Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Buku Nonfiksi Interdisipliner yang Berdaging meski Setipis Tisu

5 Buku Nonfiksi Interdisipliner yang Berdaging meski Setipis Tisu
rekomendasi buku tipis interdisipliner (Making Space tulisan Matrix, Heroes karya Franco Berardi, dan Hyperpolitics karya Anton Jager, ketiganya diterbitkan Verso Books)

Punya target baca buku nonfiksi lebih banyak tahun ini? Coba tambah variasi bacaanmu dengan melirik buku-buku sains populer yang pakai prinsip interdisipliner, yakni menggabungkan beberapa konsep dari disiplin ilmu berbeda. Ini bisa jadi variasi di antara tumpukan buku self-help di rak.

Bayangkan kaitan antara teknologi dan politik, ekonomi dengan lingkungan, atau bahkan arsitektur dengan feminisme. Sekilas tak punya relasi langsung, tetapi ternyata ada benang merah yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaanmu selama ini. Silakan cek lima rekomendasi buku interdisipliner yang bisa membantu memenuhi targetmu tahun ini. Siapa tahu ada yang menarik hati.

1. Making Space: Women and the Man Made Environment (Matrix)

Making Space: Women and the Man Made Environment Matrix
Making Space: Women and the Man Made Environment (Making Space tulisan Matrix diterbitkan Verso Books)

Making Space adalah buku yang mengulas bukti-bukti bagaimana arsitektur kota ternyata didesain tanpa pertimbangan perempuan. Salah satu faktornya adalah persepsi patriarki yang menganggap tempat perempuan hanya rumah.

Buku ini diterbitkan pertama kali pada 1984 oleh sebuah kolektif feminis yang menyebut diri mereka Matrix dan masih terasa relevan sampai sekarang. Penggemar studi arsitektur dan feminisme harus baca, sih. Matrix membagi buku ini dalam beberapa bab yang cukup detail menganalisis beberapa bangunan publik di Inggris Raya.

2. Anthropocene Communism: Land and Capital in the Age of Disaster (Paul Guillibert)

Anthropocene Communism Paul Guillibert
Anthropocene Communism (Anthropocene Communism karya Paul Guillibert terbitan Verso Books)

Krisis lingkungan yang kita saksikan secara nyata saat ini ternyata bisa dikupas dengan kacamata Marxisme. Ini yang dilakukan Paul Guillibert dalam buku Anthropocene Communism. Di sana, ia berargumen kalau konsep komunisme Marx bisa dipakai untuk menginisiasi revolusi kebijakan lingkungan tingkat global. Kalau selama ini kamu masih menganggap komunisme itu soal atheisme, coba baca buku ini buat dapat konteks yang lebih akurat dan luas, deh.

3. How Silicon Valley Unleashed Techno-feudalism: The Making of the Digital Economy (Cedric Durand)

How Silicon Valley Unleashed Techno-feudalism Cedric Durand
How Silicon Valley Unleashed Techno-feudalism (How Silicon Valley Unleashed Techno-feudalism karya Cedric Durand terbitan Verso Books)

Penasaran mengapa ekonomi digital yang awalnya menjanjikan demokratisasi, justru berkembang sebaliknya? Isu ini ternyata pernah dikupas oleh Cedric Durand dalam buku berjudul How Silicon Valley Unleashed Techno-feudalism. Durand menggunakan terma technofeudalism untuk menjelaskan fenomena ini, yakni ketika justru dihadapkan pada monopoli pasar oleh platform digital tertentu, sistem ekonomi subskripsi yang manipulatif, ketidakberdayaan kita akan data dan perlindungan privasi, sampai munculnya tokoh-tokoh yang dipuja bak dewa (terlepas dari berbagai kontroversi dan kontribusinya dalam monopoli kekayaan).

4. Heroes: Mass Murder and Suicide (Franco Berardi)

Heroes Franco Berardi
Heroes (Heroes karya Franco Berardi diterbitkan Verso Books)

Kapitalisme adalah sumber dari berbagai masalah yang muncul di hidup kita. Salah satu yang diulas Franco Berardi adalah kesehatan mental.

Dalam buku berjudul Heroes, Berardi mengulik kasus epidemik bunuh diri di Korsel sampai penembakan massal di Amerika Serikat. Dari dua kasus itu, ia bisa menarik satu kesimpulan yang bermuara pada sisi gelap kapitalisme atau, lebih spesifiknya, neoliberalisme. Penggemar studi psikologi, ekonomi, dan politik harus merapat, nih.

5. Hyperpolitics: Extreme Politicization without Political Consequences (Anton Jager)

Hyperpolitics Anton Jager
Hyperpolitics (Hyperpolitics karya Anton Jager diterbitkan Verso Books)

Sadarkah kamu kalau media makin progresif, tetapi kenyataan di lapangannya justru sebaliknya? Pemimpin dan parpol sayap kanan konservatif justru memenangkan pemilu di mana-mana. Tak ada pula kebijakan revolusioner yang mengarah ke pembangunan yang lebih baik dan beretika. Fenomena ini diulas Anton Jager dengan apik dalam buku Hyperpolitics. Ia menyindir media dan unit bisnis yang hanya memakai nilai progresif dan inklusif sebagai jargon untuk keperluan pemasaran belaka.

Cuma 100—200-an halaman saja, buku nonfiksi interdisipliner tadi bisa melancarkan targetmu baca lebih sering tahun ini. Tebalnya gak melebihi sekotak tisu travel pack, tetapi isinya padat dan mengena. Cocok buat pemula yang belum biasa baca nonfiksi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Naufal Al Rahman
EditorNaufal Al Rahman
Follow Us

Latest in Life

See More

7 Ide Baju Kurung Melayu untuk Lebaran, Brand Lokal Memikat!

28 Feb 2026, 12:17 WIBLife