3 Buku Haemin Sunim yang Ampuh Redakan Overthinking

- Haemin Sunim, biksu Zen asal Korea, dikenal lewat karya-karyanya yang menenangkan dan relevan bagi Gen Z serta milenial dalam menghadapi tekanan hidup modern.
- Tiga bukunya—The Things You Can See Only When You Slow Down, Love for Imperfect Things, dan When Things Don’t Go Your Way—menawarkan panduan mindfulness, penerimaan diri, serta kekuatan dalam kerentanan.
- Melalui pesan spiritual yang ringan namun bermakna, Haemin mengajak pembaca menemukan ketenangan batin sebagai bentuk self-care di tengah hiruk pikuk dunia digital.
Kamu penggemar Haemin Sunim atau pernah membaca karya beliau? Gen Z dan milenial barangkali sudah gak asing lagi dengan penulis sekaligus Biksu Buddhisme Zen yang satu ini, Haemin Sunim. Haemin Sunim dikenal karena karya-karyanya yang dinilai mampu memberikan perspektif baru kepada pembaca dan membuat hati terasa lebih tenang di tengah hiruk pikuk dunia modern.
Buku beliau bukan sekadar bacaan populer, tapi bisa jadi teman bicara saat kita merasa struggle menghadapi ekspektasi dunia. Oh iya, tahun 2024 lalu, Haemin Sunim telah menyelenggarakan book tour pertamanya di Indonesia loh, tepatnya pada 14–18 November 2024. Lantas, apa saja karya beliau yang banyak memotivasi dan menginspirasi orang?
1. The Things You Can See Only When You Slow Down (2012)

Dari judulnya saja sudah menenangkan. Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti hal-hal yang hanya bisa kamu lihat ketika kamu memperlambat diri. Buku pertama Haemin Sunim ini menunjukkanmu cara untuk tetap tenang dan berkesadaran di tengah dunia yang serba cepat. Jelasnya, panduan untuk mencapai mindfulness. Penjualan buku ini terbilang fantastis loh, mencapai lebih dari tiga juta eksemplar di Korea dan berhasil meraih sejumlah penghargaan sebagai buku terbaik sepanjang masa.
Melalui buku ini, Haemin Sunim mengajak pembaca untuk merenungi dan memahami bahwa dunia berjalan sesuai dengan kesadaran kita. Jika kita bisa melambat, dunia pun akan melambat. Sebaliknya, jika pikiran kita terus terburu-buru dan penuh dengan kecemasan, dunia pun akan terasa seperti tempat yang melelahkan.
Buku ini dibagi menjadi 8 sub-bab yang memuat refleksi mendalam mengenai segala aspek kehidupan, yaitu Rest, Mindfulness, Passion, Relationship, Love, Life, The Future, dan Spirituality.
2. Love for Imperfect Things (2016)

Setelah buku pertama sukses menjadi best seller, Haemin Sunim tak lantas berhenti menulis. Beliau lalu melanjutkan buku keduanya berjudul Love for Imperfect Things. Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti cara mencintai ketidaksempurnaan. Judulnya saja sudah menarik, apalagi isinya dengan topik yang amat dekat dengan keseharian kita, yakni tentang penerimaan diri.
Buku ini mengajak pembaca untuk mencintai diri sendiri, orang lain, serta keadaan sekitar. Caranya? Dengan menerima segala kekurangan serta ketidaksempurnaan yang ada. Menurut Haemin, cara berpikir seseorang dalam menerjemahkan cinta akan mengubah pemaknaan orang itu terhadap cinta. Beliau menekankan bahwa cinta itu bukan tentang menemukan sesuatu hal yang sempurna, melainkan tentang belajar melihat ketidaksempurnaan dengan cara yang indah.
Love for Imperfect Things berbentuk esai pendek yang relevan dengan kehidupan sehari-hari manusia. Buku ini dibagi menjadi 8 sub-bab, yakni Self-Care, Family, Empathy, Relationships, Courage, Healing, Enlightenment, dan Acceptance.
3. When Things Don’t Go Your Way (2024)

When Things Don’t Go Your Way adalah buku ketiga Haemin Sunim yang berisi tentang panduan Zen saat menghadapi masa-masa sulit. Dalam buku ini, Haemin Sunim menyajikan sudut pandang spiritual yang segar yang mendorong kita untuk berdamai dengan kerentanan. Ketika seseorang mampu menerima kerentanan dirinya, ia akan dapat mengubah tantangan hidup menjadi peluang untuk bertumbuh dan mengenal diri sendiri lebih dalam.
Hidup gak selalu memberikan apa yang kita inginkan, kan. Adakalanya kita menghadapi konflik, penolakan, ketidakpastian, dan kelelahan. Nah, When Things Don’t Go Your Way hadir untuk mengingatkan bahwa di balik setiap kesulitan, selalu ada ruang untuk menemukan ketenangan.
Kalau kamu lagi ada di titik rendah atau mengalami konflik batin, buku ini bisa jadi teman dalam membantu proses pemulihanmu. Mengapa? Karena cerita yang disajikan dalam buku ini amat bermakna tanpa terkesan berat. Cerita dikemas sedemikian rupa sehingga membuat pembaca merasa didampingi.
Ketiga buku ini cocok nih untuk gen z dan milenial yang kerap terpapar pressure di media sosial dan lingkungan sekitar. Membaca buku karya Haemin Sunim bisa jadi bentuk self-care loh. Jadi, dari ketiga buku tersebut, mana yang paling menggambarkan kondisi kamu saat ini? Apakah kamu perlu memperlambat diri, belajar mencintai kekurangan, atau menemukan kekuatan dalam kerentanan untuk bisa kembali bangkit?