3 Fakta Menarik tentang Hangeul, Aksara Korea yang Punya Sistem Unik

- Raja Sejong menciptakan Hangeul agar masyarakat Korea lebih mudah membaca dan menulis, setelah Hanja yang rumit lebih dikuasai kalangan bangsawan dan elite.
- Hangeul selesai pada 1443 dan dipublikasikan pada 1446 melalui Hunminjeongeum; kini memiliki 24 jamo dasar, setelah empat dari 28 huruf awal tak lagi digunakan.
- Bentuk konsonan Hangeul mengikuti posisi organ bicara, sementara vokalnya melambangkan Langit, Bumi, dan Manusia; penciptaannya diperingati setiap 9 Oktober sebagai Hangeul Day.
Buat kamu yang sedang belajar bahasa Korea, Hangeul mungkin terlihat seperti kumpulan huruf yang harus dihafalkan. Padahal, di balik bentuknya yang sederhana, Hangeul memiliki sejarah dan sistem yang sangat menarik. Staf King Sejong Institute Jakarta (KSIJ), Nabilah, membagikan sejumlah fakta tentang Hangeul dalam Festival Budaya Korea: Hangeul Day & Chuseok di Hall KW, Unika Atma Jaya Kampus Semanggi, Jakarta, Minggu (11/10/2026).
Tak hanya memiliki sistem yang terstruktur, Hangeul juga lahir dari gagasan untuk membuat masyarakat lebih mudah membaca dan menulis. Berikut tiga fakta menarik tentang Hangeul. Simak, ya!
1. Hangeul dibuat agar masyarakat lebih mudah membaca dan menulis

ilustrasi aksara Hangeul (Pexels.com/정규송 Nui MALAMA) Sebelum Hangeul digunakan, masyarakat Korea menulis menggunakan Hanja, yakni aksara China klasik. Sistem penulisan tersebut cukup rumit sehingga kemampuan membaca dan menulis lebih banyak dikuasai oleh kaum bangsawan dan elite kerajaan. Kondisi tersebut mendorong Raja Agung Sejong dari Dinasti Joseon menciptakan sistem aksara yang lebih mudah dipelajari masyarakat.
Hangeul selesai dibuat pada 1443 dan resmi dipublikasikan pada 1446 melalui dokumen Hunminjeongeum, yang berarti "Bunyi yang Benar untuk Mengajari Rakyat". Saat ini, Hangeul modern memiliki 24 huruf dasar atau jamo, terdiri dari 14 konsonan dan 10 vokal. Menariknya, ketika pertama kali dibuat, Hangeul memiliki 28 huruf, yakni 17 konsonan dan 11 vokal. Empat huruf kemudian tidak lagi digunakan seiring perkembangan zaman.
2. Bentuk huruf Hangeul ternyata punya logika tersendiri

ilustrasi aksara Hangeul (Pexels.com/Huu Huynh) Hangeul bukan sekadar simbol yang dibuat secara acak. Bentuk hurufnya dirancang berdasarkan prinsip yang sistematis. Menurut Nabilah, bentuk huruf konsonan berkaitan dengan posisi organ tubuh ketika menghasilkan bunyi, seperti lidah, mulut, dan tenggorokan.
Sementara itu, huruf vokal dibuat berdasarkan filosofi tiga unsur alam, yaitu Langit, Bumi, dan Manusia. Langit digambarkan melalui titik, Bumi melalui garis horizontal, sedangkan Manusia melalui garis vertikal. Jadi, ketika belajar Hangeul, kita sebenarnya tidak hanya menghafalkan bentuk huruf. Ada alasan dan konsep yang mendasari pembentukannya. Hal ini pula yang membuat Hangeul dikenal sebagai sistem aksara yang terstruktur dan logis.
3. Hangeul punya hari perayaan sendiri setiap 9 Oktober

ilustrasi aksara Hangeul (Pexels.com/Jon Discipulo) Hangeul memiliki keistimewaan lain karena sejarah penciptaannya terdokumentasi dengan jelas. Kita mengetahui siapa penciptanya, kapan Hangeul dibuat, serta tujuan awal pembentukannya. Dokumen Hunminjeongeum menjadi salah satu catatan penting dalam sejarah Hangeul.
Untuk memperingati penciptaan dan penyebaran aksara tersebut, 9 Oktober diperingati sebagai Hangeul Day atau Hari Hangeul di Korea. Hangeul bukan hanya sekumpulan huruf yang digunakan untuk membaca dan menulis, tetapi juga bagian dari sejarah, filosofi, dan perkembangan masyarakat Korea. Dari bentuk konsonan yang terinspirasi dari organ bicara hingga vokal yang merepresentasikan Langit, Bumi, dan Manusia, Hangeul menunjukkan bagaimana sebuah sistem tulisan dapat memadukan bahasa, logika, filosofi, dan gagasan tentang akses literasi.






















