Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ratu Elizabeth II saat kunjungannya ke HMS Ocean di Devonport 20 Maret 2015 (Joel Rouse/ Ministry of Defence, OGL 3, via Wikimedia Commons)
Ratu Elizabeth II saat kunjungannya ke HMS Ocean di Devonport 20 Maret 2015 (Joel Rouse/ Ministry of Defence, OGL 3, via Wikimedia Commons)

Intinya sih...

  • ‘The No. 1 Ladies’ Detective Agency’ karya Alexander McCall Smith

  • ‘Jeeves and Wooster’ karya P.G. Wodehouse

  • ‘Miss Marple series’ karya Agatha Christie

  • Seri detektif ringan favorit Ratu Elizabeth II, menawarkan cerita hangat dan humanis tanpa kebrutalan, cocok sebagai comfort read.

  • Karya humor klasik Inggris yang ringan, satir, dan penuh dialog cerdas, menawarkan hiburan tanpa beban.

  • Seri Miss Marple dengan pendekatan detektif yang mengandalkan kecerdikan dan intuisi, fokus pada pengamatan manusia dan motif sosial.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Ratu Elizabeth II dikenal sebagai pembaca setia yang menjadikan buku sebagai bentuk hiburan pribadi, jauh dari sorotan publik. Di sela tugas kenegaraan, ia kerap membaca sebelum tidur dan saat liburan. Pilihan bacaan sang Ratu cenderung stabil dan konsisten: cerita dengan alur kuat, karakter jelas, dan tidak terlalu eksperimental. Ia menyukai buku yang menghibur tanpa perlu terlalu emosional atau politis. Dari kebiasaannya membaca, terlihat selera yang tenang, klasik, dan rapi.

1. ‘The No. 1 Ladies’ Detective Agency’ karya Alexander McCall Smith

‘The No. 1 Ladies’ Detective Agency’ karya Alexander McCall Smith (penguinrandomhouse.com)

Seri detektif ringan ini disebut sebagai salah satu bacaan favorit Ratu Elizabeth II. Ceritanya mengikuti Precious Ramotswe, detektif perempuan di Botswana, dengan pendekatan yang hangat dan humanis. Kasus-kasusnya tidak brutal, lebih menekankan empati dan observasi sosial. Gaya ceritanya tenang dan konsisten, cocok dengan selera bacaan sang Ratu. Buku ini sering dianggap sebagai comfort read.

2. ‘Jeeves and Wooster’ karya P.G. Wodehouse

‘Jeeves and Wooster’ karya P.G. Wodehouse (amazon.com)

Ratu Elizabeth II dikenal menyukai humor klasik Inggris, dan karya P.G. Wodehouse termasuk favoritnya. Cerita-cerita ini ringan, satir, dan penuh dialog cerdas. Tokoh Jeeves dan Wooster merepresentasikan humor kelas atas Inggris yang rapi dan tidak agresif. Bacaan ini menawarkan hiburan tanpa beban. Cocok untuk relaksasi setelah hari yang panjang.

3. ‘Miss Marple series’ karya Agatha Christie

‘Miss Marple series’ karya Agatha Christie (amazon.com)

Agatha Christie adalah salah satu penulis favorit Ratu Elizabeth II. Seri Miss Marple, dengan pendekatan detektif yang mengandalkan kecerdikan dan intuisi, sangat sesuai dengan seleranya. Ceritanya fokus pada pengamatan manusia dan motif sosial. Tidak terlalu gelap, tetapi tetap penuh misteri. Buku-buku ini sering dibaca ulang.

4. ‘Sherlock Holmes series’ karya Arthur Conan Doyle

‘Sherlock Holmes series’ karya Arthur Conan Doyle (penguinrandomhouse.com)

Karya klasik detektif ini juga termasuk bacaan yang disukai sang Ratu. Alurnya rapi, logis, dan sangat khas sastra Inggris. Cerita Sherlock Holmes menawarkan teka-teki intelektual tanpa drama berlebihan. Buku ini mencerminkan ketertarikan pada ketertiban dan kecerdasan. Bacaan klasik yang tak lekang waktu.

5. ‘The Lord of the Rings’ karya J.R.R. Tolkien

‘The Lord of the Rings’ karya J.R.R. Tolkien (amazon.com)

Ratu Elizabeth II diketahui menghargai karya sastra klasik Inggris, termasuk fantasi epik Tolkien. Dunia yang dibangun dengan detail dan struktur kuat menjadi daya tarik utama. Meski kompleks, ceritanya tetap jelas dan terarah. Buku ini mencerminkan selera terhadap narasi besar yang disiplin dan konsisten. Sebuah bacaan yang dihormati secara sastra.

Pilihan buku Ratu Elizabeth II menunjukkan selera yang tenang, terstruktur, dan berorientasi pada kenyamanan membaca. Ia tidak mencari bacaan yang provokatif, melainkan cerita yang stabil dan menghibur. Detektif klasik, humor Inggris, dan narasi yang rapi menjadi benang merah pilihannya. Dari kebiasaan membacanya, terlihat bagaimana buku menjadi ruang privat yang sederhana namun bermakna. Sebuah pengingat bahwa membaca bisa menjadi bentuk istirahat paling elegan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team