5 Buku Favorit Bella Hadid yang Membentuk Cara Pandangnya

- Our Women on the Ground — Zahra Hankir: Kisah jurnalis perempuan Arab yang personal dan emosional, membuka ruang empati dan pemahaman tentang realitas yang kompleks.
- Valley of the Dolls — Jacqueline Susann: Kritik terhadap budaya ketenaran, menggerus identitas seseorang tanpa kesadaran diri.
- Breakfast at Tiffany’s — Truman Capote: Kompleksitas karakter Holly Golightly yang kuat namun rapuh di dalam, menjadi pengingat bahwa tidak semua hal indah memiliki fondasi yang kokoh.
Di balik sorotan kamera dan kehidupan glamor sebagai supermodel, Bella Hadid dikenal sebagai sosok yang cukup reflektif. Ia kerap membagikan pandangannya tentang realitas dunia yang sering kali tidak terlihat dari luar. Salah satu hal yang ikut membentuk cara berpikirnya adalah buku-buku yang ia baca.
Pilihan bacaan Bella Hadid cukup beragam, mulai dari kisah jurnalisme perempuan hingga buku spiritual dan memoar yang penuh luka. Buku-buku ini tidak hanya menghibur, tetapi juga membantu membangun cara pandang yang lebih dalam terhadap hidup. Berikut lima buku favorit Bella Hadid yang memberi warna pada cara ia melihat dunia.
1. Our Women on the Ground — Zahra Hankir

Buku ini berisi kumpulan cerita dari jurnalis dan fotografer perempuan Arab yang melaporkan konflik di wilayah mereka sendiri. Tidak seperti laporan media Barat yang terasa berjarak, kisah-kisah dalam buku ini terasa sangat personal dan emosional. Para penulisnya tidak hanya meliput perang, tetapi juga hidup di dalamnya menghadapi dampaknya secara langsung.
Bagi Bella Hadid, yang memiliki akar budaya Timur Tengah, buku ini terasa relevan secara emosional. Our Women on the Ground membantu membuka ruang empati dan pemahaman tentang bagaimana perempuan mengambil peran penting dalam menceritakan realitas yang kompleks. Buku ini menunjukkan bahwa suara perempuan sangat penting dalam membentuk narasi tentang dunia.
2. Valley of the Dolls — Jacqueline Susann

Valley of the Dolls adalah novel klasik yang membedah sisi gelap industri hiburan melalui kisah tiga perempuan yang mengejar mimpi di New York. Di balik kesuksesan dan ketenaran, mereka justru terjebak dalam kesepian serta tekanan untuk terus tampil sempurna. Ceritanya terasa glamor di permukaan, tapi penuh kehancuran di dalam.
Buku ini sering dibaca sebagai kritik terhadap budaya ketenaran, sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan Bella Hadid. Novel ini menggambarkan bagaimana dunia hiburan bisa menggerus identitas seseorang jika tidak disertai kesadaran diri. Lewat kisah ini, terlihat bahwa popularitas tidak selalu berjalan seiring dengan kebahagiaan.
3. Breakfast at Tiffany’s — Truman Capote

Novel pendek ini memperkenalkan Holly Golightly, sosok ikonik yang tampak glamor dan penuh pesona di New York tahun 1940-an. Namun di balik kepribadiannya yang ceria dan eksentrik, Holly menyimpan rasa kesepian dan ketidakpastian tentang siapa dirinya sebenarnya. Cerita ini terasa ringan, tetapi menyimpan lapisan emosi yang dalam.
Bella Hadid tampaknya tertarik pada kompleksitas karakter Holly yang tidak mudah ditebak. Buku ini memperlihatkan bagaimana seseorang bisa terlihat kuat dan memesona, namun tetap rapuh di dalam. Breakfast at Tiffany’s menjadi pengingat bahwa tidak semua hal indah memiliki fondasi yang kokoh.
4. The Power of Now — Eckhart Tolle

Berbeda dari novel dan memoar, The Power of Now adalah buku spiritual yang berfokus pada kesadaran akan momen saat ini. Eckhart Tolle mengajak pembaca melepaskan ego, kecemasan masa lalu, dan ketakutan akan masa depan. Bahasanya sederhana, tetapi pesan yang dibawanya cukup menantang untuk dipraktikkan.
Bagi Bella Hadid yang terbuka soal perjuangannya dengan kesehatan mental, buku ini menjadi semacam pegangan. The Power of Now menawarkan cara untuk lebih hadir dan berdamai dengan diri sendiri. Buku ini tidak menjanjikan solusi instan, tetapi memberi alat untuk memahami pikiran dan emosi dengan lebih jernih.
5. A Million Little Pieces — James Frey

Buku ini menceritakan perjuangan seorang pria melawan kecanduan narkoba dan alkohol dalam proses rehabilitasi yang brutal. Gaya penulisannya intens dan emosional, membuat pembaca seolah ikut merasakan kekacauan batin sang tokoh utama. Meski kemudian terungkap bahwa sebagian kisahnya direkayasa, dampak emosional buku ini tetap kuat.
Bella Hadid tampaknya tertarik pada kejujuran emosional yang ditawarkan buku ini, terlepas dari kontroversinya. A Million Little Pieces menggambarkan rasa sakit, penyesalan, dan usaha untuk bangkit dari titik terendah. Buku ini menegaskan bahwa proses penyembuhan tidak pernah rapi, dan setiap orang punya jalannya sendiri.
Bacaan-bacaan ini tidak hanya mencerminkan seleranya, tetapi juga membentuk cara pandang Bella Hadid terhadap dunia yang penuh tekanan dan kontradiksi. Dari semua buku tersebut, mana yang paling membuat kamu penasaran untuk dibaca lebih dulu?











.jpg)






