Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Tes "Lazy Laundry", Cara Cek Baju yang Sebenarnya Gak Pernah Dipakai

5 min read
Tes "Lazy Laundry", Cara Cek Baju yang Sebenarnya Gak Pernah Dipakai
ilustrasi lemari pakaian berantakan (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Pernah merasa lemari pakaian sudah penuh, tetapi setiap pagi masih bingung menentukan baju yang akan dipakai? Ada kemeja yang dibeli karena sedang tren, celana yang awalnya terasa cocok, hingga kaus yang menumpuk di sudut lemari tanpa pernah tersentuh. Tanpa disadari, kita sering membeli pakaian baru bukan karena benar-benar membutuhkannya, melainkan karena tergoda diskon, mengikuti tren, atau sekadar ingin mencoba gaya berbeda.

Akibatnya, lemari semakin sesak, sementara pakaian yang dipakai sehari-hari justru itu-itu saja. Kalau kamu mengalami hal serupa, coba lakukan tes lazy laundry untuk mengetahui pakaian mana yang sebenarnya jarang atau bahkan tidak pernah kamu gunakan.

  1. 1. Mulai tes lazy laundry dengan membalik posisi gantungan

    ilustrasi lemari pakaian (unsplash.com/Immo Wegmann)
    ilustrasi lemari pakaian (unsplash.com/Immo Wegmann)

    Pernah merasa lemari penuh, tetapi setiap pagi tetap mengeluh tidak punya baju untuk dipakai? Kamu mungkin punya banyak pakaian, tetapi hanya beberapa potong yang selalu menjadi andalan. Di sinilah tes lazy laundry bisa membantu: bukan dengan langsung membuang baju, melainkan dengan mengamati pakaian mana yang benar-benar kamu gunakan.

    Cara memulainya cukup sederhana. Balik posisi gantungan semua pakaian di lemari sehingga kaitnya menghadap ke arah yang berbeda dari biasanya. Setiap kali memakai dan mencuci suatu pakaian, kembalikan ke lemari dengan posisi gantungan normal.

    Setelah satu hingga tiga bulan, kamu bisa melihat pakaian mana yang sudah digunakan dan mana yang masih berada di posisi awal. Untuk pakaian yang disimpan di laci, kamu bisa membuat daftar kecil atau menempelkan label tanggal saat pakaian digunakan.

    "Analisis kualitatif mengungkapkan bahwa motivasi untuk melakukan memilah pakaian (decluttering) mencakup upaya mengurangi kepemilikan pakaian yang berlebihan, menciptakan ruang, dan memperoleh kelegaan emosional. Para partisipan memperoleh wawasan mengenai nilai pakaian mereka, alasan di balik kepemilikan pakaian tersebut, serta kebiasaan konsumsi mereka, yang pada akhirnya membantu mereka menetapkan tujuan konsumsi di masa depan," dikutip dari studi Unraveling the closet: Exploring reflective decluttering and its implications for long-term sufficient clothing consumption dalam ScienceDirect.

  2. 2. Beri waktu 30 hari untuk 'membuktikan' baju favoritmu

    ilustrasi lemari pakaian (freepik.com/freepik)
    ilustrasi lemari pakaian (freepik.com/freepik)

    Setelah mengatur posisi gantungan, jangan buru-buru menilai pakaian yang belum tersentuh sebagai barang tidak berguna. Bisa jadi kamu sedang lebih sering bekerja dari rumah, jarang menghadiri acara formal, atau memang sedang menyukai gaya berpakaian yang lebih sederhana.

    Karena itu, tes lazy laundry sebaiknya dilakukan selama periode yang cukup untuk menggambarkan rutinitasmu, bukan hanya berdasarkan pakaian yang dipakai dalam beberapa hari. Selama 30 hari, catat pakaian yang benar-benar kamu kenakan. Kamu tidak harus membuat tabel rumit; cukup gunakan catatan di ponsel dengan kategori seperti atasan, bawahan, pakaian kerja, dan pakaian santai.

    Di akhir periode, perhatikan pakaian mana yang berulang kali dipakai dan mana yang sama sekali tidak tersentuh. Jika kamu sedang menjalani rutinitas yang tidak biasa, misalnya liburan panjang atau bekerja dari rumah sementara, pertimbangkan untuk memperpanjang masa pengamatan.

  3. 3. Periksa baju yang tak pernah dipakai dan masalahnya apa?

    ilustrasi memilah pakaian yang dibutuhkan (unsplash.com/Sarah Brown)
    ilustrasi memilah pakaian yang dibutuhkan (unsplash.com/Sarah Brown)

    Setelah satu bulan, mungkin kamu menemukan beberapa pakaian yang sama sekali tidak pernah dipakai. Ada kemeja yang dibeli karena sedang tren, celana yang ternyata tidak nyaman saat duduk, atau gaun yang dibeli untuk acara khusus tetapi akhirnya tidak pernah digunakan.

    Sebelum memutuskan nasibnya, coba cari tahu alasan di balik setiap pakaian yang hanya memenuhi ruang lemari. Buat tiga kelompok sederhana: pakaian yang masih disukai tetapi jarang mendapat kesempatan, pakaian yang perlu diperbaiki atau disesuaikan, dan pakaian yang sudah tidak cocok dengan kebutuhanmu.

    Jika masalahnya hanya kancing lepas, jahitan terbuka, atau panjang celana yang kurang pas, kamu mungkin bisa memperbaikinya. Namun, jika pakaian selalu membuatmu tidak nyaman atau sulit dipadukan dengan barang lain, mungkin sudah waktunya mempertimbangkan pilihan berbeda.

    "Berbenah adalah tentang apa yang ingin kamu pertahankan dalam hidup kamu, bukan apa yang ingin kamu singkirkan," gagasan Marie Kondo, konsultan kerapian dan penulis metode KonMari, yang cocok diterapkan saat memilah pakaian.

    Tujuan utamanya bukan membuang sebanyak mungkin, tetapi memilih barang yang memang ingin dan perlu kamu gunakan. Jadi, baju yang jarang dipakai tidak otomatis harus disingkirkan jika masih memiliki fungsi yang jelas.

  4. 4. Jangan tertipu baju yang disimpan untuk “nanti”

    ilustrasi memilah pakaian yang terpakai dan tidak terpakai (pexels.com/RDNE Stock project)
    ilustrasi memilah pakaian yang terpakai dan tidak terpakai (pexels.com/RDNE Stock project)

    Ada jenis pakaian yang sering lolos dari proses beres-beres, yaitu baju yang disimpan untuk suatu hari nanti. Misalnya, celana yang akan dipakai setelah berat badan berubah, kemeja yang menunggu acara tertentu, atau pakaian yang dibeli karena berharap suatu saat punya gaya hidup berbeda. Tanpa disadari, lemari pun dipenuhi berbagai 'kemungkinan' yang belum tentu terjadi.

    Coba ambil setiap pakaian dalam kategori ini dan tanyakan tiga hal: apakah masih nyaman dipakai sekarang, apakah ada kesempatan realistis untuk memakainya, dan apakah kamu benar-benar menyukainya? Jika kamu masih ingin menyimpannya, tentukan alasan yang konkret.

    Misalnya, gaun untuk acara resmi boleh tetap berada di lemari jika memang masih sesuai ukuran dan kamu punya kebutuhan untuk memakainya. Sebaliknya, pakaian yang hanya menyimpan harapan tanpa rencana jelas, tidak ada salahnya untuk kamu evaluasi kembali.

  5. 5. Tentukan nasib pakaian dan cegah lemari penuh kembali

    ilustrasi lemari pakaian yang berantakan (pexels.com/Ketut Subiyanto)
    ilustrasi lemari pakaian yang berantakan (pexels.com/Ketut Subiyanto)

    Setelah tes selesai, saatnya membuat keputusan. Pakaian yang sering digunakan bisa ditempatkan di area paling mudah dijangkau. Pakaian yang masih bagus tetapi jarang dipakai dapat disimpan untuk kebutuhan khusus, sementara pakaian yang tidak lagi sesuai bisa dijual kembali, diberikan kepada orang yang membutuhkan, atau disalurkan melalui program pengumpulan tekstil yang menerima kondisinya.

    Jika pakaian rusak, pertimbangkan apakah masih bisa diperbaiki atau dimanfaatkan kembali sebelum dibuang. Agar hasil tes ini bertahan lama, biasakan menunda pembelian pakaian yang tidak direncanakan. Sebelum membeli, pikirkan apakah barang tersebut bisa dipadukan dengan pakaian yang sudah dimiliki dan apakah kamu benar-benar akan menggunakannya.

    Kamu juga bisa mengulang tes gantungan setiap pergantian musim atau beberapa bulan sekali. Dengan begitu, lemari tidak hanya terlihat rapi, tetapi juga berisi pakaian yang lebih sesuai dengan rutinitas, gaya, dan kebutuhan sehari-hari.

    Tes lazy laundry bukan tentang memiliki pakaian sesedikit mungkin, tetapi tentang memahami apa yang benar-benar kamu butuhkan. Pakaian yang jarang dipakai bisa jadi masih berguna untuk acara tertentu, perlu diperbaiki, atau memang sudah tidak sesuai dengan gaya hidupmu sekarang. Setelah mengetahui alasannya, kamu bisa menentukan apakah akan menyimpannya, menjualnya, menyumbangkannya, atau mengolahnya kembali.

Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More