Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
6 Novel Kopi Antimainstream, dari Time Travel hingga Misteri
ilustrasi buku dan kopi (unsplash.com/Sincerely Media)
  • Enam novel menempatkan kopi sebagai elemen cerita antimainstream, dari portal perjalanan waktu dan kehidupan alternatif hingga medium menghadapi masa lalu serta pencarian arah hidup.
  • Before the Coffee Gets Cold dan Tales from the Café menghadirkan kafe Tokyo yang memungkinkan pelanggan kembali ke masa lalu, dengan batas waktu sebelum kopi mendingin.
  • Rekomendasi lain mengeksplorasi kopi sebagai komoditas penuh spekulasi, kedai misterius berkucing astrolog, latar penyelidikan kriminal, dan pintu menuju kota ideal.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kopi biasanya hadir dalam novel sebagai sesuatu yang sederhana. Teman begadang, teman ngobrol, atau properti romantis di sebuah kedai. Namun, sejumlah penulis justru menjadikan kopi sebagai pintu menuju sesuatu yang jauh lebih liar—perjalanan waktu, takdir, kriminalitas, kapitalisme, bahkan pertanyaan tentang kehidupan yang seharusnya kita jalani. Hasilnya bukan sekadar cerita tentang orang yang suka ngopi, melainkan fiksi yang membuat secangkir kopi memiliki fungsi naratif yang takbiasa.

Kalau kamu bosan dengan cerita yang menjadikan coffee shop hanya sebagai tempat bertemunya dua tokoh yang kemudian jatuh cinta, tujuh bacaan berikut bisa menjadi alternatif. Beberapa benar-benar berpusat pada kopi, sementara lainnya menggunakan dunia komoditas, kedai, alam, atau perjalanan sebagai pintu masuk ke persoalan yang lebih besar. Dari kafe yang dapat membawa seseorang ke masa lalu hingga kedai yang dikelola kucing-kucing yang membaca astrologi. Inilah rekomendasi buku untuk pencinta kopi yang juga menyukai cerita antimainstream. Cek, yuk!

1. Before the Coffee Gets Cold karya Toshikazu Kawaguchi

cover buku Before the Coffee Gets Cold (amazon.com)

Bayangkan sebuah kafe kecil di Tokyo yang memiliki kursi misterius. Siapa pun yang duduk di sana dapat kembali ke masa lalu dan bertemu seseorang yang ingin ditemuinya. Namun, ada aturan yang membuat konsep perjalanan waktunya terasa berbeda; yaitu pengunjung harus kembali sebelum kopi di cangkirnya dingin. Toshikazu Kawaguchi menjadikan secangkir kopi sebagai semacam pengukur waktu bagi manusia. Situs resmi Amazon menyebut novel ini memang berawal sebagai drama panggung sebelum berkembang menjadi fenomena internasional.

Yang membuat premis ini menarik bukan sekadar kemampuan kembali ke masa lalu, melainkan keterbatasannya. Masa lalu tidak serta-merta dapat diperbaiki hanya karena seseorang diberi kesempatan untuk mengunjunginya. Karena itu, kopi dalam cerita berfungsi lebih dari sekadar minuman. Ia menjadi batas antara kesempatan dan kehilangan, antara keinginan manusia untuk mengulang sesuatu dan kenyataan bahwa waktu tetap berjalan. Kalau kamu menyukai cerita magical realism yang sederhana tetapi menyimpan pertanyaan eksistensial, novel ini layak masuk daftar bacaanmu.

2. Tales from the Café karya Toshikazu Kawaguchi

cover buku Tales from the Café (amazon.co.uk)

Masih berada di semesta Before the Coffee Gets Cold, novel ini kembali membawa pembaca ke Funiculi Funicula, sebuah kafe di gang Tokyo yang konon menawarkan kesempatan untuk melakukan perjalanan waktu. Kali ini, empat pelanggan datang dengan harapan dapat kembali ke momen tertentu bersama keluarga, teman, atau orang yang mereka cintai. Penerbit menjelaskan bahwa setiap pengunjung harus menghadapi masa lalu sebelum dapat melanjutkan kehidupannya.

Menariknya, formula tersebut membuat kopi memiliki fungsi yang hampir metafisik. Secangkir kopi bukan lagi sekadar objek konsumsi, tetapi medium yang mempertemukan manusia dengan sesuatu yang sudah berlalu. Jika buku pertamanya membuat kita bertanya apa yang akan dilakukan apabila bisa kembali ke masa lalu, Tales from the Café memperluas pertanyaan itu menjadi bagaimana seseorang hidup setelah akhirnya berhadapan dengan masa lalu. Cocok untuk pembaca yang menyukai fiksi lembut, melankolis, dan reflektif.

3. The Coffee Trader karya David Liss

cover buku The Coffee Trader (amazon.com)

Kalau dua novel sebelumnya membawa kopi ke wilayah waktu dan perasaan, David Liss mengambil arah yang jauh lebih ekonomis. The Coffee Trader berlatar Amsterdam pada 1659 dan mengikuti Miguel Lienzo, seorang pedagang yang kehilangan kekayaan dan reputasinya. Ia kemudian terlibat dalam sebuah rencana berisiko untuk menguasai pasar komoditas baru yang sedang muncul di Eropa—kopi. Penerbitnya bahkan menggambarkan novel ini sebagai kisah historical financial thriller.

Premis tersebut membuat kopi tampil sebagai sesuatu yang sama sekali berbeda dari citra kedai yang hangat dan nyaman. Di tangan Liss, kopi menjadi komoditas yang berkaitan dengan uang, spekulasi, ambisi, pengkhianatan, dan perebutan kekuasaan. Karena itu, novel ini menarik bagi pembaca yang ingin melihat bagaimana sebuah komoditas sederhana dapat menjadi pusat konflik manusia. Secangkir kopi yang kita minum hari ini ternyata dapat memiliki sejarah ekonomi yang jauh lebih rumit daripada yang terlihat.

4. The Full Moon Coffee Shop karya Mai Mochizuki

cover buku The Full Moon Coffee Shop (amazon.com)

Ini mungkin salah satu konsep paling nyentrik dalam daftar. The Full Moon Coffee Shop bercerita tentang kedai kopi misterius yang tidak memiliki lokasi maupun jam buka tetap. Kedai tersebut dapat muncul secara acak dan dijalankan oleh kucing-kucing yang bisa berbicara. Para pengunjung menikmati kopi dan makanan penutup, sementara kucing-kucing itu membaca peta astrologi untuk membantu mereka memahami di mana kehidupan mereka mulai melenceng dari jalur.

Formula tersebut mempertemukan kopi, astrologi, kucing, takdir, dan magical realism dalam satu ruang. Yang menarik, para pengunjungnya bukan orang-orang yang sedang mencari kopi terbaik, melainkan manusia yang merasa kehilangan arah dalam hidup. Novel ini pertama kali diterbitkan dalam bahasa Inggris pada 2024 dan merupakan terjemahan dari novel Jepang karya Mai Mochizuki. Kalau konsep coffee shop biasa terasa terlalu realistis, buku ini menawarkan kemungkinan yang jauh lebih imajinatif.

5. The Coffeehouse Mysteries karya Cleo Coyle

cover buku On What Grounds serial pertama dari The Coffeehouse Mysteries (amazon.com)

Bagaimana kalau coffee shop bukan tempat orang jatuh cinta, melainkan tempat orang menemukan mayat? Itulah premis dasar seri The Coffeehouse Mysteries karya Cleo Coyle. Ceritanya berpusat pada Village Blend, kedai kopi bersejarah di Greenwich Village, New York, serta Clare Cosi, manajer sekaligus peracik kopi yang kerap terlibat dalam penyelidikan kasus kriminal. Menurut situs resmi Amazon, seri ini merupakan amateur sleuth murder mystery yang memadukan misteri dengan dunia kopi dan kuliner.

Seri ini menarik, karena pengetahuan tentang kopi benar-benar menjadi bagian dari dunia ceritanya, bukan sekadar dekorasi. Bahkan buku-bukunya juga menyertakan resep makanan dan minuman yang muncul dalam cerita. Seri tersebut dimulai dengan On What Grounds pada 2003 dan telah berkembang menjadi puluhan judul; situs penulis mencatat adanya rilisan baru pada 2026. Bagi pencinta kopi yang juga menikmati cozy mystery, kombinasi aroma kopi dan kasus pembunuhan ini jelas punya daya tarik tersendiri.

6. The Time Hop Coffee Shop karya Phaedra Patrick

cover buku The Time Hop Coffee Shop (amazon.com)

Kedai kopi kembali menjadi ruang yang tidak biasa dalam novel Phaedra Patrick ini. Tokoh utamanya, Greta Perks, pernah menjadi bintang iklan kopi yang terkenal. Ketika kehidupannya mulai berantakan, ia menemukan kedai kopi misterius yang menyajikan minuman ajaib. Setelah membuat sebuah keinginan, Greta justru terbangun di Mapleville, sebuah kota ideal seperti dunia dalam iklan yang pernah membuatnya terkenal.

Premisnya kemudian berkembang menjadi pertanyaan yang cukup menarik. Bagaimana jika manusia benar-benar mendapatkan kehidupan sempurna yang selama ini diinginkannya? Novel ini menggunakan magical realism untuk mempertemukan fantasi, identitas, keluarga, nostalgia, dan keinginan manusia terhadap kesempurnaan. The Time Hop Coffee Shop terbit pada 2025 dan secara resmi dikategorikan sebagai magical realism dan contemporary fantasy. Jadi, kalau Before the Coffee Gets Cold menjadikan kopi sebagai pintu menuju masa lalu, buku ini menggunakan kopi sebagai pintu menuju kehidupan yang tampak sempurna.

Kopi ternyata bisa menjadi jauh lebih liar daripada sekadar minuman pendamping membaca buku. Dalam fiksi, ia dapat menjadi jam yang mengukur waktu, tiket menuju masa lalu, komoditas yang menggerakkan spekulasi, medium untuk membaca takdir, bahkan pintu menuju kehidupan alternatif. Di tangan penulis yang tepat, coffee shop pun dapat berubah menjadi ruang kriminal, ruang magis, atau ruang tempat seseorang mempertanyakan hidupnya sendiri.

Barangkali itulah yang membuat kopi menarik sebagai objek sastra. Ia adalah benda yang sangat sehari-hari, tetapi mempunyai sejarah, ekonomi, budaya, ritual, dan ingatan yang panjang. Secangkir kopi bisa menjadi sangat biasa di meja pagi ini, tetapi dalam novel, benda yang sama dapat menjadi portal menuju masa lalu, masa depan, dunia lain, atau bahkan versi diri yang tidak pernah kita kenal.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article