kamu resah. Kamu langsung mikir apakah ini terlalu banyak air, kurang cahaya, kurang nutrisi, kena hama, atau jangan-jangan ada masalah pada akarnya?

Padahal, daun yang menguning gak selalu berarti tanaman dalam kondisi buruk. Hal ini normal dari siklus alami tanaman. Masalahnya, ketika kamu sudah terlalu fokus pada kondisi tanaman, perubahan kecil seperti ini bisa bikin panik. Padahal, tanaman membutuhkan waktu untuk menunjukkan respons terhadap perubahan perawatan. Jadi, gak semua masalah harus langsung diselesaikan dalam hitungan jam, ya!

2. Gelisah mengecek tanaman terus karena takut ada yang salah

ilustrasi berkebun (pexels.com/Gustavo Fring)

Punya tanaman di rumah memang bikin kamu lebih memperhatikan lingkungan sekitar. Namun, kebiasaan mengecek tanaman berkali-kali bisa berubah menjadi sumber kecemasan. Kamu jadi sering memperhatikan apakah permukaan tanah masih lembap, apakah ada bintik kecil di daun, atau apakah tanaman terlihat sedikit lebih layu.

Memeriksa tanaman sesekali tentu bukan masalah. Yang perlu diperhatikan adalah ketika pengecekan tersebut membuatmu sulit beraktivitas karena pikiran terus tertuju pada kondisi tanaman. Daripada terus mengecek, bikin jadwal perawatan reguler. Misalnya, cek kondisi tanah dan daun tiga kali dalam seminggu. Jadi, kamu gak perlu was-was setiap hari.

3. Suka membandingkan tanaman sendiri dengan milik orang lain

ilustrasi memegang tanaman (pexels.com/Sasha Kim)

Media sosial membuat aktivitas plant parenting semakin menarik. Kamu bisa menemukan berbagai koleksi tanaman yang rimbun, monstera dengan daun besar, tanaman berbunga cantik, dan sebagainya. Masalahnya, konten tersebut juga bisa memunculkan pikiran untuk terus membandingkan diri dengan orang lain.

Ketika tanamanmu tumbuh lebih lambat atau gak memiliki daun seindah yang kamu lihat di media sosial, kamu mulai merasa salah merawatnya. Padahal, kondisi setiap tanaman berbeda. Foto tanaman di media sosial juga pasti hanya menampilkan kondisi terbaik. Kamu tidak melihat daun yang pernah rusak, proses adaptasi setelah dipindahkan, atau berbagai kegagalan yang terjadi di baliknya.

4. Merasa bersalah setiap kali tanaman mati

ilustrasi berkebun di rumah (unsplash.com/markusspiske)

Ini mungkin menjadi bagian paling emosional dari plant parenthood. Setelah merawat tanaman selama begitu lama, kehilangan satu tanaman bisa sangat menyedihkan. Apalagi jika kamu merasa sudah memberikan perhatian terbaik. Masalahnya muncul ketika rasa kehilangan berubah menjadi menyalahkan diri sendiri secara berlebihan.

Padahal, gak semua tanaman bisa diselamatkan. Ada tanaman yang sudah memiliki masalah sejak dibeli, ada yang tidak cocok dengan kondisi lingkungan rumah, dan ada pula yang memang memiliki siklus hidup pendek. Kegagalan merawat satu tanaman bukan berarti kamu gak bakat merawat tanaman. Justru, itu bisa menjadi kesempatan untuk memahami kebutuhan jenis tanaman yang berbeda nantinya.

5. Hobi bisa berubah menjadi obsesi untuk selalu sempurna

ilustrasi berkebun (pexels.com/Greta Hoffman)

Ketika tanaman sudah dianggap sebagai "anak", muncul kecenderungan untuk memberikan perawatan terbaik. Kamu mulai membeli pupuk khusus, alat ukur kelembapan, pot baru, hingga berbagai produk perawatan lain. Semua itu sebenarnya boleh saja selama dilakukan karena memang sesuai kebutuhan tanaman. Namun, jangan berpikir itu semua harus dilakukan agar kamu dianggap plant parent yang baik.

Merawat tanaman tidak harus selalu rumit. Setiap tanaman memiliki kebutuhan berbeda dan tidak semuanya membutuhkan perawatan intensif. Kamu juga tidak harus memiliki puluhan tanaman agar bisa disebut plant parent. Satu atau dua tanaman yang dirawat dengan nyaman sudah cukup jika memang itu yang sesuai dengan waktu, ruang, dan kemampuanmu.

Plant parenthood memang bisa jadi hobi yang menyenangkan sekaligus memberikan kepuasan. Namun, aktivitas ini juga bisa menjadi sumber tekanan ketika kamu terlalu menuntut diri sendiri untuk selalu berhasil. Sebab, tanaman seharusnya menemani kehidupanmu, bukan menjadi alasan untuk terus overthinking.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article