Sedotan Stainless, Gaya Hidup Ramah Lingkungan atau Cuma Gimik?

- Laut berperan penting bagi kehidupan dan iklim Bumi, namun tercemar oleh jutaan ton sampah plastik setiap tahun, termasuk sedotan plastik yang sulit terurai.
- Sampah sedotan plastik menimbulkan bahaya besar bagi ekosistem laut karena berubah menjadi mikroplastik yang bisa masuk ke rantai makanan hingga tubuh manusia.
- Tren penggunaan sedotan stainless muncul sebagai simbol gaya hidup ramah lingkungan, tapi sering jadi gimik jika tidak disertai konsistensi dan praktik nyata mengurangi limbah.
Tanggal 8 Juni diperingati sebagai Hari Laut Sedunia atau World Oceans Day. Laut punya peran penting lho bagi Bumi dan kehidupan manusia. Keberadaan laut membuat iklim Bumi dapat terkontrol karena laut menyerap sebagian besar panas di planet ini. Selain itu, laut juga merupakan sumber makanan, energi, serta obat-obatan.
Nah, mengingat perannya yang amat penting itu, wajar kalau kampanye terkait penyelamatan laut terus digalakkan di berbagai belahan dunia. Salah satu gerakan yang populer beberapa tahun terakhir ini adalah ajakan untuk mengurangi dan berhenti menggunakan sedotan plastik sekali pakai. Gerakan ini menjadi tren di kalangan anak muda dan banyak dipakai di sejumlah kedai kopi atau restoran. Lantas, apakah tren ini merupakan gaya hidup yang keren atau sekadar gimik?
1. Sedotan plastik adalah salah satu sampah laut

Sedotan plastik itu berukuran kecil dan gak bernilai ekonomis yang membuatnya jarang dilihat oleh pemulung di darat. Akibatnya, sampah ini mudah tertiup angin hingga berakhir di samudra. Dilansir laman Forest Digest, 80 persen sampah laut di Indonesia itu berasal dari daratan dan 30 persen lainnya dikategorikan sebagai sampah plastik. Setiap tahunnya, ada 1,29 juta ton sampah plastik yang memasuki perairan Indonesia dan berkontribusi terhadap penumpukan sampah lokal.
Data dari Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN PSL) menyebutkan bahwa tercatat ada sekitar 398.000 ton sampah plastik yang bocor ke laut pada tahun 2022. Di tahun 2019, kebocoran sampah plastik tahunan ke laut Indonesia diperkirakan mencapai 0,27 hingga 0,59 juta ton.
2. Bahaya limbah sedotan plastik di laut

Sebagaimana kita ketahui, limbah plastik itu gak mudah hancur. Diperlukan waktu hingga ratusan tahun agar plastik bisa terurai, itu pun hanya terpecah menjadi partikel-partikel kecil yang disebut mikroplastik. Di laut, limbah ini amat berbahaya. Ia bisa mencemari laut, merusak terumbu karang, hingga tertelan oleh biota laut yang mengiranya sebagai makanan. Nah, saat mikroplastik ini masuk ke dalam perut biota laut seperti halnya ikan, dampak negatifnya gak berhenti sampai di sana. Lewat rantai makanan, zat kimia yang terkandung dalam plastik bisa saja masuk ke tubuh manusia yang mengonsumsi makanan laut.
Pernah melihat video tentang seekor penyu yang hidungnya tersumbat plastik? Pun video seekor anjing laut yang bagian tubuhnya terlilit sampah plastik? Tragedi-tragedi itu hanyalah bagian kecil dari ancaman nyata yang mengintai ekosistem laut di bumi. Dilansir laman Forest Digest, mikroplastik bahkan telah mencapai atmosfer bumi.
3. Antara gaya hidup keren dan gimik

Tren mengurangi sedotan plastik dan menggantinya dengan sedotan stainless steel terus digalakkan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Langkah ini jelas terlihat keren karena mencerminkan kepedulian manusia terhadap kelestarian lingkungan. Namun, kalau kita mengkritisi lebih dalam, tren ini juga kerap dilakukan sebagai fesyen semata. Gak sedikit orang membeli sedotan stainless steel lengkap dengan alat pembersihnya, tetapi hanya sebagai pajangan di media sosial dan jarang sekali digunakan.
Selain dari sisi individu, gimik ini juga kerap diterapkan oleh pelaku industri seperti di kafe, kedai kopi, atau restoran. Dalam praktik greenwashing, banyak pelaku industri mengampanyekan gerakan no straw dan mengganti penggunaan sedotan plastik dengan sedotan kertas atau stainless, tetapi mereka tetap menyajikan minuman menggunakan gelas plastik sekali pakai lengkap dengan tutupnya. Dari kedua kasus itu, alih-alih mengurangi limbah, produksi massal sedotan stainless steel yang minim pemanfaatan dan cuma gimik justru bisa menciptakan jejak karbon baru yang lebih besar dan merusak bumi.
Lantas, apakah tren mengurangi sedotan plastik ini merupakan gaya hidup keren atau sekadar gimik? Jawabannya bergantung pada konsistensi penggunanya. Tren ini menjadi keren dan berdampak nyata jika dijalankan secara konsisten dan sebagai bagian dari perilaku peduli lingkungan. Langkah kecil ini bisa jadi awal yang baik kok untuk melestarikan bumi. Yuk, jaga bumi dan laut kita! Selamat Hari Laut Sedunia, ya!














![[QUIZ] Dari Kebiasaan Bangun Tidur, Seberapa Avoidant Kamu?](https://image.idntimes.com/post/20250828/upload_fb7e24d7e2b2caaaeb6156fc2a4a95af_e800b219-44e3-4a4d-8702-6ef23a8efbfc.jpg)



