"Tema KALA adalah eksplorasi waktu yang terus membentuk kehidupan manusia. Di balik ketidakpastian, selalu ada ruang untuk bertumbuh," ujar Toton, dalam Press Conference sebelum show TOTON 2027: KALA dimulai.
KALA: Wujud Waktu yang Menjahit Keberanian untuk Terus Bertumbuh

- KALA, koleksi terbaru TOTON di Mulia in Fashion 2026, menghadirkan refleksi tentang waktu dan keberanian manusia untuk terus bertumbuh di tengah perubahan yang tak terhindarkan.
- Melalui perpaduan busana tradisional seperti kebaya dan Baju Bodo dengan elemen modern, TOTON menampilkan dialog harmonis antara warisan budaya dan masa depan mode berkelanjutan.
- Warna lembut, material ramah lingkungan, serta instalasi ogoh-ogoh menjadi simbol harapan, pelepasan, dan penerimaan terhadap perubahan sebagai bagian alami dari perjalanan hidup.
Jakarta, IDN Times - Tak ada yang mampu menggenggam waktu. Sebab, ia mengalir seperti sungai yang tak pernah meminta izin sebelum mengubah tepian. Kadang tenang, kadang membawa arus yang deras, namun selalu meninggalkan jejak pada siapa pun yang dilaluinya. Kita tumbuh di dalamnya, kehilangan sesuatu di dalamnya, lalu menemukan versi diri yang baru di waktu yang sama.
Di tengah dunia yang bergerak lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk memahaminya, TOTON memilih menjadikan waktu sebagai ruang kontemplasi. Lewat koleksi KALA, rumah mode tersebut tidak sekadar memperlihatkan busana musim terbaru, melainkan mengundang publik merenungkan hubungan manusia dengan perubahan, sesuatu yang sering kali menakutkan, tetapi justru melahirkan harapan. Dipresentasikan dalam Mulia in Fashion 2026, Jumat (10/7/2026)di Hotel Mulia Senayan, Jakarta, KALA menjadi sebuah narasi tentang bagaimana identitas tidak pernah berhenti tumbuh, sebagaimana waktu yang tak pernah berhenti berjalan.
1. Waktu tidak pernah menjadi musuh, ia hanya mengajarkan cara bertahan

Ada masa ketika hidup terasa begitu mudah dipahami. Namun, ada pula masa ketika segala sesuatu berubah sebelum sempat kita menyesuaikan diri. Dunia bergerak terlalu cepat, batas-batas menjadi kabur, dan masa depan terasa seperti halaman yang belum selesai ditulis.
Kegelisahan itulah yang menjadi benih lahirnya KALA. TOTON memandang waktu bukan sebagai sesuatu yang harus dilawan, melainkan kekuatan yang membentuk manusia secara perlahan. Terinspirasi dari sosok Batara Kala dalam mitologi Jawa dan Bali, koleksi ini menghadirkan tafsir yang lebih dalam tentang perubahan. Batara Kala memang kerap dikaitkan dengan kehancuran, tetapi setiap akhir sesungguhnya selalu membuka kemungkinan bagi sebuah permulaan baru.
"Kita mengalami masa ketika perubahan terjadi begitu cepat dan tidak dapat dibaca arahnya. Itu membuat saya dan mungkin banyak orang di luar sana merasa resah," ungkap Toton.
Namun keresahan tidak pernah menjadi titik akhir. Seperti musim yang berganti tanpa gagal, waktu selalu membawa kesempatan untuk bertumbuh. KALA lahir sebagai pengingat bahwa manusia mungkin tidak dapat mengendalikan perubahan, tetapi selalu memiliki kemampuan untuk beradaptasi di dalamnya.
2. Tradisi dan masa depan berdialog dalam satu tubuh

Setiap budaya sesungguhnya adalah catatan waktu. Ia menyimpan perjalanan panjang yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Karena itu, ketika TOTON memilih kebaya, Baju Bodo, busana tradisional Bali, hingga praktik berkain sebagai fondasi koleksi ini, yang sedang dirayakan bukan hanya bentuknya, melainkan perjalanan panjang yang membuatnya tetap hidup hingga hari ini.
Di sisi lain, struktur safari suit dan busana militer hadir sebagai representasi disiplin, kesiapsiagaan, dan kontrol. Dua bahasa visual yang tampak saling bertolak belakang itu justru dipertemukan tanpa saling meniadakan.
Lembut bertemu tegas. Transparansi berdampingan dengan proteksi. Tradisi berjalan sejajar dengan modernitas. Di tangan TOTON, keduanya tidak saling berebut ruang, melainkan saling melengkapi seperti dua musim yang bergantian menjaga keseimbangan bumi.
Melalui 48 tampilan look yang tersaji, KALA memperlihatkan bahwa identitas budaya bukan benda mati yang disimpan di balik kaca museum. Tetapi, ia adalah organisme hidup yang terus berevolusi tanpa harus kehilangan akarnya.
3. Warna-warna yang mengingatkan bahwa harapan selalu tumbuh

Koleksi ini tidak dibangun dengan warna-warna yang berteriak. Sebaliknya, TOTON memilih palet yang berbicara pelan, tetapi meninggalkan gema yang panjang.
Krem, putih gading, abu-abu, hitam, emas, merah muda lembut, hingga spektrum warna tanah membentuk lanskap yang tenang. Di antara semuanya, biru bunga telang hadir seperti langit setelah hujan, sebuah simbol ketahanan, regenerasi, sekaligus kekuatan feminin yang tidak selalu harus tampil keras untuk didengar.
Setiap warna terasa seperti lapisan emosi yang dimiliki manusia ketika menghadapi perubahan. Ada ketakutan, ada keberanian, ada kehilangan, tetapi juga ada harapan yang tumbuh perlahan. Persis seperti waktu yang tidak pernah meminta manusia menjadi sempurna, melainkan hanya terus berjalan.
Material seperti katun, organza, lace, tulle, satin, hingga denim dipadukan melalui manipulasi tekstil dan pengerjaan tangan yang menjadi identitas TOTON. Komitmen terhadap keberlanjutan pun tetap dijaga melalui eksplorasi material daur ulang serta kolaborasi bersama Asia Pacific Rayon (APR), membuktikan bahwa masa depan mode juga harus memberi ruang bagi masa depan bumi.
4. Ogoh-ogoh, simbol yang mengartikan bahwa melepaskan adalah bagian dari bertumbuh

Di tengah ruang presentasi KALA, berdiri sebuah instalasi ogoh-ogoh karya seniman asal Bali. Kehadirannya bukan sekadar elemen artistik yang memperkaya panggung, melainkan metafora yang memperdalam makna koleksi.
Dalam tradisi Bali, ogoh-ogoh bukan hanya representasi kekuatan negatif yang kemudian dilepaskan. Ia juga menjadi simbol keberanian manusia menghadapi ketakutan sebelum memulai lembaran baru. Ada proses melepaskan, membersihkan, sekaligus menerima bahwa kehidupan selalu bergerak menuju bab berikutnya.
Makna itu terasa begitu selaras dengan filosofi KALA. Sebab, bertumbuh tidak selalu berarti menambah sesuatu. Terkadang, ia justru dimulai dari keberanian meninggalkan beban lama yang selama ini menghalangi langkah.
Di tengah ketidakpastian dunia, instalasi tersebut menjadi pengingat yang sunyi bahwa setiap perubahan memang menuntut keberanian. Namun di balik setiap akhir, selalu ada ruang bagi kehidupan untuk kembali menemukan bentuknya.
5. Mode yang mengajak manusia berdamai dengan waktu

KALA bukan koleksi yang mengejar tren sesaat. Ia lebih menyerupai sebuah surat untuk siapa saja yang pernah merasa tertinggal oleh perubahan zaman.
Melalui setiap potongan busana, TOTON mengajak publik melihat bahwa identitas tidak pernah selesai dibentuk. Ia terus berubah mengikuti perjalanan hidup, dipengaruhi oleh pengalaman, lingkungan, dan waktu itu sendiri. Karena itulah budaya Indonesia tetap hidup, bukan karena menolak perubahan, melainkan karena selalu mampu beradaptasi tanpa kehilangan jiwanya.
"Di balik ketidakpastian, selalu ada ruang untuk bertumbuh," menjadi kalimat yang terus bergema sepanjang koleksi ini.
Di saat dunia menawarkan begitu banyak alasan untuk merasa cemas, KALA justru mengajak manusia mempercayai satu hal yang sederhana, yakni waktu mungkin tidak pernah berpihak kepada siapa pun, tetapi selalu memberi kesempatan bagi mereka yang bersedia terus berjalan.
Pada akhirnya, waktu bukanlah lawan yang harus dikalahkan. Ia adalah penenun yang sabar, menyusun pengalaman demi pengalaman hingga membentuk siapa diri kita hari ini.
Melalui KALA, TOTON tidak hanya menghadirkan busana yang indah dipandang, tetapi juga ruang untuk berhenti sejenak di tengah riuh dunia. Sebuah ruang untuk menerima bahwa hidup memang tidak selalu dapat diprediksi, namun justru di sanalah manusia menemukan kekuatannya.
Seperti ogoh-ogoh yang mengajarkan keberanian untuk melepaskan, seperti kebaya yang terus berevolusi tanpa kehilangan jati dirinya, dan seperti waktu yang tak pernah berhenti mengalir, KALA mengingatkan bahwa perubahan bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti. Sebab, setiap detik yang berlalu selalu membawa kemungkinan baru dan dan setiap kemungkinan selalu menyimpan harapan untuk tumbuh menjadi versi diri yang lebih utuh.




















