Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
7 Tips agar Tak Menyerah saat Pertama Kali Belajar Merajut
still cut drama Korea The Divorce Insurance (instagram.com/tvn_drama)

  • Latih posisi tangan dan tarikan benang secara konsisten untuk hasil rajutan yang rapi

  • Istirahat saat lelah dan buat jadwal latihan singkat agar proses belajar lebih menyenangkan

  • Gunakan benang berwarna terang atau penanda tusuk untuk memudahkan melihat detail rajutan

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Belajar merajut untuk pertama kalinya sering kali terasa lebih menantang daripada yang dibayangkan. Saat melihat hasil rajutan orang lain di media sosial, semuanya tampak mudah dan rapi. Namun, ketika mencoba sendiri, benang bisa kusut, tusukan tidak konsisten, dan pola terasa membingungkan. Di titik inilah banyak pemula mulai merasa ragu pada kemampuannya sendiri.

Padahal, merajut adalah keterampilan yang sangat bisa dipelajari oleh siapa saja, asalkan mau sabar dan konsisten. Tenang, ada sederet tips agar dirimu tak menyerah saat pertama kali belajar merajut, kok. Semangatmu dijamin tetap menyala hingga mahir!

1. Latih posisi tangan dan tarikan benang secara konsisten

ilustrasi perempuan merajut (pexels.com/Miriam Alonso)

Hal paling mendasar dalam merajut adalah mengatur ketegangan benang. Banyak pemula belum terbiasa mengontrol tarikan, sehingga hasil rajutan bisa terlalu kencang atau terlalu longgar. Jika terlalu kencang, hakpen akan sulit masuk ke tusukan berikutnya. Sebaliknya, jika terlalu longgar, rajutan tampak renggang dan kurang rapi.

Luangkan waktu khusus hanya untuk berlatih memegang hakpen dan mengatur alur benang di jari. Tidak perlu langsung membuat proyek tertentu. Fokuslah pada kenyamanan posisi tangan dan kestabilan tarikan. Seiring waktu, otot tangan akan terbiasa dan kamu akan menemukan ritme yang pas.

2. Istirahat saat lelah dan buat jadwal latihan singkat

ilustrasi perempuan merajut (pexels.com/Miriam Alonso)

Merajut membutuhkan koordinasi mata dan tangan yang cukup intens. Jika dilakukan terlalu lama tanpa jeda, tangan bisa pegal dan pikiran terasa jenuh. Ketika mulai frustrasi karena salah hitung atau tusukan terlewat, berhentilah sejenak. Tarik napas, minum air, atau lakukan peregangan ringan.

Selain itu, cobalah membuat jadwal latihan singkat tetapi rutin, misalnya 10 sampai 15 menit setiap hari. Konsistensi kecil seperti ini jauh lebih efektif daripada berlatih lama dalam satu hari lalu berhenti berhari-hari. Dengan rutinitas yang ringan, kamu akan merasa proses belajar lebih menyenangkan dan tidak membebani.

3. Gunakan benang berwarna terang atau penanda tusuk

ilustrasi alat rajut (pexels.com/Surene Palvie)

Kesulitan melihat tusukan adalah masalah umum bagi pemula. Benang berwarna gelap atau berbulu sering membuat detail rajutan sulit terlihat. Untuk tahap awal, pilihlah benang berwarna terang dan teksturnya halus agar struktur tusukan jelas terbaca.

Kamu juga bisa menggunakan stitch marker atau penanda tusuk untuk membantu menandai awal dan akhir baris. Penanda ini sangat berguna saat menghitung jumlah tusukan agar tidak kurang atau lebih. Langkah sederhana ini dapat mengurangi kesalahan yang sering memicu rasa ingin menyerah.

4. Sesuaikan ukuran benang dan hakpen

ilustrasi merajut (pexels.com/Anete Lusina)

Peralatan yang tepat akan sangat memengaruhi pengalaman belajar. Setiap jenis benang memiliki rekomendasi ukuran hakpen tertentu. Jika menggunakan hakpen yang terlalu kecil untuk benang tebal, rajutan akan terasa kaku dan sulit dikerjakan. Sebaliknya, hakpen yang terlalu besar membuat rajutan longgar dan kurang stabil.

Bacalah label pada benang untuk mengetahui ukuran hakpen yang dianjurkan. Dengan kombinasi alat yang sesuai, proses merajut akan terasa lebih ringan dan hasilnya pun lebih rapi.

5. Kuasai pola dasar terlebih dahulu

ilustrasi rajutan beruang (pexels.com/Anete Lusina)

Sebelum berambisi membuat tas, boneka, atau pakaian, penting untuk memahami teknik dasar. Pelajari cara membuat simpul awal, rantai atau chain (ch), single crochet (sc), half double crochet (hdc), dan pola-pola dasar lainnya. Teknik-teknik ini adalah fondasi dari hampir semua pola rajutan.

Jika dasar sudah kuat, kamu akan lebih mudah mengikuti pola yang lebih kompleks. Jangan terburu-buru naik level sebelum benar-benar memahami langkah-langkah dasarnya. Ibarat membangun rumah, fondasi yang kokoh akan menentukan kekuatan keseluruhan hasil akhirnya.

6. Jangan terobsesi membuat karya besar terlalu cepat

ilustrasi boneka rajutan (pexels.com/Viridiana Rivera)

Rasa ingin segera menghasilkan karya yang indah adalah hal yang wajar. Namun, terlalu memaksakan diri membuat proyek besar tanpa kesiapan justru bisa membuat frustrasi. Saat rajutan terasa tidak sesuai harapan, motivasi pun menurun.

Alih-alih mengejar hasil sempurna, fokuslah pada proses belajar. Nikmati setiap baris yang kamu buat, sekalipun belum rapi. Dengan pola pikir seperti ini, kamu akan lebih tahan menghadapi kesalahan kecil yang muncul di tengah jalan.

7. Mulai dari proyek sederhana

ilustrasi hasil rajutan (pexels.com/Markus Spiske)

Setelah memahami pola dasar, cobalah proyek kecil seperti pita, tatakan gelas, atau boneka kecil sederhana. Proyek kecil memberikan rasa pencapaian yang lebih cepat, sehingga meningkatkan rasa percaya diri. Ketika melihat hasil pertamamu selesai, sekecil apa pun itu, kamu akan merasakan kepuasan tersendiri. Dari sinilah semangat untuk mencoba proyek yang lebih menantang biasanya tumbuh secara alami.

Belajar merajut bukan tentang seberapa cepat kamu menghasilkan karya, melainkan tentang menikmati prosesnya. Jangan bandingkan dirimu dengan perajut yang sudah berpengalaman. Fokuslah pada perkembanganmu sendiri, sedikit demi sedikit setiap hari. Dengan kesabaran dan latihan yang konsisten, kamu akan menyadari bahwa merajut bukan lagi aktivitas yang membuat frustrasi, melainkan kegiatan yang menenangkan. Jadi, ketika kamu merasa ingin mandek, tujuh tips agar tak menyerah saat pertama kali belajar merajut bisa kamu terapkan. Selain itu, ingatlah bahwa setiap ahli pun pernah menjadi pemula yang berjuang di awal langkahnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team