Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
6 Hacks Berkebun Populer yang Justru Berdampak Buruk bagi Tanaman
ilustrasi menanam tanaman (pexels.com/garybarnes)
  • Banyak hacks berkebun viral di media sosial ternyata bisa merugikan tanaman karena tidak sesuai dengan kebutuhan nutrisi dan kondisi tumbuh masing-masing jenis tanaman.
  • Beberapa praktik seperti penggunaan kulit pisang, ampas kopi berlebihan, atau garam untuk hama justru dapat menghambat pertumbuhan dan merusak keseimbangan tanah.
  • Ahli menyarankan penyiraman pada waktu sejuk, penanaman sesuai kedalaman asal, serta penggunaan pupuk dan pestisida organik yang diformulasikan khusus agar tanaman tumbuh optimal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Media sosial dipenuhi berbagai hacks berkebun yang diklaim ampuh membuat tanaman lebih subur. Sayangnya, gak semua tips viral tersebut benar-benar aman diterapkan karena sebagian justru bisa menghambat pertumbuhan tanaman.

Kesalahan ini umumnya terjadi karena setiap tanaman memiliki kebutuhan yang berbeda. Daripada asal mengikuti tren, kenali beberapa hacks berkebun yang ternyata sebaiknya dihindari menurut para ahli. Yuk, langsung scroll!

1. Menjadikan kulit pisang sebagai pupuk utama

ilustrasi kulit pisang (pexels.com/shvetsproduction)

Kulit pisang memang mengandung kalium, tetapi bukan berarti bisa memenuhi seluruh kebutuhan nutrisi tanaman. Tanaman tetap memerlukan unsur hara lain, seperti nitrogen dan fosfor, agar dapat tumbuh optimal.

Selain itu, kulit pisang yang membusuk dapat mengundang lalat, tikus, hingga hama lainnya. Proses penguraiannya juga cukup lambat sehingga nutrisi tidak langsung tersedia bagi tanaman. Sebagai alternatif, gunakan kompos atau pupuk organik yang kandungan nutrisinya lebih seimbang.

"Tanaman mungkin tidak mendapatkan nutrisi yang cukup karena ketidakseimbangan ini. Berbeda dengan pupuk sintetis, bahan alami terurai secara perlahan sehingga unsur hara juga dilepaskan secara bertahap. Jika tanaman membutuhkan nutrisi dengan segera, proses ini justru dapat memperlambat pertumbuhannya," ujar Jane Dobbs, ahli berkebun sekaligus gardening team lead di Allan's Gardeners, dikutip dari Real Simple.

2. Menaburkan ampas kopi terlalu banyak

ilustrasi bubuk kopi (pexels.com/meruyertbissimbayeva)

Ampas kopi memang kaya nitrogen dan dapat membantu memperbaiki struktur tanah. Namun jika digunakan berlebihan, ampas kopi bisa membuat tanah menjadi terlalu asam sehingga tidak cocok bagi sebagian tanaman.

Lapisan ampas kopi yang terlalu tebal juga menghambat air dan udara masuk ke dalam tanah. Agar lebih aman, gunakan dalam jumlah sedikit atau campurkan ke dalam kompos sebelum diaplikasikan.

3. Menggunakan kulit telur atau garam untuk mengusir siput

ilustrasi kulit telur (pexels.com/klaus-nielsen)

Kulit telur sering dipercaya ampuh menghalau siput karena teksturnya tajam. Faktanya, siput tetap mampu melewati permukaan tersebut sehingga cara ini kurang efektif sebagai pengendali hama.

Sementara itu, garam memang dapat membunuh siput, tetapi juga merusak tanaman karena meningkatkan kadar natrium di dalam tanah. Sebagai gantinya, gunakan perangkap siput atau penghalang alami yang lebih aman.

"Siput dan bekicot mampu meluncur melewati benda-benda tajam, seperti pecahan kaca, pisau, bahkan silet. Jadi, seperti yang bisa dibayangkan, kulit telur sama sekali bukan ancaman bagi hama berlendir ini," ujar Nathan Heinrich, ahli hortikultura dan botanical designer, dikutip dari Real Simple.

4. Menyiram tanaman saat matahari sedang terik

ilustrasi menyiram tanaman (pexels.com/karolinagabrowska)

Menyiram tanaman pada siang hari sering dianggap dapat mengatasi tanaman yang kepanasan. Padahal, sebagian besar air justru akan cepat menguap sebelum sempat diserap akar.

Selain kurang efektif, penyiraman saat cuaca terik juga dapat membuat tanaman lebih mudah mengalami stres. Waktu terbaik menyiram adalah pagi atau sore hari ketika suhu udara lebih sejuk.

5. Menanam tanaman terlalu dalam

ilustrasi menanam (pexels.com/wildlittlethingsphoto)

Sebagian orang mengira menanam lebih dalam akan membuat tanaman tumbuh lebih kuat. Padahal, cara ini hanya cocok untuk jenis tertentu, seperti tomat.

Jika batang tertimbun terlalu dalam, aliran oksigen dan nutrisi dapat terganggu sehingga risiko pembusukan meningkat. Karena itu, tanam tanaman pada kedalaman yang sama seperti saat masih berada di dalam pot.

"Sebagian besar tanaman tidak akan tumbuh dengan baik jika ditanam lebih dalam dibandingkan posisi tanah saat masih berada di wadah atau pot asalnya," ujar Nathan Heinrich.

6. Membuat pestisida sendiri dari minyak esensial atau sabun cuci piring

ilustrasi proses menanam tanaman (pexels.com/cottonbro)

Pestisida rumahan berbahan minyak esensial atau sabun cuci piring sering dianggap lebih alami. Padahal, campuran tersebut bisa merusak jaringan daun jika digunakan dengan konsentrasi yang tidak tepat.

Sabun cuci piring juga dapat menghilangkan lapisan pelindung alami pada daun, sehingga tanaman lebih rentan terhadap kerusakan. Jika ingin mengendalikan hama, gunakan pestisida organik yang memang diformulasikan khusus untuk tanaman.

Dengan memahami fakta di balik berbagai hacks berkebun yang viral, kamu bisa merawat tanaman dengan cara yang lebih tepat. Jadi, jangan mudah tergoda mengikuti tren karena perawatan yang sesuai kebutuhan tanaman selalu memberikan hasil yang lebih baik.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article