Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi mahasiswa
ilustrasi mahasiswa (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Menjadi mahasiswa sering kali terlihat menyenangkan dari luar, tetapi realitanya tidak selalu semudah itu. Tugas menumpuk, tuntutan nilai, organisasi, hingga ekspektasi keluarga bisa menjadi tekanan yang perlahan menguras energi mental. Jika tidak disadari sejak awal, kondisi ini dapat berdampak pada kesehatan mental secara serius.

Kesehatan mental mahasiswa sama pentingnya dengan prestasi akademik yang ingin diraih. Pikiran yang lelah dan emosi yang tidak stabil justru membuat proses belajar menjadi tidak optimal. Oleh karena itu, mahasiswa perlu memahami langkah-langkah efektif untuk menjaga kesehatan mental agar tetap seimbang dan produktif.

1. Mengatur waktu dengan lebih realistis

ilustrasi menulis catatan (pexels.com/Helena Lopes)

Manajemen waktu yang buruk sering menjadi sumber utama stres bagi mahasiswa. Terlalu banyak aktivitas tanpa perencanaan yang matang membuat tubuh dan pikiran bekerja di luar batas wajar. Dengan menyusun jadwal yang realistis, mahasiswa dapat mengurangi tekanan dan lebih fokus pada prioritas utama.

Mengatur waktu bukan berarti harus produktif sepanjang hari. Memberi ruang untuk istirahat dan jeda justru membantu menjaga kestabilan emosi. Kebiasaan ini akan melatih mahasiswa untuk lebih mengenal kapasitas diri dan tidak memaksakan keadaan.

2. Menjaga pola tidur dan istirahat

ilustrasi bangun tidur (pexels.com/Eren Li)

Kurang tidur sering dianggap hal biasa di kalangan mahasiswa. Padahal, pola tidur yang tidak teratur sangat berpengaruh pada suasana hati dan kemampuan berpikir. Tubuh yang kelelahan membuat seseorang lebih mudah cemas dan kehilangan motivasi.

Tidur yang cukup membantu otak memproses informasi dengan lebih baik. Selain itu, kualitas istirahat yang terjaga dapat meningkatkan konsentrasi dan daya tahan mental. Mahasiswa perlu mulai melihat tidur sebagai kebutuhan, bukan pengorbanan.

3. Berani membatasi diri dari tekanan sosial

ilustrasi tekanan sosial (pexels.com/Antoni Shkraba)

Tekanan tidak hanya datang dari tugas kuliah, tetapi juga dari lingkungan sosial. Membandingkan diri dengan pencapaian orang lain di media sosial dapat memicu rasa tidak aman dan overthinking. Kondisi ini perlahan mengganggu kesehatan mental jika dibiarkan terus-menerus.

Mahasiswa perlu belajar menetapkan batasan yang sehat. Tidak semua hal harus diikuti dan tidak semua tuntutan harus dipenuhi. Dengan fokus pada perjalanan diri sendiri, beban mental akan terasa lebih ringan.

4. Meluangkan waktu untuk aktivitas yang disukai

ilustrasi bermain gitar (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Kesibukan akademik sering membuat mahasiswa lupa pada hal-hal yang memberi kebahagiaan. Padahal, melakukan aktivitas yang disukai dapat menjadi sarana pelepasan stres yang efektif. Kegiatan sederhana seperti menulis, berolahraga, atau mendengarkan musik mampu memperbaiki suasana hati.

Waktu untuk diri sendiri bukan bentuk kemalasan. Justru, ini adalah cara untuk mengisi ulang energi mental. Mahasiswa yang rutin melakukan aktivitas menyenangkan cenderung lebih stabil secara emosional.

5. Tidak ragu mencari bantuan profesional

ilustrasi konseling (pexels.com/SHVETS production)

Masih banyak mahasiswa yang menganggap masalah mental sebagai hal sepele. Padahal, ketika perasaan tertekan sudah sulit dikendalikan, bantuan profesional sangat dibutuhkan. Konselor atau psikolog dapat membantu memahami masalah dengan sudut pandang yang lebih objektif.

Mencari bantuan bukan tanda kelemahan. Sebaliknya, ini menunjukkan keberanian untuk peduli pada diri sendiri. Dengan dukungan yang tepat, mahasiswa dapat kembali menjalani perkuliahan dengan lebih sehat secara mental.

Menjaga kesehatan mental mahasiswa adalah proses yang membutuhkan kesadaran dan komitmen jangka panjang. Tekanan akademik memang tidak bisa dihindari, tetapi cara menyikapinya dapat dikendalikan. Dengan menerapkan langkah-langkah di atas secara konsisten, mahasiswa dapat menjalani masa kuliah dengan lebih seimbang dan bermakna, sekaligus menjaga kualitas hidupnya dengan lebih baik.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team